PGEO, alias Pertamina Geothermal Energy, adalah contoh klasik dari perusahaan yang punya semua modal untuk jadi bintang utama, tapi malah milih tampil kayak figuran yang pasrah di pojokan panggung. Dari luar kelihatan meyakinkan: perusahaan energi hijau, anak usaha Pertamina, margin super lebar, dan kas setumpuk. Tapi pas dilihat dari dalam, jujur aja, banyak hal yang bikin mikir, “loh, ini beneran niat jalanin bisnis?”
Kita mulai dari atas, laporan laba ruginya. Pendapatan tahun 2024 mentok di USD 407 juta, nyaris gak gerak dari tahun 2023 yang USD 406 juta. Cuma naik 0,2%. Gak usah berharap pertumbuhan double digit, yang satu digit pun mereka kayak ogah-ogahan. Padahal mereka jualan listrik dari panas bumi, yang notabene langka dan renewable. Tapi nyatanya, revenue mandek. Bisa jadi gak ada tambahan kapasitas produksi, atau mungkin tarif jual listrik ke PLN tetap, gak ada kenaikan berarti.
Yang bikin geleng-geleng kepala, walaupun pendapatan stagnan, beban-beban malah doyan naik. Beban pokok naik 4%, beban SGA lompat 20%, dan beban bunga terbang 32%. Alhasil, margin pun pelan-pelan terkikis. Gross margin turun dari 61% ke 59,5%, operating margin dari 55,6% ke 51,7%, dan net profit margin dari 40,3% ke 39,4%.
Laba bersih? Masih dapat USD 160 juta, turun tipis dari USD 164 juta tahun lalu. Masih sehat sih, tapi arah panahnya jelas ke bawah. Untungnya, ini bukan laba tipu-tipu. Arus kas dari operasional (CFO) bahkan lebih gede dari laba bersih: USD 258 juta. Artinya, ini perusahaan beneran hasilin uang tunai, bukan sekadar angka manis di laporan. Bahkan kalau dihitung free cash flow alias uang sisa setelah bayar belanja modal, mereka masih nyimpen sekitar USD 155 juta. Meski turun 17% dari tahun lalu karena capex naik, tetap aja mereka punya ruang napas yang lega.
Dan jangan lupakan kasnya—PGEO duduk di atas tumpukan uang sebesar USD 655 juta. Sementara total utang berbunga mereka sekitar USD 742 juta. Kalau dijumlah, utang berbunga dikurangi kas, tinggal tersisa net debt sekitar USD 87 juta. Alias, kalau besok mereka niat nyicil utang, bisa lunas dalam sekali jalan. Jadi dari sisi likuiditas, PGEO ini kayak anak orang kaya yang hidup hemat. Utangnya kecil, dan kalaupun ada, lebih banyak gaya doang.
Sekarang kita intip neracanya. Total aset naik tipis ke USD 3 miliar. Tambahan paling besar ada di aset tetap—wajar karena mereka investasi buat sumur atau fasilitas baru. Liabilitas stabil di kisaran USD 989 juta, dan ekuitas naik ke USD 2,009 miliar. Keseimbangan neracanya cakep. Leverage-nya rendah, dan posisi kas kuat. Tapi yang menarik perhatian justru kesehatan modal kerjanya. DSO (days sales outstanding) turun dari 123 ke 115 hari. Artinya PGEO lebih cepat menagih piutang.
DI (days inventory) juga turun dari 52 ke 41 hari, berarti manajemen persediaan makin efisien. Yang paling seru, days payable naik dari 190 ke 214 hari. Alias, mereka makin lama bayar utang ke vendor. Strategi klasik: piutang dipercepat, pembayaran ditunda. Hasil akhirnya? CCC alias cash conversion cycle jadi makin negatif: dari -15 hari jadi -58 hari. Artinya, mereka bisa kumpulin uang sebelum harus bayar kewajiban. Ini ibarat dagang gorengan, tapi pembelinya bayar kontan dan kita baru bayar tukang minyak dua bulan kemudian. Menang banyak.
Valuasinya gimana? Di harga saham Rp775, market cap PGEO sekitar Rp32 triliun. Dengan kurs Rp16.300, ini setara USD 1,97 miliar. Dibanding laba bersih USD 160 juta, PER-nya sekitar 12,3x. PBV-nya 0,98x. FCF yield sekitar 7,8%. EV/EBIT 9,8x, EV/FCF 13,3x. Gak bisa dibilang murah banget, tapi juga gak mahal. Ini harga wajar buat perusahaan energi stabil dengan margin tinggi. Tapi ya itu, kalau growth-nya gitu-gitu aja terus, investor bisa bosan dan cari cuan di tempat lain.
Sekarang bagian pamungkas: duel ROIC vs WACC. ROIC mereka 7%, sedangkan WACC sekitar 9,6%. Jadi? Selamat datang di zona merah: value destroyer. Gampangnya gini, setiap dolar yang ditanam ke proyek, baliknya cuma 93 sen. Sisanya? Entah kemana. Mungkin buat ngebor sumur yang gak jadi, atau sekadar nyumbang ke bumi demi carbon credit. Intinya, selama ROIC lebih kecil dari WACC, perusahaan ini secara matematis mengurangi nilai pemegang saham.
Dan ini bukan soal untung-rugi semata. Ini soal return yang lebih kecil dari biaya modal. Kalau ini terus berlanjut, ya PGEO hanya akan jadi perusahaan dengan margin gede yang malas tumbuh, sekaligus perlahan-lahan membakar nilai. Tapi bukan berarti semua tentang PGEO itu suram. Banyak hal positif yang gak bisa diabaikan: margin mereka masih salah satu yang paling tebal di sektor energi, arus kas kuat, neraca sehat, modal kerja efisien, dan valuasi cukup atraktif.
Mereka juga gak serakah ngutang dan cukup royal bagi-bagi dividen. Potensinya besar, tinggal eksekusinya. Kalau mereka bisa ekspansi kapasitas, naikin revenue, dan menjaga efisiensi biaya, bukan gak mungkin ROIC mereka naik dan mulai menciptakan nilai.
Tapi kalau tetap jalan di tempat sambil bilang “kami stabil, kok,” ya siap-siap masuk ke daftar perusahaan yang “baik di atas kertas, tapi bikin rugi diam-diam.” PGEO saat ini adalah value destroyer yang menyamar jadi perusahaan keren. Tapi dia punya semua alat buat berubah jadi value creator sejati. Tinggal satu yang dibutuhkan: niat.
Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships


