Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightPGEO dan Danantara

PGEO dan Danantara

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) pelan-pelan mulai naik kelas. Dulu cuma dikenal sebagai anak usaha Pertamina yang kalem, sekarang mendadak dilirik sovereign wealth fund negara Danantara untuk disuntik modal segar sebesar US$120 juta atau setara Rp1,9 triliun. Tapi ini bukan cerita instan.

Di balik angka US$120 juta itu ada strategi nasional, pertarungan valuasi, dan potensi transformasi PGEO menjadi tulang punggung transisi energi bersih Indonesia. Jadi pertanyaannya apakah suntikan ini beneran game changer atau cuma gimik pasar.

Pertama-tama, status suntikan modal ini masih di tahap Head of Agreement dan Memorandum of Understanding. Belum deal final, tapi bukan wacana kosong juga. Danantara yang dipimpin oleh Rosan Roeslani dan Pandu Sjahrir mengarahkan dana negara ke sektor base load energy seperti geothermal, bukan sekadar PLTS atap. Ini bukan cuma urusan ESG, tapi bagian dari agenda negara, termasuk masuk dalam roadmap RUPTL PLN 2025–2034 dengan target bauran energi baru dan terbarukan sebesar 76%.

Secara fundamental, suntikan ini bisa memperbaiki struktur keuangan PGEO secara signifikan. DER berpotensi turun dari 0,8x ke 0,6x sementara WACC bisa ditekan 150–200 bps. Arus kas operasional diperkirakan meningkat 25–30% mulai 2026 dan ROE bisa naik dari 8% ke 12% di 2030. Ini memberi ruang napas untuk ekspansi tanpa harus menambah beban utang.

PGEO mengelola 13 WKP dengan kapasitas terpasang 1.877 MW. Dari jumlah ini, 672 MW dikelola langsung dan sisanya melalui skema kontrak. Proyek prioritas yang akan dibiayai dengan dana Danantara antara lain Lumut Balai Unit 2 dan 3 serta proyek quick win 395 MW.

PGEO juga membentuk konsorsium dengan PLN Indonesia Power untuk proyek cogeneration di Ulubelu dan Lahendong. Sementara itu, ekspansi internasional sudah mulai dijajaki, termasuk ke Kenya dan Turki, dengan target kapasitas total 3 GW pada 2033.

Ada bagian penting yang sering luput dari radar investor ritel. Seluruh PLTP milik BREN yang kapasitasnya 886 MW sebenarnya beroperasi di atas wilayah kerja PGEO dan PLN. BREN, PLN, dan PGEO terikat dalam skema kerja sama operasi di mana BREN wajib membayar tunjangan produksi sekitar 3–4% dari EBITDA tahunannya kepada PGEO dan PLN sebagai royalti pemanfaatan lahan.

Tak cuma itu, seluruh aset PLTP BREN harus dikembalikan ke PGEO dan PLN setelah masa kontraknya habis. Wayang Windu akan berakhir pada 2039, Salak pada 2040, Darajat Unit 1-2 pada 2041, dan Darajat Unit 3 pada 2047. Jadi makin besar BREN, makin besar recurring income PGEO dan PLN. Pada akhirnya, PGEO juga yang bakal jadi pemilik asetnya. Tidak banyak saham energi di bursa yang bisa duduk santai tapi tetap dapat aliran pendapatan rutin seperti ini.

Risiko tetap ada. Secara teknis, pengeboran geothermal punya tingkat kegagalan sekitar 30%. Biaya proyek bisa meleset 20–30% dari estimasi awal, terutama untuk proyek greenfield. Regulasi juga belum sepenuhnya ramah, izin eksplorasi, kepastian tarif listrik EBT, dan ketergantungan pada mekanisme PLN masih menjadi isu. Namun, adanya peran BKPM dalam percepatan izin dan keterlibatan langsung Danantara cukup jadi peredam risiko-risiko itu.

Reaksi pasar terlihat jelas. PGEO sempat naik 41,71% year to date, lalu terkoreksi 9,86% dalam sepekan terakhir berdasarkan data per 26 Juni 2025. Tapi volume transaksinya tetap tinggi, rata-rata 50–100 juta saham per hari. Saham ini masih sangat likuid. Harga terakhir berada di Rp1.325 dengan target analis di kisaran Rp1.340–Rp1.375.

Valuasi fundamentalnya juga solid, PER 23x, PBV 1,65x, dividend yield 4,01%. Bandingkan dengan BREN yang punya harga Rp5.775, PER 393x, PBV 77x, yield hanya 0,08%, dan DER yang tembus 643%. Bahkan sebagian pendapatan BREN disetorkan kembali ke PGEO. Situasi ini memang ironis, tapi jelas menguntungkan bagi PGEO.

Tapi mari realistis. Buat investor ritel, sering kali bukan laporan keuangan atau roadmap ekspansi yang jadi alasan utama membeli saham, tapi siapa yang jadi bandar penggeraknya. Dan memang, dalam jangka pendek, laba bisa jadi cuma teori kalau tidak ada pihak yang menggerakkan harga saham.

PGEO bisa punya proyek 3 GW, dividen tinggi, dan dukungan Danantara, tapi kalau tidak ada momentum pasar dan bandar, harganya bisa stagnan. Sementara BREN, meskipun utangnya besar dan valuasinya tidak rasional, tetap bisa naik jika sedang dimainkan Peter Parker.

Karena itu banyak ritel akhirnya berpikir praktis. Lebih baik saham jelek tapi digerakkan, daripada saham bagus yang tidak naik-naik. Pandangan ini bisa dimengerti, tapi risiko nyangkut juga nyata. Idealnya, investor bisa ambil dua pendekatan.

Ikuti momentum jangka pendek untuk cuan cepat, tapi simpan juga saham fundamental seperti PGEO untuk jangka panjang. Karena momentum bisa habis dalam hitungan hari, tapi proyek geothermal akan terus berjalan bertahun-tahun.

Jadi, PGEO sedang bertransformasi dari anak BUMN geothermal menjadi tulang punggung energi hijau nasional. Suntikan Danantara berpotensi jadi titik balik besar. Valuasi masih wajar, arus kas kuat, pendapatan rutin dari kerja sama BREN tetap masuk, dan dalam jangka panjang PGEO yang akan memiliki semua aset itu. Sementara BREN bisa naik cepat dalam jangka pendek, valuasinya terlalu mahal untuk disimpan lama.

Jadi kalau investor ritel bertanya mana yang lebih penting, proyek atau penggerak harga, jawabannya jelas. Untuk cuan instan, momentum harga. Tapi untuk bertahan dan tumbuh dalam 5–10 tahun ke depan, PGEO yang pegang kunci.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here