Awal Juli 2025, suasana di pasar modal Indonesia terasa janggal. Biasanya, nilai transaksi harian di IHSG ada di kisaran 10-12 triliun. Tapi kali ini sunyi, seperti pasar malam habis hujan. Transaksi turun drastis jadi cuma 6-8 triliun per hari. Bukan karena investor pada liburan, bukan juga karena ekonomi kolaps. Alasannya sederhana, semua orang lagi sibuk ngincer IPO CDIA. Duit bandar dan ritel semuanya nyangkut di sini.
CDIA, alias PT Chandra Daya Investasi Tbk, adalah bagian dari Barito Group milik Prajogo Pangestu. Perusahaan ini bergerak di bidang infrastruktur, energi, pelabuhan, air, dan logistik. Tapi yang bikin heboh bukan cuma bidang usahanya, melainkan afiliasinya. CDIA satu keluarga dengan BREN, CUAN, BRPT, dan PTRO, saham-saham yang udah sukses meroket berkat tangan dingin Prajogo. Maka tidak heran, banyak investor ritel berharap CDIA bakal jadi BREN jilid dua.
Antrian IPO CDIA tembus 500 ribu akun. Kalau separuhnya terealisasi, CDIA bisa langsung lompat jadi top 3 saham dengan jumlah investor terbanyak di BEI. Semua dana ritel ditarik dari pasar dan diparkir di RDN, menunggu alokasi. Akibatnya, saham-saham besar yang biasanya aktif malah sepi transaksi dan harga cenderung turun. Tapi ini bukan penurunan karena fundamental, lebih ke rotasi dana besar-besaran.
Dalam suasana seperti ini, mari kita lihat siapa saja saham dengan jumlah investor terbanyak di Indonesia per Maret 2025 dan bagaimana kondisi mereka berdasarkan laporan keuangan Q1 2025. Walaupun euforia IPO CDIA sedang panas-panasnya, saham-saham lama tetap harus kita nilai dengan kepala dingin, mana yang layak disimpan, mana yang perlu ditinggalkan.
Di urutan pertama ada BBRI, si bank sejuta umat. Jumlah investornya mencapai 659 ribu, tertinggi di BEI. Tapi sayangnya, performa Q1 2025 kurang menggembirakan. Laba turun 13,93% ke 13,67 triliun, revenue stagnan di minus 0,21%. Harga saham juga ambles minus 22,92% dalam setahun, dan minus 9,76% dalam sebulan.
Investor pun mulai keluar, turun 31 ribu dalam sebulan terakhir meski masih naik 141 ribu dalam setahun. Tapi buat yang fokus pada dividen, BBRI tetap menarik karena yield-nya tembus 9,27% dengan PER 10,25. Jadi walaupun tekanan jangka pendek ada, saham ini tetap punya tempat di portofolio jangka panjang, terutama untuk investor yang sabar dan tidak tergesa-gesa cari cuan cepat.
Lalu ada BBCA, bank paling mahal dan paling dicintai institusi. Jumlah investornya 481 ribu, naik signifikan, 122 ribu dalam setahun dan 22 ribu dalam sebulan. Ini sinyal kepercayaan jangka panjang. Kinerja solid. Laba naik 9,83% ke 14,14 triliun, revenue tumbuh 6,79%, PER tinggi di 18,79, yield dividennya 3,48%. Harga turun minus 13,32% dalam setahun, minus 3,36% sebulan, tapi tetap stabil. Buat yang ogah drama, BBCA itu pilihan aman. Ketika saham lain naik turun kayak roller coaster, BBCA jalan lurus. Mungkin tidak bikin kaya mendadak, tapi bisa bantu tidur tenang.
GOTO adalah cerita lain. Jumlah investor 345 ribu. Tapi secara aneh, investor setahun terakhir malah turun 9 ribu, meskipun dalam sebulan terakhir naik 26 ribu. Artinya, banyak FOMO baru masuk belakangan. Harga saham naik 20% dalam setahun, padahal perusahaan masih rugi 283 miliar, walau kerugian menyusut 67% dan revenue naik 3,71%. PER negatif di minus 63,06. Saham ini jelas bukan buat value investor. Tapi buat yang cari potensi turnaround dan siap menghadapi volatilitas tinggi, GOTO adalah medan tempur. Satu kata kunci, hati-hati.
BMRI adalah contoh saham yang bagus tapi malah dihukum pasar. Laba naik 3,9% ke 13,19 triliun, revenue naik 7,89%, PER cuma 8,38, dividend yield tertinggi di daftar ini, 9,83%. Tapi harga sahamnya justru turun minus 26,23% setahun dan minus 6,6% sebulan. Investor juga mulai keluar, turun 11 ribu sebulan terakhir. Ini ironi. Saham murah, kinerja bagus, tapi dana malah kabur ke IPO. Buat investor yang jeli, ini adalah peluang emas. Bukan karena saham ini akan meroket besok, tapi karena diskon kayak gini tidak selalu datang dua kali. Kecuali Koperasi Merah Ijo Kamboja datang menyerbu bersama BudiDolDol bin Judd Old.
EXCL adalah anomali yang perlu dijelaskan. Jumlah investornya naik 1.188% setahun, dari puluhan ribu jadi 227 ribu. Tapi ini bukan karena akumulasi, melainkan efek merger dengan FREN. Investor FREN otomatis jadi investor EXCL. Sayangnya, secara fundamental EXCL masih lesu. Laba turun minus 28,66%, PER mahal 27,09, yield 3,76%, harga naik tipis 5,05% setahun dan 4,09% sebulan. Ini bukan saham yang sedang bangkit karena fundamental, tapi karena efek korporasi.
TLKM juga ikut lesu. Revenue turun minus 2,11%, laba turun minus 4,01%, harga turun minus 10,6% setahun dan minus 4,93% sebulan. Investor juga turun, minus 933 dalam sebulan, minus 5.148 dalam setahun. Tapi yield-nya 7,85%, PER 11,51. TLKM tetap layak buat investor defensif yang mengincar dividen. Tapi tidak ada momentum besar di tahun ini. Posisi aman, tapi kurang seksi.
Di sisi lain, ANTM justru tampil sebagai bintang. Revenue melonjak 203%, laba meledak 794% ke 2,13 triliun, PER hanya 8,2, yield 5,22%, harga naik gila-gilaan 122% setahun. Tapi justru investor turun 38 ribu setahun dan 21 ribu sebulan. Artinya, ritel keluar, institusi masuk. Ini saham yang kuat secara fundamental dan dikendalikan oleh tangan-tangan yang tahu mainnya. Salah satu dari sedikit saham yang naik bukan karena hype, tapi karena angka.
BBNI terlihat undervalued. Laba naik tipis 1%, revenue turun minus 4,24%, PER termurah 6,93, yield tinggi 9,35%. Harga turun minus 14,89% setahun, minus 9,5% sebulan. Jumlah investor naik sedikit setahun, tapi turun 10 ribu dalam sebulan. Saham ini murah, tapi pasar masih ragu. Kalau ada katalis, bisa jadi kejutan. Tapi kalau stagnasi berlanjut, bisa lama tidur di harga bawah.
Terakhir, SIDO, saham jamu legendaris yang sedang masuk angin. Revenue turun minus 25%, laba anjlok minus 40%, harga turun minus 34,5% setahun. Tapi investor malah naik 21 ribu setahun dan 996 dalam sebulan. PER-nya 15,71, yield 7,99%. Banyak yang bertahan karena dividennya. Tapi tanpa pemulihan kinerja, yield tinggi pun tidak cukup. Risiko value trap nyata di sini.
Kesimpulannya, jumlah investor besar bukan jaminan harga naik. Justru makin banyak investor, makin banyak kepentingan yang tarik-menarik. Satu grup pengen beli mobil baru, yang lain pakai margin, satu lagi pasang auto cutloss. Begitu satu jual, efek domino bisa bikin harga anjlok. Sebaliknya, saham yang masih sepi kadang lebih gampang naik karena yang pegang masih satu komando.
Sementara itu, IPO CDIA siap mengacak peta ini. Dengan antrian 500 ribu orderan, CDIA bisa langsung lompat ke puncak daftar saham dengan investor terbanyak. Tapi sejarah membuktikan, euforia IPO sering diikuti realita pahit.
Ada yang cuan cepat, tapi jauh lebih banyak yang nyangkut. Maka jangan terbuai angka investor atau hype sesaat. Selalu cek kinerja, valuasi, dan siapa sebenarnya yang pegang kendali. Karena di pasar saham, yang menang bukan yang paling rame, tapi yang paling paham permainan.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


