Pada kuartal ketiga tahun 2025, PT Elnusa Tbk mencatatkan kinerja yang memberikan gambaran menyeluruh tentang posisi fundamental dan arah strategi operasional perusahaan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Analisis berikut mengulas perkembangan neraca, profitabilitas, rasio keuangan, hingga valuasi pasar saham perusahaan.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Aset
- Total Aset: Per 30 September 2025, total aset tercatat sebesar Rp 10.138.191 juta, mengalami penurunan 4,61% dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2024 sebesar Rp 10.628.300 juta.
- Aset Lancar: Aset lancar menurun tipis 0,36% menjadi Rp 7.036.763 juta, dibandingkan Rp 7.062.456 juta pada akhir 2024. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh penurunan kas dan setara kas.
- Aset Tidak Lancar: Aset tidak lancar tercatat sebesar Rp 3.101.428 juta, turun 13,02% dari Rp 3.565.844 juta, terutama didorong oleh penurunan signifikan pada pajak dibayar di muka bagian tidak lancar dan aset hak-guna.
Liabilitas
- Total Liabilitas: Hingga akhir September 2025, liabilitas mencapai Rp 4.993.599 juta, turun 12,77% dibandingkan akhir tahun lalu sebesar Rp 5.724.826 juta.
- Liabilitas Jangka Pendek: Tercatat sebesar Rp 4.709.177 juta, menurun 12,97% dari Rp 5.411.187 juta, terutama disebabkan oleh pelunasan Utang Sukuk.
- Liabilitas Jangka Panjang: Berada di posisi Rp 284.422 juta, dengan penurunan 9,32% dari Rp 313.639 juta.
Ekuitas
- Total Ekuitas: Ekuitas perusahaan tercatat sebesar Rp 5.144.592 juta, naik 4,92% dibandingkan 31 Desember 2024 sebesar Rp 4.903.474 juta. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan laba ditahan setelah pembagian dividen.
Laporan Laba Rugi
Pendapatan
- Selama sembilan bulan pertama 2025, pendapatan perusahaan mencapai Rp 10.477.387 juta, naik 8,55% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 9.652.173 juta. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan dari pihak ketiga pada segmen penjualan barang dan jasa distribusi serta jasa hulu migas terintegrasi.
Laba Bersih
- Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 526.560 juta, turun 4,48% YoY dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 551.235 juta. Penurunan ini terutama disebabkan oleh kenaikan beban pokok pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan.
Earnings per Share (EPS)
- EPS tercatat sebesar Rp 72,15, mencerminkan penurunan 4,47% YoY dari Rp 75,53, sejalan dengan perubahan laba bersih.
Rasio Keuangan
Likuiditas
- Current Ratio: 1,49x, menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan aset lancar cukup baik.
- Quick Ratio: 1,38x, mengindikasikan likuiditas yang lebih ketat setelah mengecualikan persediaan dari aset lancar.
Profitabilitas
- Margin Laba Kotor: 10,27%, menunjukkan efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba dari penjualan.
- Margin Laba Bersih: 5,03%, mencerminkan tingkat profitabilitas setelah dikurangi seluruh beban operasional dan pajak.
Efisiensi & Pengembalian
- Return on Assets (ROA): 6,76% (annualized), menilai efektivitas pemanfaatan aset dalam menghasilkan laba bersih.
- Return on Equity (ROE): 13,97% (annualized), menggambarkan imbal hasil atas modal pemegang saham.
Solvabilitas
- Debt to Equity Ratio (DER): 0,97x, menunjukkan struktur pendanaan perusahaan yang relatif seimbang antara utang dan modal.
Valuasi Pasar
- Price to Earnings Ratio (PER): Berdasarkan harga penutupan saham Rp 505 per 28 Oktober 2025, PER (annualized) tercatat 5,25x, mengindikasikan valuasi yang cenderung undervalued dibandingkan rata-rata historis atau sektor sejenis.
- Price to Book Value (PBV): Dengan nilai buku per saham sebesar Rp 704,88, PBV perusahaan berada di level 0,72x, mencerminkan valuasi di bawah nilai bukunya, yang bisa menandakan persepsi pasar yang hati-hati atau potensi undervaluation.
Kesimpulan
Kinerja keuangan ELSA selama kuartal III 2025 menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang solid, meskipun laba bersih mengalami sedikit penurunan YoY akibat tekanan pada margin. Penurunan signifikan pada liabilitas, terutama karena pelunasan sukuk, memperbaiki struktur neraca perusahaan dan menurunkan rasio DER ke level di bawah 1x.
Dari sisi valuasi, PER dan PBV yang rendah mengindikasikan potensi undervaluation pada harga Rp 505. Investor perlu memperhatikan keberlanjutan pertumbuhan pendapatan di tengah dinamika industri migas dan efektivitas perusahaan dalam mengelola beban pokok pendapatan untuk menjaga profitabilitas di kuartal selanjutnya.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


