Pada laporan keuangan kuartal I 2025, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mencatat laba bersih sebesar Rp1,21 triliun, melonjak 87% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp644 miliar. Sekilas, ini terlihat sebagai kabar baik bagi investor. Namun jika ditelaah lebih dalam, terdapat sejumlah indikator yang menunjukkan kinerja keuangan JSMR tidak sekuat yang terlihat di permukaan.
Meski laba melonjak, arus kas dari aktivitas operasi justru turun 20,5%, dari Rp2,25 triliun menjadi Rp1,79 triliun. Ini menjadi sinyal pertama bahwa lonjakan laba tidak diikuti oleh penerimaan kas yang sehat.
Laba JSMR tidak ditopang oleh kenaikan pendapatan yang signifikan, melainkan karena:
- Penurunan beban bunga dari Rp1,02 triliun menjadi Rp791 miliar
- Kenaikan laba dari entitas asosiasi seperti TMJ, TLKJ, dan MLJ sebesar 53% menjadi Rp48,2 miliar
Namun perlu dicatat, kedua komponen tersebut tidak menghasilkan kas langsung. Laba dari entitas asosiasi hanya tercatat secara akuntansi dan belum ada dividen yang masuk secara nyata.
Total aset JSMR mencapai Rp142,7 triliun, dengan 87% berupa Hak Pengusahaan Jalan Tol (HPJT) senilai Rp124,3 triliun. Sayangnya, sebagian besar proyek seperti Jogja–Solo, Probolinggo–Banyuwangi, dan Jakarta–Cikampek II Selatan masih dalam tahap konstruksi, belum menghasilkan pendapatan, dan bahkan dijadikan jaminan utang ke bank.
Total utang JSMR mencapai Rp59,11 triliun, terdiri dari:
- Utang jangka pendek: Rp6,21 triliun (naik 27,2% QoQ)
- Utang jangka panjang: Rp52,9 triliun
Dengan suku bunga tinggi di kisaran 6,35%–7,05%, tekanan beban bunga masih sangat besar.
Satu komponen yang cukup mencolok adalah pembayaran tunai ke karyawan yang melonjak dari Rp497 miliar menjadi Rp1,22 triliun—naik 145%. Hal ini kemungkinan berasal dari pencairan insentif tahun sebelumnya, seiring penurunan saldo insentif kinerja dari Rp983 miliar menjadi Rp403 miliar.
Pendapatan tol memang naik 8,4% dari Rp3,92 triliun ke Rp4,25 triliun. Pendapatan rest area dan usaha lainnya juga tumbuh 10,8%. Namun peningkatan ini belum cukup untuk mengimbangi beban bunga, lonjakan belanja pegawai, dan kebutuhan kas operasional proyek.


