PT ABM Investama Tbk (ABMM) kerap kali digolongkan sebagai salah satu emiten yang tergolong undervalued di Bursa Efek Indonesia. Dengan rasio valuasi yang rendah—PBV sebesar 0,61x, PER 6,15x, dan rasio harga terhadap arus kas bebas (P/FCF) sebesar 4,53x—saham ini tampak menjanjikan bagi investor yang berfokus pada pendekatan fundamental.
Namun demikian, di balik angka-angka tersebut, tersimpan sejumlah dinamika keuangan yang menimbulkan pertanyaan penting mengenai ketahanan bisnis ABMM dalam jangka menengah hingga panjang.
Pada laporan keuangan kuartal I 2025, ABMM mencatat laba sebelum pajak sebesar USD 52 juta. Namun, hanya USD 7,2 juta yang berasal dari laba usaha (EBIT), sementara sekitar USD 30,85 juta—atau 92 persen—berasal dari kontribusi entitas asosiasi, seperti PT Golden Energy Mines (GEMS) dan Multi Harapan Utama (MDB), yang dicatat dengan metode ekuitas.
Pencatatan dengan metode ekuitas bersifat non-kas. Artinya, laba tersebut belum tentu mencerminkan arus kas aktual, karena baru akan terealisasi apabila entitas terkait membagikan dividen. Sayangnya, dalam periode yang sama, beban bunga ABMM tercatat sebesar USD 18,7 juta—lebih dari dua kali lipat laba usaha yang dihasilkan. Dengan demikian, secara operasional, kinerja ABMM belum cukup untuk menutupi kewajiban bunganya sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, ABMM sangat bergantung pada dividen dari GEMS sebagai sumber utama pendanaan. Pada tahun 2023, perusahaan menerima dividen sebesar USD 297 juta dari GEMS. Dana ini menjadi penopang utama pembiayaan operasional, belanja modal, serta pembayaran bunga.
Namun, perlu dicatat bahwa ABMM hanya memiliki 30 persen saham GEMS dan tidak memiliki kendali atas kebijakan operasional maupun keputusan pembagian dividen. Artinya, apabila GEMS menahan dividen atau mengalami penurunan kinerja akibat fluktuasi harga batubara maupun perubahan regulasi energi, maka kondisi kas ABMM dapat terancam secara signifikan.
Per 31 Maret 2025, posisi kas ABMM tercatat sebesar USD 148 juta, sementara total kewajiban berbunga jangka pendek dan bagian jangka panjang yang jatuh tempo dalam 12 bulan mencapai USD 229 juta. Dengan arus kas bebas tahunan hanya sekitar USD 116 juta, perusahaan diperkirakan harus mencari pendanaan ulang (refinancing) untuk menjaga kelangsungan operasional.
Rasio lancar berada di angka 0,99x, sementara rasio kas terhadap kewajiban jangka pendek hanya mencapai 30,9 persen. Kondisi ini menandakan bahwa ABMM menghadapi tekanan likuiditas yang cukup tinggi, yang dapat memengaruhi fleksibilitas keuangan perusahaan secara keseluruhan.
ABMM memiliki tiga segmen utama: kontraktor tambang, tambang batubara milik sendiri, serta logistik dan penyewaan kapal. Segmen logistik menyerap hampir seluruh aset tetap perusahaan, dengan nilai mencapai USD 1,867 miliar. Belanja modal pada segmen ini juga signifikan—hampir USD 64 juta hanya dalam waktu tiga bulan.
Namun sayangnya, tingkat profitabilitas segmen logistik masih rendah. Margin laba usaha (EBIT) hanya sebesar 2,9 persen, dan tingkat pengembalian aset (ROA) tercatat 1,04 persen. Artinya, besarnya investasi pada segmen ini belum sejalan dengan penciptaan nilai finansial yang optimal.
Sebagian besar utang ABMM berdenominasi dolar Amerika Serikat dengan tingkat bunga mengambang. Hingga saat ini, perusahaan belum melakukan lindung nilai (hedging) terhadap risiko suku bunga maupun fluktuasi nilai tukar. Dalam konteks global yang masih rentan terhadap kenaikan suku bunga dan depresiasi mata uang lokal, risiko ini dapat berdampak signifikan terhadap beban keuangan perusahaan.


