Akar masalah dari anjloknya laba UCID adalah karena revenue turun dari Rp7,7 triliun ke Rp7,1 triliun, atau turun sekitar 7,66% . Penurunan ini terutama terjadi karena pendapatan dari pihak berelasi, seperti mitra atau afiliasi, turun signifikan sebesar 20,57%, sementara pendapatan dari pihak ketiga juga ikut turun 6,14% . Dengan pendapatan yang berkurang, ruang untuk menghasilkan laba tentu jadi lebih sempit, walaupun perusahaan berhasil menurunkan beban pokok pendapatan sebesar 8,18% . Ini adalah contoh sekeras apapun melakukan efisiensi, laba akan tetap anjlok kalau gagal menaikkan Revenue. Ada batas untuk melakukan efisiensi. Itu lah mengapa wajib upgrade skill.
Laba bruto, yang biasanya jadi ukuran awal kesehatan bisnis, juga turun dari Rp1,49 triliun ke Rp1,41 triliun, atau turun 5,51% . Meskipun margin laba bruto (GPM) sedikit membaik dari 19,38% jadi 19,82% , itu nggak cukup untuk menutupi dampak besar dari penurunan pendapatan. Masalah makin diperparah dengan kenaikan beban administrasi, yang melonjak 20,99%, dari Rp191 miliar ke Rp231 miliar . Salah satu penyebab utamanya adalah kenaikan biaya karyawan sebesar 14,91% dan lonjakan besar pada penurunan nilai piutang usaha yang naik gila-gilaan sampai 3189,19% . Ini artinya, ada banyak piutang yang dianggap sulit tertagih atau bahkan gagal bayar.
Kalau kita lihat lebih detail, piutang usaha mereka memang bermasalah. Total piutang turun dari Rp2,37 triliun jadi Rp2,23 triliun, atau turun 5,86% . Tapi yang bikin pusing adalah piutang jatuh tempo lebih dari 6 bulan. Risiko kerugian di segmen ini naik dari 65,5% jadi 75,7% . Provisi (cadangan kerugian) untuk piutang juga ikut naik dari Rp202 miliar ke Rp215 miliar . Jadi, ini jelas bikin laba tergerus. Meskipun beban penjualan berhasil turun 8,11%, ada beberapa komponen seperti biaya gudang yang naik 5,99% dan penyusutan aset hak-guna yang juga naik 10,07% , yang akhirnya bikin efisiensi nggak maksimal.
Satu hal lagi yang mencolok adalah lonjakan biaya promosi. Biaya promosi mereka melonjak dari Rp77 miliar jadi Rp185 miliar, naik sampai 139,13% . Sepertinya perusahaan berusaha mati-matian mendorong penjualan, tapi sayangnya pendapatan tetap turun, jadi langkah ini kurang efektif. Laba sebelum pajak pun anjlok dari Rp380 miliar jadi Rp309 miliar, turun 18,68% . Memang, beban pajak turun cukup signifikan 27,09% , tapi penurunan ini nggak cukup untuk menyelamatkan laba bersih.
Jadi bisa dikatakan laba UCID anjlok karena pendapatan yang turun, beban administrasi yang melonjak, dan masalah piutang yang makin tinggi risikonya. Ditambah lagi, biaya promosi yang naik tajam belum berhasil mendongkrak penjualan.


