Analisis BJBR
Bank daerah kebanggaan warga Jawa Barat, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) memiliki kinerja yang baik di tahun 2022.
Berdasarkan laporan keuangan 2022, BJBR berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp2,24 triliun.
Laba bersih ini meningkat 11,23% dari Rp2,01 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Grafik harga saham BJBR

Harga saham BJBR pernah mencapai level tertingginya di area Rp3.300-an pada akhir tahun 2016.
Setelah itu harga saham BJBR turun dan belum pernah mencapai level tertingginya lagi.
Di sepanjang tahun 2022, harga saham BJBR cenderung sideways dan hanya naik 0,67%.
Sekilas kinerja keuangan BJBR naik, namun berbanding terbalik dengan harga sahamnya yang cenderung sideways di sepanjang tahun 2022. Apakah di tahun 2023 akan ada peluang menarik dari saham BJBR?
Profil Perusahaan
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (selanjutnya disebut “bank bjb” atau Perseroan) didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No 33 Tahun 1960 tentang penentuan perusahaan milik Belanda di Indonesia yang dikenakan nasionalisasi.
Salah satu perusahaan milik Belanda yang berkedudukan di Bandung yaitu N.V Denis (De Eerste Nederlandsche Indische Shareholding) terkena ketentuan tersebut dan diarahkan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.
Bank telah mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 20 Mei 1961.
Pemegang saham mayoritas Perseroan terdiri dari Pemda Provinsi Jawa Barat (38,26%), Pemda Provinsi Banten (5,37%), Pemda Kota-Kabupaten Se-Jawa Barat (23,61%), Pemda Kota-Kabupaten Se-Banten (7,76%) dan Publik (25%).
Sebagai Bank pembangunan daerah, Bank juga membantu Pemerintah Provinsi, Kota/Kabupaten se-Jawa Barat dan Banten dalam membina Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan institusi jasa keuangan lainnya milik pemerintah Provinsi, Kota/Kabupaten se-Jawa Barat dan Banten yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Bank, atau Bank sama sekali tidak memiliki saham namun diminta untuk membantu pembinaan BPR dimaksud.
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, bank bjb memiliki 2 (dua) segmen operasi yaitu segmen konvensional dan segmen syariah.
Segmen konvensional meliputi produk pinjaman, produk dana pihak ketiga, dan jasa layanan. Sedangkan, segmen syariah dilaksanakan melalui kegiatan usaha anak perusahaan.

Per akhir Februari 2023, saham BJBR mayoritas dimiliki oleh Pemda Provinsi Jawa Barat sebanyak 38,51%, Pemda Kabupaten Bandung sebanyak 7,24% dan 54,24% sisanya dimiliki oleh publik dan pemda (kepemilikan di bawah 5%).

Berdasarkan kategori asal SID investornya untuk saham scripless yang diperdagangkan di BEI, terlihat persentase kepemilikan investor lokal mendominasi sebanyak 77,97%, sedangkan sisanya investor asing sebanyak 22,03%.

Jika dilihat lebih detail lagi, sebagian besar investor lokal yang memegang saham BJBR ialah pihak perusahaan asuransi.
Selanjutnya juga ada pihak investor individual yang memiliki porsi cukup besar.
Analisis Fundamental

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2022, BJBR membukukan pendapatan sebesar Rp13,63 triliun.
Pendapatan ini naik 3,19% dari Rp13,21 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan terbesar perusahaan dikontribusi oleh pendapatan bunga yaitu sebesar Rp12,81 triliun di mana pendapatan ini naik 3,14% secara tahunan.
Selanjutnya ada :
- pendapatan syariah sebesar Rp772 miliar yang meningkat 7,20%,
- pendapatan provisi dan komisi sebesar Rp35 miliar yang menyusut -41,98%, serta
- pendapatan provisi dan komisi syariah sebesar Rp12 miliar yang meningkat 63,45%.
BJBR mencatatkan penurunan beban bunga dan bagi hasil syariah dari Rp5,31 triliun menjadi Rp5,22 triliun atau turun -1,62%.
Laba bruto sebesar Rp8,40 triliun atau naik 6,42% secara tahunan.

Setelah dikurangi berbagai beban dan ditambah penghasilan operasi lainnya, perusahaan mencatatkan laba usaha sebesar Rp2,84 triliun.
Angka ini lebih tinggi 9,63% dari Rp2,59 triliun di tahun sebelumnya.
BJBR meraih laba bersih sebesar Rp2,24 triliun atau meningkat 11,23% dibanding tahun sebelumnya.
Bagaimana estimasi laba dan harga wajar saham BJBR? Dilihat dari sisi PER maka estimasinya menjadi sebagai berikut:

Sedangkan, dari sisi PBV maka estimasinya sebagai berikut:

Dengan estimasi PER 9,28 maka harga wajar saham BJBR dapat dihargai senilai 2307 (sepertinya sulit akan tercapai di level ini jika tidak ada katalis fundamental yang signifikan).
Sedangkan dengan estimasi PBV 1,31 (diambil dari rata-rata selama 5 tahun) maka harga wajar saham BJBR dapat dihargai senilai 1984. Hmm gimana menurut kamu??
Yang oke dari BJBR tentunya dari sisi dividen yieldnya yang tergolong tinggi diatas 7% tiap tahunnya (udah lebih besar dari deposito kan)… tapi bagi kamu yang lebih senang dengan capital gain maka BJBR sepertinya bukan pilihan utama.
Ada pertanyaan ? silakan di kolom komentar


