PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA), emiten di sektor perkebunan kelapa sawit, mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid pada semester I tahun 2025. Peningkatan pendapatan, laba bersih, dan total aset mencerminkan performa operasional yang kuat. Meski demikian, arus kas perusahaan mengalami penurunan akibat tingginya pembayaran dividen dan belanja modal.
Dengan asumsi harga saham penutupan di level Rp830, saham STAA diperdagangkan pada valuasi yang cukup menarik, dengan PER sebesar 6,92 kali dan PBV sebesar 1,63 kali.
Pertumbuhan Penjualan dan Laba Solid
Pada paruh pertama 2025, STAA berhasil mencatat penjualan neto sebesar Rp3,59 triliun, meningkat 33,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bruto turut tumbuh 45,8% menjadi Rp1,17 triliun, menunjukkan peningkatan efisiensi dalam proses produksi.
Dari sisi operasional, laba usaha melonjak hampir 49% menjadi Rp966,74 miliar, sementara laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp656,73 miliar, naik 55,1% dibandingkan periode sebelumnya. Laba per saham dasar (EPS) pada semester ini tercatat sebesar Rp60.
Posisi Keuangan: Aset dan Ekuitas Meningkat
Per 30 Juni 2025, total aset STAA tercatat sebesar Rp8,35 triliun, naik 3,3% dari Rp8,08 triliun di akhir 2024. Kenaikan ini terutama didorong oleh bertambahnya aset tetap dan persediaan.
Sementara itu, liabilitas perusahaan meningkat menjadi Rp2,40 triliun, terutama karena adanya penambahan utang bank jangka panjang. Di sisi lain, ekuitas perusahaan naik tipis menjadi Rp5,96 triliun, dengan Rp5,54 triliun di antaranya merupakan ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Analisis Arus Kas: Dividen Tekan Posisi Kas
Meskipun laba bersih tumbuh signifikan, posisi kas STAA justru mengalami penurunan akibat tingginya pembagian dividen dan investasi.
- Arus kas operasi tetap kuat sebesar Rp634,11 miliar, sedikit menurun dibandingkan Rp638,01 miliar pada semester I-2024.
- Arus kas investasi negatif Rp240,16 miliar, sebagian besar digunakan untuk belanja modal berupa perolehan aset tetap sebesar Rp218,10 miliar.
- Arus kas pendanaan tercatat negatif Rp714,75 miliar, hampir seluruhnya digunakan untuk pembayaran dividen sebesar Rp714,18 miliar.
Akibatnya, posisi kas akhir perusahaan per 30 Juni 2025 turun menjadi Rp999,70 miliar, dari sebelumnya Rp1,32 triliun.
Valuasi Saham: PER Rendah, PBV Moderat
Dengan asumsi harga saham Rp830, berikut adalah dua rasio valuasi utama:
Price-to-Earnings Ratio (PER)
- EPS Tahunan (disetahunkan dari EPS Rp60 per semester):
Rp60 × 2 = Rp120 - PER = Rp830 / Rp120 = 6,92x
PER ini menunjukkan bahwa harga saham STAA relatif murah terhadap kinerjanya — investor hanya membayar 6,9 kali laba tahunan per saham.
Price-to-Book Value (PBV)
- Total Ekuitas: Rp5,54 triliun
- Jumlah Saham: 10,90 miliar saham
- BVPS = Rp5.535.884.000.000 / 10.903.372.600 = Rp507,72
- PBV = Rp830 / Rp507,72 = 1,63x
PBV di kisaran 1,6x menunjukkan bahwa harga saham diperdagangkan sedikit di atas nilai bukunya — cukup wajar untuk perusahaan dengan pertumbuhan laba yang sehat.
Kesimpulan
STAA menunjukkan fundamental yang kuat pada semester pertama 2025 dengan pertumbuhan penjualan, efisiensi operasional, dan laba bersih yang mengesankan. Meskipun posisi kas menurun akibat dividen besar dan belanja modal, arus kas operasi tetap positif. Dengan PER yang rendah dan PBV moderat, saham STAA layak dipertimbangkan oleh investor yang mencari kombinasi valuasi menarik dan prospek bisnis solid di sektor perkebunan kelapa sawit.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


