Saturday, April 18, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightSaham yang Menunjukkan Growth Laba di LK Q2 2025

Saham yang Menunjukkan Growth Laba di LK Q2 2025

Data dikompilasi dan dianalisis berdasarkan analisis investor awam, bukan dari CFA dan WMI yang tersertifikasi. Peluang kesalahan dalam analisis dan interpretasi data tetap ada.

Dari 18 saham yang sudah merilis laporan keuangan Q2 2025, hanya 7 yang berhasil mencatat pertumbuhan lengkap, yaitu pendapatan naik, laba usaha naik, dan laba bersih ikut naik secara bersamaan. Tiga indikator ini penting karena menunjukkan bisnis memang tumbuh secara utuh, bukan hanya untung sesaat atau didorong faktor luar biasa. Ketujuh saham itu adalah WIFI, STAA, INET, CITY, NICL, LFLO, dan BANK. Tapi walau sama-sama tumbuh, karakter mereka beda jauh, mulai dari kualitas laba, arus kas, valuasi, hingga sentimen pasar dan aksi korporasi yang menyertainya.

Yang paling stabil dan rasional adalah STAA alias Sumber Tani Agung Resources. Pendapatan naik 33,23 persen, laba usaha naik 48,8 persen, dan laba bersih tumbuh 55,15 persen jadi Rp656,73 miliar. Free cash flow TTM juga positif, dengan rasio P/FCF 10,47, artinya laba yang dicetak benar-benar berubah jadi kas masuk.

Valuasi sahamnya juga masih tergolong masuk akal, PBV 1,52, PER 6,89, dan P/S 1,23. STAA juga mengumumkan rencana buyback hingga Rp200 miliar dan telah membagikan dividen tunai Rp55 per saham. Investor asing pun mulai masuk, tercatat net buy selama 3 hari berturut-turut. Dari semua sisi, kinerja, arus kas, valuasi, dan aksi korporasi, STAA sejauh ini paling seimbang.

Sementara itu, WIFI dan INET tampil dengan laporan laba yang mencolok tapi arus kasnya masih jauh dari ideal. WIFI mencatat revenue naik 66,17 persen, laba usaha 155,66 persen, dan laba bersih 153,62 persen jadi Rp227,91 miliar. Namun, free cash flow TTM masih negatif dengan P/FCF -10,66. PBV 6,83, PER 32,93, dan P/S 17,13 menandakan valuasi sudah mahal. Meski begitu, minat investor sangat tinggi. WIFI sukses melakukan rights issue jumbo senilai Rp5,9 triliun, dan menariknya, aksi korporasi ini mengalami oversubscribe 4 kali. Tapi jangan salah kaprah, oversubscribed rights issue itu beda dengan IPO.

Dalam IPO, oversubscribe artinya sejak awal jumlah permintaan melebihi saham yang ditawarkan. Sementara dalam rights issue, saham baru awalnya hanya ditawarkan kepada pemegang saham lama melalui HMETD. Jika semua pemegang saham menebus 100 persen haknya, maka tidak akan ada oversubscribe. Tapi pada kenyataannya, di rights issue WIFI hanya 92,5 persen HMETD yang ditebus oleh pemegang lama.

Sisanya, yaitu 7,5 persen saham, masuk ke pooling dan ditawarkan ke publik atau institusi. Permintaan atas sisa saham inilah yang meledak, hingga 4 kali lipat dari jumlah yang tersedia. Jadi rights issue disebut oversubscribe bukan karena semua orang beli haknya, tapi justru karena ada yang tidak menebus, lalu sisa sahamnya jadi rebutan.

INET juga mengalami pertumbuhan besar, revenue naik 196,91 persen, laba usaha 709 persen, dan laba bersih 666 persen jadi Rp7,78 miliar. Tapi P/FCF-nya -212,81, menunjukkan arus kas masih negatif parah. PBV-nya 7,70 dan PER 144,34 juga mencerminkan valuasi tinggi. Meski asing sempat net sell, pengendali saham justru menambah kepemilikan hingga 64,6 persen sebagai sinyal kepercayaan dari dalam.

CITY dan NICL termasuk saham yang tumbuh dari sisi kinerja tapi dengan karakter yang bertolak belakang. CITY mencetak revenue naik 42,16 persen, laba usaha 481,58 persen, dan laba bersih 317,43 persen jadi Rp7,82 miliar. PBV-nya sangat rendah di 0,55, tapi PER 30,77 dan FCF TTM-nya masih negatif dengan P/FCF -15,92, menandakan profit belum efisien secara kas.

Sementara NICL mencetak pertumbuhan revenue 152,07 persen, laba usaha 422,40 persen, dan laba bersih 386,59 persen jadi Rp357,52 miliar. FCF TTM-nya positif dengan P/FCF 13,67, tapi valuasinya mahal, PBV 12,75 dan PER 16,88. Investor asing mulai net sell meski kinerjanya kuat, dan perusahaan pun menargetkan ekspansi penjualan nikel hingga 3,3 juta ton.

LFLO dan BANK punya pertumbuhan tapi juga tanda tanya. LFLO membukukan revenue naik 62,19 persen, laba usaha 79,93 persen, dan laba bersih 43,99 persen jadi Rp10,96 miliar. Tapi FCF TTM-nya sangat negatif, P/FCF -1.257,24, menunjukkan kas operasional bocor. PBV 4,62 dan PER 15,74 pun tergolong mahal. Investor asing sempat net buy 2 hari, tapi harga sahamnya fluktuatif.

BANK alias Bank Aladin Syariah mencetak revenue naik 48,31 persen, laba usaha 239,74 persen, dan laba bersih 244,38 persen jadi Rp83,12 miliar. FCF-nya positif, P/FCF 12,97, tapi valuasinya sangat premium, PBV 3,72, PER 72,40, dan P/S 16,32. Beberapa analis bahkan menurunkan target harga saham BANK hingga 12 persen karena menilai valuasinya sudah terlalu tinggi dibanding kualitas kas.

Penting untuk dicatat bahwa seluruh data arus kas yang dianalisis di sini menggunakan basis TTM atau trailing twelve months, bukan sekadar YTD. Jadi meskipun laba bersih terlihat naik di semester I, bila selama 12 bulan terakhir arus kas operasional masih negatif, maka kualitas labanya tetap diragukan. Inilah yang terjadi pada sebagian besar saham di daftar ini.

Dari 7 saham yang lolos seleksi pertumbuhan revenue, laba usaha, dan laba bersih, hanya STAA yang secara konsisten kuat dari atas ke bawah. Kinerja bagus, kas masuk, valuasi masuk akal, dan aksi korporasi mendukung. Sisanya, meski tumbuh di laporan laba, tetap perlu diseleksi dengan hati-hati karena tidak semua pertumbuhan menghasilkan uang, dan tidak semua rights issue berarti semua orang menebus haknya.

Data masih bisa berubah jika LK Q3 2025 rilis. Pada akhirnya interpretasi laporan keuangan itu kembali ke masing – masing investor. Apa yang saya anggap bagus, belum tentu akan dianggap bagus oleh orang lain.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments