Dari 94 saham properti di IHSG, baru 10 yang merilis laporan keuangan 2024 per 17 Maret 2025, dengan 84 saham lainnya belum mengungkapkan hasilnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah mereka sedang menunda untuk memperbaiki laporan ataukah ada risiko yang belum terlihat? Beberapa saham seperti $SMRA mencatatkan kenaikan laba 79%, namun dengan utang besar mencapai 10 triliun, sementara saham $PANI mencatatkan pertumbuhan laba 131% meski valuasinya sudah cukup tinggi.
$SMRA menghadapi utang yang besar, namun dengan cadangan kas 3,2 triliun, sementara PANI memiliki posisi keuangan lebih solid dengan kas 4,2 triliun dan utang hanya 768 miliar. Namun, saham $PANI kini sudah cukup premium dengan PBV 8 dan PER 281, sedangkan $SMRA masih undervalued dengan PBV 0,59 dan PER 4,76. Sementara itu, PPRO masih terjebak dalam kerugian dan masalah likuiditas yang serius, dengan piutang yang membutuhkan hampir 7 tahun untuk ditagih.
Investor asing cenderung menjauhi sektor properti, dengan SMRA dan CBDK mengalami penjualan asing berturut-turut. Di sisi lain, PANI menunjukkan lonjakan investor ritel yang signifikan, yang bisa jadi sinyal distribusi saham. Sektor properti masih beragam, dengan beberapa perusahaan sehat seperti DMAS dan ATAP, yang memiliki model penjualan properti langsung lunas, sementara yang lainnya masih berjuang dengan beban utang dan likuiditas.
Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships


