ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

Skydrugz Radar 15 November 2021: KAEF, Perusahaan Tua

Kimia Farma atau KAEF merupakan salah satu perusahaan tertua yang masih berdiri hingga saat ini. Bayangkan saja, perusahaan ini berdiri sejak zaman Hindia Belanda di 1817. Lebih tua dari PTBA yang berdiri sejak 1919 dan BBRI yang berdiri di 1895.

Nama perusahaan ini pada awalnya adalah NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. Berdasarkan kebijaksanaan nasionalisasi atas eks perusahaan Belanda di masa awal kemerdekaan, pada tahun 1958, Pemerintah Republik Indonesia melakukan peleburan sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF (Perusahaan Negara Farmasi) Bhinneka Kimia Farma. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1971, bentuk badan hukum PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas, sehingga nama perusahaan berubah menjadi PT Kimia Farma (Persero). Pada tanggal 4 Juli 2001, PT Kimia Farma (Persero) kembali mengubah statusnya menjadi perusahaan publik, PT Kimia Farma (Persero) Tbk.

Tapi meskipun menjadi perusahaan farmasi tertua di Indonesia, KAEF hanyalah perusahaan kecil jika dibandingkan dengan perusahaan farmasi swasta seperti Kalbe Farma (KLBF).

Di tahun 2008 revenue KAEF 2,7 Triliun. Sedangkan di 2020 revenue nya menjadi 10 Triliun. Bandingkan dengan KLBF, di 2008 saja revenue mereka sudah 7,8 Triliun lalu berhasil cetak revenue 10 Triliun di 2010. Sedangkan di 2020, KLBF sudah berhasil mencetak revenue 23 Triliun, 2x lipat revenue KAEF. Jadi KAEF tertinggal 10 tahun jika dilihat dari sisi Revenue.

Karena menyadari kalau mereka tertinggal, akhirnya manajemen memutuskan mendirikan banyak pabrik dan mengakuisisi perusahaan farmasi. Tapi mereka tidak punya cukup duit. Jadi mereka memutuskan untuk mengambil banyak utang. Dan itu semua berawal dari 2016. Di tahun tersebut utang KAEF langsung lompat dari 325 miliar saja menjadi 822 milyar untuk membangun pabrik bahan baku. Di 2017, utang KAEF lompat lagi menjadi 2 Triliun karena mereka mau merampungkan pabrik di Banjaran. Di 2018 utang KAEF lompat lagi menjadi 4 Triliun. Di 2019, utang terbang lagi menjadi 8,2 Triliun. Dan di 2020 akhirnya, KAEF melakukan deleverage alias mengurangi utang menjadi sisa 7,7 Triliun.

Di 2016 beban bunga hanya 60 milyar, begitu 2020 menjadi 596 milyar rupiah. Dalam 5 tahun, beban bunga nyaris ten bagger. Jadi bisa dikatakan kalau dalam 5 tahun terakhir, KAEF sedang dalam mode ekspansif, utang sana – sini, semua demi pertumbuhan masa depan.

Tapi utang mereka sudah mulai out of hand. Terakhir kali mereka mencetak laba super tinggi terjadi di 2018. Ketika itu laba mereka adalah 402 milyar, utang berbunga 4 Triliun, beban bunga 190 milyar, DER 1,9 dan mereka mulai mengalami kesulitan mengubah modal kerja menjadi arus kas. Biasanya mereka selalu bisa mengubah modal kerja menjadi arus kas dalam jangka waktu kurang dari 3 bulan. Di 2018, piutang mulai banyak yang telat ditagih karena efek BPJS dan banyak ekspansi pabrik tapi belum produktif.

Di 2016, aset tetap mereka hanya 1 Triliun. Begitu di 2020, aset tetap mereka langsung 9 Triliun.

Menurut saya ada 3 sumber growth KAEF di masa depan yakni:

  • Pertama, utilisasi pabrik 100%. Saat ini sumber revenue utama KAEF adalah jualan obat dari prinsipal lain. Segmen manufaktur mereka masih rendah.
  • Kedua, pangsa pasar ekspor. Saat ini 90% revenue KAEF adalah jualan lokal. Tapi dengan akuisisi Kimia Farma Dawaa, ada potensi penjualan ekspor di masa depan.
  • Ketiga, insentif farmasi. Perusahaan farmasi yang membangun pabrik bahan baku akan mendapatkan insentif pajak dan lain – lain. Selama ini 90% bahan baku obat Indonesia berasal dari impor. Dan KAEF sedang on progress membangun pabrik bahan baku obat.

Dulu ketika KLBF sedang masa ekspansif seperti KAEF, utang mereka juga menggunung. Bahkan ketika kena hantam krisis 1998, nyaris saja KLBF dilego. Di periode tersebutnilai tukar rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat. Rupiah yang kala itu di Rp 3.000 per dollar AS terbang hingga Rp 15.000. Sebagai produsen obat, Kalbe menghadapi tantangan berat lantaran bahan baku obat harus impor. Biaya impor naik berlipat-lipat. Masalahnya, saat yang sama, menaikkan harga obat jelas tak mungkin. Resesi membuat daya beli masyarakat melemah. Apalagi, pada saat sama,  perusahaan ini juga harus menghadapi masalah yakni tagihan utang yang naik berlipat-lipat lantaran kenaikan dollar AS. Kreditur minta utang dibayar. Tapi waktu itu semua orang juga lagi kesulitan duit dan tidak ada yang mau beli Kalbe dari dr. Boenjamin Setiawan. Dan akhirnya Kalbe carry on. Dari perusahan dengan Utang Triliunan yang nyaris bangkrut, menjadi perusahaan yang cash rich. Du 2008 dan 2020 ketika terjadi krisis lagi, Kalbe sudah menjadi perusahaan yang jauh berbeda dengan Kalbe 1998. Mereka punya banyak cadangan kas dan semua pabrik yang mereka bangun sudah menjadi mesin kas perusahaan. Menjadi perusahaan farmasi mustahil jika tidak memiliki pabrik dan saluran distribusi yang mumpuni. Dan untuk bisa meraih kedua hal tersebut, tentu butuh banyak modal besar. Tidak mungkin produksi obat secara digital.

Dan menurut saya KAEF sedang berada di fase ekspansif with high leverage seperti KLBF dulu. Tinggal lihat kehandalan manajemen. Apakah bisa menyulap semua adversities menjadi keunggulan atau malah tenggelam bersama tumpukan utang.

Karena rasanya mustahil membayar semua utang sekaligus, maka nampaknya KAEF akan melakukan right issue. Rencana right issue sudah disetujui oleh RUPS.

Melihat kepemilikan saham perusahaan yang hanya 10% dikuasai oleh publik maka nampaknya Biofarma tidak akan menebus semua right issue. Ada kemungkinan sebagian right akan ditransfer ke investor lain.

Skydrugz Bot Radar 15 November 2021

Project Akumulasi November 2021:

Skydrugz Project November 2021

 

Saham PBV PER PLAN Harga
TOWR 5.67 17,74 Bid 1170, 1155, 1145, 1135, 1125, 1115, 995 1175
KBLI 0,52 23,87 Bid 290, 288, 286 294
PTBA 1,49 4.86 Bid 2640, 2620, 2600 2660
MIKA 6,13 26,87 Bid 2210, 2190, 2170 2250
KAEF 1,94 118 Bid 2450 (setelah punya barang, stop buy. Tunggu kabar RI) 2450

Guidelines untuk menggunakan Radar cek di sini

Saham entry baru di Radar adalah KAEF. Ini spekulasi menunggu right issue. Menurut estimasi saya, right issue akan dilakukan di kisaran harga 1000-1300.

Jika ingin mendapatkan data analisis Laporan Keuangan Kuartalan bisa pesan di sini atau menghubungi Whatsapp Admin Pintarsaham.id +62 831-1918-1386

Untuk konsultasi perencanaan keuangan atau Financial Planning dari Certified Financial Planner Tim Pintarsaham.id bisa juga melakukan reservasi via Whatsapp +62 831-1918-1386

Bila ingin mendaftar menjadi member Pintarsaham.id bisa ke link ini atau hubungi Admin Pintarsaham.id via WA +62 831-1918-1386 atau dengan Buka rekening saham di Sucor Sekuritas di sini dengan menggunakan referal TIRA2. Sedangkan jika ingin Trading Kripto bisa daftar di sini

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Disclaimer :

Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.