Pada kuartal ketiga tahun 2025, PT Putra Mandiri Jembar Tbk (PMJS) mencatatkan kinerja yang memberikan gambaran menyeluruh tentang posisi fundamental dan arah strategi operasional perusahaan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Analisis berikut mengulas perkembangan neraca, profitabilitas, rasio keuangan, hingga valuasi pasar saham perusahaan.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Aset
- Total Aset: Per 30 September 2025, total aset tercatat sebesar Rp 5,22 Triliun, mengalami kenaikan 13.67% dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2024 sebesar Rp 4,59 Triliun.
- Aset Lancar: Aset lancar tumbuh 22.85% menjadi Rp 3,13 Triliun, terutama dipengaruhi oleh kenaikan signifikan pada persediaan dan pajak dibayar di muka, meskipun kas dan setara kas menurun.
- Aset Tidak Lancar: Aset tidak lancar tercatat sebesar Rp 2,09 Triliun, naik tipis 2.22%, didorong oleh peningkatan aset tetap neto.
Liabilitas
- Total Liabilitas: Hingga akhir September 2025, liabilitas mencapai Rp 2,02 Triliun, naik signifikan 41.35% dibandingkan akhir tahun lalu.
- Liabilitas Jangka Pendek: Tercatat sebesar Rp 1,92 Triliun, meningkat 46.31%, terutama disebabkan oleh kenaikan utang usaha pihak ketiga, uang muka pelanggan, dan pinjaman bank jangka pendek.
- Liabilitas Jangka Panjang: Berada di posisi Rp 101,70 Miliar, dengan penurunan 13.81%, mencerminkan penurunan liabilitas sewa jangka panjang.
Ekuitas
- Total Ekuitas: Ekuitas perusahaan tercatat sebesar Rp 3,20 Triliun, naik tipis 1.15% dibandingkan 31 Desember 2024, didorong oleh akumulasi laba bersih periode berjalan meskipun ada pembagian dividen.
Laporan Laba Rugi
Pendapatan
- Selama sembilan bulan pertama 2025, penjualan neto perusahaan mencapai Rp 6,27 Triliun, turun 9.60% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 6,94 Triliun. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan penjualan kendaraan.
Laba Bersih
- Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 74,49 Miliar, turun 16.00% YoY dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 88,66 Miliar. Perubahan ini disebabkan oleh penurunan penjualan neto dan kenaikan beban usaha.
Earnings per Share (EPS)
- EPS tercatat sebesar Rp 5.42, mencerminkan penurunan 15.97% YoY, sejalan dengan perubahan laba bersih. Jumlah saham beredar tetap 13.755.600.000 lembar.
Rasio Keuangan
Likuiditas
- Current Ratio: 1.63x, menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan aset lancar cukup baik.
- Quick Ratio: 0.56x, mengindikasikan likuiditas yang lebih ketat karena sangat bergantung pada persediaan untuk memenuhi kewajiban lancar.
Profitabilitas
- Margin Laba Kotor: 7.32%, menunjukkan efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba dari penjualan relatif tipis.
- Margin Laba Bersih: 1.19%, mencerminkan tingkat profitabilitas yang rendah setelah dikurangi seluruh beban operasional dan pajak.
Efisiensi & Pengembalian
- Return on Assets (ROA) (annualized): 2.02%, menilai efektivitas pemanfaatan aset dalam menghasilkan laba bersih masih rendah.
- Return on Equity (ROE) (annualized): 3.13%, menggambarkan imbal hasil atas modal pemegang saham yang juga masih rendah.
Solvabilitas
- Debt to Equity Ratio (DER): 0.63x, menunjukkan struktur pendanaan perusahaan yang cukup sehat dengan tingkat ketergantungan pada utang yang moderat.
Valuasi Pasar
- Price to Earnings Ratio (PER): Berdasarkan harga penutupan saham Rp 115 per 27 Oktober 2025, PER (annualized) tercatat 15.91x, mengindikasikan valuasi yang cukup wajar dibandingkan rata-rata historis atau industri sejenis (perlu dibandingkan lebih lanjut).
- Price to Book Value (PBV): Dengan nilai buku per saham (equity attributable to parent) sebesar Rp 194.73, PBV perusahaan berada di level 0.59x, mencerminkan valuasi di bawah nilai bukunya, yang bisa mengindikasikan undervaluation atau keraguan pasar terhadap prospek pertumbuhan.
Kesimpulan
Kinerja keuangan PMJS selama kuartal III 2025 menunjukkan adanya tekanan pada pendapatan dan laba bersih dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan penjualan kendaraan menjadi faktor utama. Peningkatan signifikan pada liabilitas jangka pendek, terutama utang usaha dan uang muka pelanggan, perlu dicermati likuiditasnya meskipun Current Ratio masih di atas 1x. Profitabilitas perusahaan (GPM, NPM, ROA, ROE) tercatat relatif rendah.
Dari sisi valuasi, PBV yang berada di bawah 1x (0.59x) menarik, mengindikasikan saham dihargai lebih rendah dari nilai ekuitas per sahamnya. Namun, investor perlu mempertimbangkan penyebab penurunan kinerja pendapatan dan laba serta peningkatan utang jangka pendek sebelum mengambil keputusan investasi.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


