IPO PT Hero Global Investment Tbk (HGII) menjadi salah satu langkah besar bagi perusahaan dalam memperkuat posisi di sektor energi baru terbarukan. Dalam IPO ini, HGII menawarkan sebanyak 1,3 miliar saham atau setara dengan 20% dari total modal ditempatkan setelah IPO. Harga penawaran saham berada di kisaran Rp200 hingga Rp230 per saham, sehingga dana yang diharapkan berkisar antara Rp260 miliar hingga Rp299 miliar. Setelah IPO, total saham beredar akan menjadi 6,5 miliar saham, naik dari sebelumnya 5,2 miliar saham.
Pemegang saham utama sebelum IPO adalah Rudy Chandra (34%), Robert Njo (33%), dan Hendrianto Thamrin (33%). Setelah IPO, ketiganya tetap menjadi pemegang saham pengendali dengan porsi kolektif 80%, sementara masyarakat akan memegang 20%. Rudy Chandra akan memimpin dengan kepemilikan 27,20% dari total saham.
Dana hasil IPO akan digunakan untuk mendukung proyek energi baru terbarukan. Sekitar 66% dana akan disetorkan ke PT Siantar Sitanduk Energi (SSE) untuk pengembangan proyek PLTA berkapasitas 25 MW di Sumatra Utara. Sisanya, 31% dana akan masuk ke PT Multiprima Hidro Energi (MHE) untuk pengembangan PLTM berkapasitas 10 MW. Sebesar 3% dari dana IPO akan digunakan untuk modal kerja HGII, termasuk biaya operasional dan eksplorasi proyek energi baru seperti biomassa dan tenaga surya.
Setelah IPO, valuasi HGII akan mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan perusahaan. Kapitalisasi pasar diproyeksikan berada di kisaran Rp1,3 triliun hingga Rp1,495 triliun. Dengan ekuitas proforma sekitar Rp729,57 miliar hingga Rp768,57 miliar, PBV perusahaan berada di kisaran 1,78 hingga 1,95 kali. Sementara itu, PER annualised diperkirakan berada di antara 39,79 hingga 45,75 kali, berdasarkan laba bersih proyeksi Rp32,68 miliar.
Revenue HGII sangat bergantung pada penjualan listrik dari proyek pembangkit tenaga air. Pada Q2 2024, pendapatan mencapai Rp56,52 miliar, turun 6,08% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan 2023 menunjukkan pertumbuhan 12,46% menjadi Rp103,18 miliar, dengan kontribusi utama dari segmen listrik sebesar 90,4%. Pendapatan dari jasa konstruksi telah menurun drastis sejak 2022.
Beban pokok pendapatan (COGS) juga mengalami penurunan signifikan. Pada Q2 2024, COGS mencapai Rp5,67 miliar atau 10% dari revenue. Tren ini menunjukkan efisiensi operasional, di mana COGS 2023 sebesar Rp32,08 miliar adalah 31% dari revenue. Penurunan ini sebagian besar berasal dari pengurangan beban konstruksi.
Beban keuangan HGII menunjukkan tren menurun. Pada Q2 2024, beban keuangan tercatat Rp7,15 miliar atau 12,65% dari revenue, turun 31,33% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini mencerminkan pengelolaan utang yang lebih baik dan tingkat bunga yang lebih rendah.
Ekuitas perusahaan sebelum IPO adalah Rp469,57 miliar per Juni 2024. Setelah IPO, ekuitas diproyeksikan meningkat menjadi Rp729,57 miliar hingga Rp768,57 miliar. Dengan rasio ekuitas terhadap aset sekitar 64,5%, HGII memiliki struktur permodalan yang kuat.
Aset konsesi menjadi komponen terbesar dari total aset HGII, mencapai Rp688,73 miliar per Juni 2024 atau sekitar 95% dari total aset. Aset ini mencerminkan nilai wajar dari arus kas masa depan yang dijamin PLN berdasarkan perjanjian konsesi. Proyek-proyek utama HGII termasuk PLTA dan PLTM di Sumatra Utara, yang dijalankan oleh anak perusahaan seperti SSE dan MHE.
CFO (Cash Flow from Operations) menunjukkan tren positif. Per Juni 2024, CFO mencapai Rp29,85 miliar, lebih besar dari laba bersih yang tercatat Rp18,25 miliar. Ini menunjukkan arus kas operasional yang kuat, mencerminkan efisiensi dalam pengelolaan modal kerja dan penerimaan dari PLN.
HGII juga memiliki perjanjian penting, termasuk perjanjian jual beli listrik dengan PLN untuk pembangkit minihidro Parmonangan. Perjanjian ini mencakup durasi hingga 25 tahun dengan harga beli listrik sekitar Rp1.049,75 per kWh. Selain itu, perjanjian kredit dengan BCA menggunakan aset konsesi sebagai jaminan.
Dalam hal tenaga kerja, HGII memiliki 84 karyawan per Juni 2024, dengan rata-rata gaji bulanan karyawan sekitar Rp12,29 juta. Gaji direksi dan komisaris, yang berjumlah 5 orang, rata-rata mencapai Rp75 juta per bulan.
Dengan strategi IPO ini, HGII berharap memperkuat posisi sebagai pemain utama di sektor energi terbarukan. Pendanaan tambahan dari IPO akan membantu perusahaan memperluas kapasitas pembangkit listriknya, meningkatkan pendapatan, dan memberikan nilai lebih bagi pemegang saham.
Shikoku Electric Power Company, Incorporated (Shikoku) adalah salah satu pemain utama di sektor listrik Jepang. Berbasis di wilayah Shikoku, perusahaan ini dikenal sebagai salah satu dari 10 perusahaan listrik regional terbesar di Jepang. Wilayah operasinya mencakup empat prefektur utama: Kagawa, Tokushima, Ehime, dan Kochi. Shikoku telah lama berfokus pada energi bersih dan terbarukan, seperti tenaga air dan tenaga angin, menjadikannya salah satu perusahaan yang relevan dalam upaya transisi energi global.
Keterlibatan Shikoku dalam IPO HGII membawa angin segar bagi perusahaan Indonesia ini. Melalui anak perusahaannya, SEP International Netherlands B.V. (SEPI), Shikoku berencana membeli hingga 1.625.000.000 saham HGII atau setara 25% dari total saham setelah IPO. Dengan harga saham IPO berkisar antara Rp200 hingga Rp230 per saham, nilai transaksi ini diperkirakan mencapai Rp325 miliar hingga Rp373,75 miliar. Langkah ini menunjukkan komitmen Shikoku untuk berinvestasi dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
Sebagai mitra strategis, Shikoku tidak hanya membawa dana, tetapi juga keahlian teknis dan pengalaman panjang di sektor pembangkit listrik tenaga air dan angin. Dengan kemampuan teknologi mutakhir, Shikoku diharapkan mendukung proyek-proyek HGII, seperti pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) di Sumatra Utara. Kehadiran Shikoku juga meningkatkan kredibilitas HGII di mata investor dan memperkuat posisi perusahaan dalam sektor energi bersih.
Tujuan dari kemitraan ini adalah menciptakan sinergi antara HGII dan Shikoku dalam mengembangkan energi baru terbarukan, yang menjadi fokus utama HGII. Dengan pengalaman Shikoku dalam pengelolaan proyek besar dan teknologinya yang canggih, HGII memiliki peluang besar untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mempercepat pertumbuhan bisnisnya di sektor energi terbarukan. Investasi ini tidak hanya membawa nilai strategis tetapi juga memberikan dampak positif pada keberlanjutan energi di Indonesia.
HGII
Jumlah Saham IPO:
1,3 miliar saham atau 20% dari total modal ditempatkan setelah IPO.
Harga IPO:
Minimum: Rp200 per saham.
Maksimum: Rp230 per saham.
Dana yang Diharapkan:
Minimum: Rp260 miliar.
Maksimum: Rp299 miliar.
Total Saham Beredar Setelah IPO:
6,5 miliar saham, terdiri dari:
Sebelum IPO: 5,2 miliar saham.
Saham baru: 1,3 miliar saham.
Pemegang Saham Setelah IPO:
Rudy Chandra: 27,20%.
Robert Njo: 26,40%.
Hendrianto Thamrin: 26,40%.
Publik: 20%.
Penggunaan Dana IPO:
66% ke PT Siantar Sitanduk Energi (SSE) untuk proyek PLTA (25 MW).
31% ke PT Multiprima Hidro Energi (MHE) untuk proyek PLTM (10 MW).
3% untuk modal kerja perseroan.
Valuasi Pasca IPO:
Kapitalisasi pasar:
Minimum: Rp1,300 triliun.
Maksimum: Rp1,495 triliun.
PBV: 1,78 – 1,95 kali.
PER (annualised): 39,79 – 45,75 kali.
Revenue:
Q2 2024: Rp56,52 miliar (100% dari penjualan listrik).
2023: Rp103,18 miliar (90,4% dari listrik, 6,2% konstruksi, 3,4% lainnya).
Growth 2023 vs 2022: +12,46%.
COGS:
Q2 2024: Rp5,67 miliar (10% dari revenue).
2023: Rp32,08 miliar (31% dari revenue).
Growth 2023 vs 2022: +14,72%.
Ekuitas:
Sebelum IPO (30 Juni 2024): Rp469,57 miliar.
Setelah IPO: Rp729,57 miliar – Rp768,57 miliar.
Aset Konsesi:
95% dari total aset (Rp688,73 miliar per Juni 2024).
Sumber utama pendapatan dari perjanjian konsesi dengan PLN.
CFO (Cash Flow from Operations):
Q2 2024: Rp29,85 miliar (lebih besar dari laba bersih Rp18,25 miliar).
Tenaga Kerja:
Total: 84 karyawan (81 tetap, 3 kontrak).
Rata-rata gaji karyawan: Rp12,29 juta/bulan.
Rata-rata gaji direksi dan komisaris: Rp75 juta/bulan.
Perjanjian Penting:
Jual beli listrik dengan PLN untuk PLTM Parmonangan.
Kredit dengan BBCA menggunakan aset konsesi sebagai jaminan.


