Saturday, April 18, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightRights Issue WIFI

Rights Issue WIFI

Kalau kita bahas rights issue-nya PT Solusi Sinergi Digital Tbk alias WIFI per 7 Juli 2025, rasanya kayak lagi ngupas satu proyek tambah modal paling nekat, paling optimis, dan paling bikin mikir keras dalam sejarah emiten infrastruktur digital. Gimana enggak, dengan modal ekuitas cuma Rp969 miliar per akhir 2024, mereka mau nerbitin saham baru senilai Rp5,898 triliun.

Artinya jumlah sahamnya bakal naik lebih dari dua kali lipat, dan kalau semua rights-nya ditebus, duit yang masuk bakal 6 kali lebih besar dari seluruh ekuitas perseroan yang ada hari ini. Ini bukan rights issue kaleng-kaleng. Ini semacam transformasi struktural besar-besaran, tapi seperti biasa, sukses atau enggak ya semua balik lagi ke eksekusi dan realisasi lapangan.

Model rights issue-nya cukup agresif. Rasio 4 banding 5 artinya kalau kita punya 4 saham lama, dapat jatah beli 5 saham baru di harga Rp2.000 per lembar. Kalau nggak tebus, siap-siap porsi kepemilikan kita bakal terdilusi sampai 55,56 persen. Sakit? Iya. Tapi nggak ditebus juga berarti kita makin kecil suaranya dan makin dikit bagian dari upside kalau ada.

Untungnya pemegang saham mayoritas yaitu PT Investasi Sukses Bersama yang dikendalikan oleh Hashim Djojohadikusumo, adik kandung Presiden Prabowo, sudah komit buat tebus semua jatahnya. Nilainya nggak main-main, Rp2,97 triliun. Ada juga Ibu Tinawati, yang walaupun porsinya cuma 0,29 persen tetap ikut full tebusan sebesar Rp16,8 miliar. Jadi kelihatannya manajemen serius dan nggak main-main soal ekspansi ini.

Tapi uangnya mau dipakai buat apa sih? Jawabannya adalah proyek Internet Murah. Target mereka mau pasang jaringan fiber FTTH untuk 5 juta homepass di Pulau Jawa. Produk internet 200 Mbps seharga Rp100.000 per bulan. Kalau semua terkonversi jadi pelanggan aktif, potensi revenue bruto mereka bisa tembus Rp6 triliun per tahun.

Tapi ya itu tadi, nggak ada jaminan bahwa semua homepass langsung jadi pelanggan. Biasanya di dunia nyata, take-up rate-nya ya 40 sampai 60 persen kalau bagus. Artinya kita pasang jaringan ke 5 juta rumah, tapi paling cuma 2 sampai 3 juta rumah yang beneran pasang WiFi dan bayar tiap bulan. Sisanya bisa jadi nunggak, pindah provider, atau ya emang nggak tertarik.

Kalau pakai asumsi optimistis banget, 5 juta pelanggan penuh, ARPU tetap Rp100 ribu, margin EBITDA sekitar 30 persen, maka EBITDA tahunan bisa tembus Rp1,6 triliun. Dengan beban bunga pinjaman luar negeri dari Export Development Canada sekitar Rp70 sampai 100 miliar per tahun, proyek ini bisa dibilang layak secara finansial. Tapi lagi-lagi semua balik ke eksekusi. Salah desain, salah pricing, atau rollout molor, dan semua asumsi ini langsung hancur berantakan. Apalagi kalau persaingan dari pemain lama seperti Indihome TLKM, EXCL, Biznet, Iconnet, sampai Astinet makin gila-gilaan banting harga.

Dari sisi keuangan, sebelum rights issue, perusahaan punya aset Rp2,907 triliun, liabilitas Rp1,937 triliun, dan ekuitas Rp969 miliar. Rasio utang terhadap ekuitas DER masih tinggi di angka 2,0 kali. Tapi begitu duit rights masuk semua, ekuitas jadi melonjak ke sekitar Rp6,9 triliun. DER turun drastis ke 0,28 kali. Jadi dalam sekali aksi, struktur keuangan mereka berubah total. Bisa dibilang ini bukan rights issue buat nutup utang, tapi justru buat bersih-bersih neraca supaya kuat buat ekspansi besar.

Tapi di balik semua itu, dilusi EPS jadi masalah nyata. Soalnya jumlah saham naik 2,25 kali. Jadi kalau laba bersihnya tetap segitu-segitu aja, maka EPS langsung amblas 60 persen. Artinya kita yang nggak ikut tebus rights akan lihat nilai saham makin nggak efisien secara pendapatan.

Sekarang kita lihat dari kacamata investor. Misalnya kita beli saham WIFI di harga murah banget, kayak Rp300 atau Rp1.000. Saat ini harga sahamnya sudah naik ke kisaran Rp2.030, naik 360 persen dari awal tahun. Kalau kita tebus rights-nya di Rp2.000, average cost kita bakal naik, tapi masih tetap jauh di bawah harga pasar.

Contohnya, modal Rp1.000, kalau ditebus penuh, average-nya jadi Rp1.556. Masih aman banget. Bahkan yang masuk di Rp300, average-nya abis tebus cuma sekitar Rp1.244. Cuan lebar banget. Jadi kita bisa tebus rights dengan tenang, lalu jual sebagian buat ngunci untung, sisanya di-hold kalau memang percaya proyeknya bakal jalan.

Tapi buat yang masuk mahal, misalnya Rp2.100 atau bahkan Rp2.600, situasinya agak pelik. Modal Rp2.100, kalau rights ditebus penuh, average-nya turun jadi sekitar Rp2.044. Masih di atas harga pasar, tapi nggak jauh. Cuma perlu nunggu momentum breakout untuk balik modal. Tapi kalau masuk di Rp2.600, average cost-nya abis tebus masih Rp2.267.

Artinya masih nyangkut. Kalau kita percaya sama eksekusi manajemen dan sabar tunggu proyek jalan minimal 1 sampai 2 tahun, mungkin masih worth it. Tapi kalau nggak yakin dan cash flow kita sempit, lebih baik pertimbangkan jual haknya aja, atau bahkan cut loss sekalian sebelum keburu tenggelam lebih dalam.

Tambahan satu hal lagi yang sering jadi pertanyaan, soal faktor keluarga. WIFI ini memang dikendalikan oleh Hashim, adik dari Presiden. Pemerintah juga lagi getol-getolnya dorong proyek digitalisasi dan internet murah. Wajar kalau pasar punya ekspektasi bahwa kedekatan ini bisa bantu kelancaran proyek, entah itu soal lahan, izin, kerja sama dengan BUMN, dan lain-lain.

Tapi penting diingat, proyek-proyek internet rakyat biasanya tetap harus ikut prosedur formal, ada tender terbuka, pengawasan publik, dan regulasi ketat. Jadi ya mungkin ada keuntungan dari sisi reputasi dan akses, tapi itu bukan jaminan proyek langsung dikasih gratis begitu aja. Justru kalau sampai proyek ini gagal deliver, sorotan media dan publik bisa dua kali lebih kencang karena embel-embel politik tadi.

Pinjaman 30 juta USD dari Export Development Canada juga punya sisi menarik. Ini bukan pinjaman biasa, bunganya ngikut yield SUN 3 tahun plus spread, ada biaya komitmen 0,8 persen per tahun, dan semua pembiayaan ini harus digunakan khusus untuk beli perangkat Nokia. Perangkat itu bahkan dijadikan agunan.

Artinya kalau proyek molor, demand nggak ada, atau pelanggan sepi, mereka bisa kehilangan aset produktif yang baru dibeli. Ini kayak naik motor baru yang masih nyicil, tapi belum punya kerjaan tetap.

Rights issue WIFI ini bisa jadi transformasi positif besar kalau dan hanya kalau eksekusinya mulus. Modalnya cukup, leverage-nya jadi rendah, dan dukungan investor mayoritasnya solid. Tapi risikonya juga jelas, dilusi EPS besar, tantangan kompetisi tinggi, dan ketergantungan ke eksekusi teknis di lapangan.

Buat investor kecil yang masuk murah, ini momen untuk tebus sebagian rights, tahan posisi, dan mungkin ambil sebagian untung. Buat yang nyangkut di atas Rp2.000, terutama di kisaran Rp2.500 ke atas, keputusannya lebih ke soal masih kuat nunggu atau masih percaya proyeknya. Kalau iya, tebus rights dan siapin napas panjang. Kalau enggak, jual haknya aja biar kerugian nggak makin parah.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments