Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightROTI vs Salim?

ROTI vs Salim?


Sari Roti alias ROTI dulunya raja tanpa tanding di dunia roti kemasan Indonesia. Produknya mudah ditemui di mana-mana, mulai dari minimarket, warung kecil, sampai sekolah. Tapi sekarang situasinya tidak lagi semanis rotinya. Di balik kemasan putih biru yang ikonik itu, ada konflik internal yang makin panas. Mulai dari perebutan jalur distribusi, gesekan kepentingan bisnis, sampai tekanan dari dalam sendiri. Terutama dari Salim Group yang dulunya rekan, kini menjelma jadi kompetitor diam-diam.

Awalnya, ROTI tumbuh pesat karena sinergi antara Wendy Yap, anak salah satu pendiri Bogasari, dengan jaringan distribusi dan kekuatan pasar milik Salim Group. Modelnya sederhana. Bogasari suplai tepung, Indomaret DNET tangani distribusi, dan ROTI tinggal fokus bikin produk dan jualan.

Tapi lama-lama relasi ini mulai berubah. Sekarang, meskipun Salim melalui Indoritel masih punya 25,77% saham ROTI, mereka juga membangun bisnis roti tandingan lewat Prime Bread dan Say Bread. Keduanya kini justru lebih mendominasi rak-rak di Indomaret. Aneh tapi nyata, di jaringan minimarket milik Salim sendiri, produk ROTI mulai tersingkir pelan-pelan.

Laporan keuangan ROTI per kuartal pertama 2025 menunjukkan kondisi tidak baik. Pendapatan anjlok 9,6% secara tahunan menjadi Rp859,6 miliar. Laba bersihnya rontok 68% dan hanya tersisa Rp23,1 miliar. Margin bersih tinggal 2,7%.

Untuk bisnis makanan massal, angka ini sudah sangat kritis. Penyebabnya? Distribusi yang selama ini bergantung pada minimarket seperti Indomaret sekarang tidak lagi maksimal. Ketika distribusi bermasalah, produk sebagus apapun susah sampai ke tangan konsumen.

Sebagai langkah penyelamatan, ROTI mulai membangun jaringan distribusi sendiri. Saat ini mereka sudah punya sekitar 93 ribu titik distribusi mulai dari warung tradisional, toko kelontong, sampai jalur B2B. Tapi membangun infrastruktur sendiri jelas bukan hal mudah. Biaya logistik seperti kendaraan, gudang, rantai pendingin, dan sumber daya manusia bisa memakan 15 sampai 20% dari total pendapatan.

Kalau dibandingkan dengan sistem titip jual di Indomaret atau Alfamart AMRT , memang lebih berat di ongkos. Strategi ini masuk akal, tapi mahal. Jangka pendeknya terasa berat, tapi dalam jangka panjang mungkin ini satu-satunya pilihan kalau ROTI masih ingin eksis.

Di sinilah muncul dilema besar. Apakah mereka akan bertahan atas nama idealisme dan sejarah, atau realistis dan melepas kendali. Ada skenario logis yang sebenarnya cukup masuk akal. Bagaimana jika keluarga Yap melepas sisa sahamnya ke Salim.

Lalu ROTI digabung ke Prime Bread dan Say Bread. Distribusi bisa disatukan. Pabrik dirasionalisasi. Dan merek dikembangkan masing-masing sesuai segmen. Dari sudut pandang investor, ini efisien. Tapi dari sisi keluarga Yap, ini ibarat menutup lembar sejarah panjang yang sudah dimulai sejak 1995.

Kalau mau terus bertarung, ROTI harus masuk ke medan yang belum dikuasai Salim. Bisa lewat produk sehat, varian roti premium, atau lini artisan. Bisa juga memperkuat kanal online seperti GrabMart, Tokopedia, dan ShopeeFood. Alternatif lain adalah menyasar jalur distribusi non-konvensional seperti warteg, koperasi pabrik, atau kantin sekolah. Di sisi lain, buyback saham tetap dijalankan sebagai sinyal ke pasar bahwa manajemen belum menyerah dan masih punya arah.

Masalah utamanya bukan lagi siapa yang bikin roti paling enak. Tapi siapa yang punya akses ke jalur distribusi. Karena dalam persaingan seperti ini, pemenangnya bukan cuma yang punya kapasitas produksi besar, tapi yang punya kendali atas rak dan jaringan logistik.

Kalau perlu, ROTI harus membangun rak sendiri. Sekarang ROTI ada di simpang jalan. Antara menerima kenyataan dan melebur, atau tetap berjuang dengan risiko makin berat ke depan. Tapi satu hal yang pasti, kalau mereka tidak berubah sekarang, yang akan ‘makan roti’ justru para pemegang sahamnya sendiri.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments