ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

Efek PSAK 72 di Emiten Konstruksi dan Properti

Efek PSAK 72 di Emiten Konstruksi dan Properti

Skydrugz

 

Di postingan sebelumnya saya membahas tentang LK Q1 emiten konstruksi. Di postingan kali ini saya membahas mengenai efek PSAK 72 pada emiten konstruksi.

Beberapa tahun lalu Dewan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia mengeluarkan PSAK 72 tentang Akuntansi Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan.

PSAK 72 mengganti banyak standar sebelumnya seperti PSAK 34 tentang Kontrak Konstruksi, PSAK 32 tentang pendapatan, ISAK 10 tentang Program Loyalitas Pelanggan, ISAK 21 tentang Perjanjian Konstruksi Real Estate serta ISAK 27 tentang Pengalihan Aset dari Pelanggan. PSAK 71 mengubah cara pengakuan pendapatan kontrak yang semula rule based menjadi prinsipal based. Oleh karena itu, pengakuan pendapatan kontrak tidak lagi berdasarkan uang muka yang diterima.

Dalam perusahaan konstruksi, kontrak konstruksi menentukan metode pembayaran yang disepakati, berdasarkan hasil negosiasi secara khusus oleh kontraktor dan pemberi kerja (owner) untuk suatu aset atau kombinasi aset yang berhubungan satu sama lain atau saling tergantung dalam rancangan, teknologi maupun fungsinya.

Dampak PSAK 72 pada perusahaan konstruksi, perusahaan kontraktor dapat menentukan harga jual sendiri, dengan diperlakukan sebagai kontrak baru atau diperlakukan sebagai perubahan harga kontrak.

Penerapan aturan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 72 mengenai pengakuan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan kini mulai berdampak terhadap kinerja pengembang properti. Terlebih lagi penjualan properti sedang tertekan akibat imbas penyebaran pandemi Covid-19.
Aturan yang diberlakukan per 1 Januari 2020 ini mengatur penjualan dari suatu proyek baru dapat dibukukan menjadi pendapatan apabila telah dilakukan serahterima. Pengembang yang bermain di proyek high-rise building dengan kontrak berjangka menjadi “pesakitan” utama dari kebijakan tersebut.
PSAK [Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan] 72 ini catatnya tidak boleh sekarang by progress, tapi harus tunggu selesai baru bisa dicatat sebagai revenue, sementara kita harus catatnya sebagai advance payment.
Aturan ini memungkinkan adanya salah tafsir ketika perusahaan dianggap rugi, padahal perusahaan tersebut diharuskan mencatatkan seperti yang tertuang di PSAK 72. “Kalau saya bangun apartemen dan baru selesai empat tahun lagi, jadi empat tahun kemudian itu tiba-tiba revenue naik, sedangkan sekarang yang gede advance payment.”
Sejumlah pengembang mengungkapkan pemberlakuan PSAK itu memberatkan kinerja finansial mereka karena penerimaan uang muka belum dapat dicatatkan sebagai pendapatan sampai serah terima dilakukan yang mungkin baru terealisasi pada tahun-tahun berikutnya terutama untuk proyek high-rise building, sedangkan biaya terus diperhitungkan.
PSAK 72 memberikan panduan yang lebih jelas tentang apa yang harus dilakukan jika suatu kontrak dinilai tidak mungkin dapat ditagih, dan juga memiliki panduan khusus tentang modifikasi kontrak. Identifikasi kontrak dengan pelanggan dapat ditetapkan melalui kontrak tertulis ataupun tidak tertulis (lisan) yang dapat dipaksakan, disetujui oleh para pihak dan para pihak memiliki komitmen untuk melaksanakan perjanjian tersebut serta memiliki substansi komersial.
Tantangan terbesar emiten konstriksi adalah memutuskan apakah perusahaan harus mengakui pendapatan dari waktu ke waktu (over-time) yang tersebar selama tahun konstruksi individu, atau pada titik waktu (satu kali pada penyelesaian kontrak)

Sejauh ini, jelas sekali bahwa PSAK 72 yang baru diterbitkan IAI ini dapat menimbulkan berbagai masalah dan pertanyaan dan aspek pajaknya mengenai saat pengakuan atau saat terutangnya pajak hingga nilai DPP PPN maupun PPh. Akar permasalahan ini adalah karena UU PPh Indonesia didasarkan pada PAI tahun 1973 yang masih menganut prinsip harga perolehan sedangkan PSAK Indonesia sudah meninggalkan prinsip ini. Dampak dari perbedaan ini secara nyata terletak pada kewajiban rekonsiliasi DPP PPN atau PPh dengan pendapatan yang diakui secara akuntansi. Dalam hal ini, praktik perpajakan sangat mengharapkan adanya rekonsiliasi antara ketentuan perpajakan dan PSAK untuk paling tidak menciptakan kepastian hukum dan perlakuan perpajakan bagi Wajib Pajak.

Mekanisme pemungutan Pajak Penghasilan (PPh) terhadap para pengembang high-rise building diharapkan mengikuti mekanisme yang diberlakukan dengan dasar PSAK 72 tentang Pengakuan Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan.

PSAK 72 mengubah cara pengakuan pendapatan kontrak yang tadinya rigid (rule based) menjadi berbasis prinsip (principle based). Dengan demikian, uang muka atau cicilan pembelian unit bangunan tinggi kini tidak dapat lagi langsung dicatatkan sebagai pendapatan perusahaan.

Dana yang masuk dari cicilan konsumen untuk pembelian unit gedung tinggi baru bisa dicatatkan sebagai revenue (pendapatan) bagi pengembang apabila serah terima sudah dilakukan dan itu baru bisa terjadi setelah seluruh bangunan tuntas dibangun, yang bisa memakan waktu dalam hitungan tahun.

Pemungutan pajak yang menyesuaikan dengan PSAK 72 akan menghindarkan pemungutannya secara berganda yakni ketika uang muka diterima dan setelah pengembang melakukan serah terima ke pembeli.

Potensi pemungutan PPh ganda itu dimungkinkan karena ketika konsumen membayar cicilan sesuai dengan progres konstruksi proyek, dana itu dimasukkan sebagai pendapatan di muka yang harus dibayarkan PPh Final-nya. Kemudian PPh dikenakan lagi ketika dicatatkan sebagai revenue saat seluruh proyek diserahterimakan ke konsumen.

Bagi yang tertarik untuk mendapatkan data analisa kuartalan emiten pilihan bisa pesan di sini.

Atau dengan memesan melalui Whatsapp Tim Pintarsaham di  +62831-1918-1386

Bagi yang ingin mencoba instrumen yang lebih beresiko tinggi kripto dengan resiko duit hilang 100% jika lagi kurang beruntung dan bisa cuan multibagger jika lagi beruntung bisa daftar di sini. 

Buat yang mau daftar di Pintarkripto, isi form di sini.

Buat yang mau punya akun trading kripto Binance atau Tokokripto daftar di sini.

Buat yang mau daftar akun trading dan investasi saham, bisa daftar di sini

Buat yang mau pesan ebook analisis Laporan Keuangan, bisa pesan di sini.

Bagi yang tertarik membuka rekening saham Sucor atau Mirae bisa menghubungi @skydrugz27 via Telegram

Artikel Skydrugz Yang Lainnya Tentang Kripto dan Investasi di Luar Negeri:

1. Cara Deposit di Binance. 

2. Cara Daftar di Akun Kripto Agar Bisa Beli Bitcoin dan Dogecoin

3. Cara trading di market luar negeri. Gunakan token Gotrade: 805963. Jika Ingin trading saham Luar Negeri di Aplikasi Gotrade 

4. Cara Beli Saham TSLA di Binance

5. Cara Mendapatkan Passive Income dari Binance: Menabung Kripto dapat Bunga Seperti Menabung di Bank

6. Teknik Trading di Binance

7. Menjaga Psikologi Agar Tetap Waras

8. Mengenai Pajak Dividen Saham Yang Dibeli di Luar Negeri

9. Tentang Pajak Dividen

10. Cara Cuan di Kripto tanpa Harus Trading

11. Cara Cuan Passive Income di Kripto dari Liquid Swap

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Jika ingin diskusi saham via Telegram bisa dengan menjadi Nasabah Sucor Referal TIRA2 dengan PM saya @skydrugz27 di Telegram.

Setelah mengisi form, bisa menghubungi @skydrugz27 via Telegram.

Untuk Insights Saham bisa ke sini.

Bagi yang mau buka akun Kripto bisa di Binance atau Tokokripto pakai link di sini.

Bagi yang mau join grup kripto bisa isi form PintarKripto.

Jika ingin pesan analisis Laporan Keuangan Kuartalan Komprehensif dari Pintarsaham.id bisa pesan di sini

Disclaimer :
  • Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.
  • I do not provide personal investment advice and I am not a qualified licensed investment advisor. I am an amateur investor.
  • All information found here, including any ideas, opinions, views, predictions, forecasts, commentaries, suggestions, or stock picks, expressed or implied herein, are for informational, entertainment or educational purposes only and should not be construed as personal investment advice. While the information provided is believed to be accurate, it may include errors or inaccuracies.
  • I will not and cannot be held liable for any actions you take as a result of anything you read here.
  • Conduct your own due diligence, or consult a licensed financial advisor or broker before making any and all investment decisions. Any investments, trades, speculations, or decisions made on the basis of any information found on this site, expressed or implied herein, are committed at your own risk, financial or otherwise.
  • No representations or warranties are made with respect to the accuracy or completeness of the content of this entire weblog, including any links to other sites. The links provided are maintained by their respective organizations and they are solely responsible for their content. All information presented here is provided ‘as is’, without warranty of any kind, expressed or implied.
  • From time to time I may include affiliate links and advertisements on my article that result in my receiving a payment should a visitor click on a link or sign up to a service, as per established Internet practice. Readers are entirely responsible for any actions they take as a result of reading or clicking on links on the site, and are urged to read the small print

Leave a Reply