Public expose ini dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Agustus 2024, dari pukul 15.00 hingga 15.45 WIB dan disiarkan secara langsung melalui IDX. Acara ini dihadiri oleh manajemen senior ITMG, termasuk Presiden Direktur Mulianto, Direktur Yulius Kurniawan Gozali, dan Direktur Junius Prakasa Darmawan, serta diikuti oleh investor dan publik. Mereka berbagi wawasan mengenai rencana strategis perusahaan dan kondisi keuangan terkini dalam menghadapi perubahan pasar dan tantangan lingkungan yang semakin meningkat.
Salah satu fokus utama dalam paparan ini adalah strategi jangka panjang ITMG untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan berkurangnya konsumsi batubara di masa depan. ITMG berencana menerapkan transisi bisnis yang bertanggung jawab (responsible transition) yang mencakup dua pendekatan utama: mempertahankan bisnis inti di sektor pertambangan batubara (core mining) dan transformasi ke bisnis yang lebih ramah lingkungan (greener business transformation). Untuk mendukung strategi ini, perusahaan akan mengadopsi teknologi Internet of Things (IoT) serta mengembangkan usaha di bidang mineral kritis dan energi terbarukan. Pendekatan ini menunjukkan komitmen ITMG untuk tidak hanya fokus pada profitabilitas jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan jangka panjang dalam operasi bisnisnya.
Dalam hal proyeksi harga batubara, ITMG memperkirakan bahwa harga batubara pada tahun 2025 akan stabil di kisaran USD 125-150 per ton. Stabilitas harga ini didukung oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di negara-negara pengimpor utama seperti India dan Tiongkok. Selain itu, kondisi pasokan batubara global diharapkan tetap stabil kecuali jika terjadi gangguan besar seperti konflik geopolitik yang dapat mempengaruhi suplai secara signifikan. Perusahaan optimis bahwa permintaan batubara akan tetap kuat di pasar internasional, meskipun ada tekanan dari perubahan kebijakan energi global.
Meskipun kenaikan harga Global Newcastle Index belum berdampak signifikan terhadap harga jual batubara ITMG, perusahaan menjelaskan bahwa pasar Cina, salah satu konsumen terbesar, telah mengubah acuan harga mereka. Selain Global Newcastle Index, pasar Cina kini juga menggunakan ICI 3 Index, yang pergerakannya tidak selalu selaras dengan indeks global tersebut. Akibatnya, kenaikan harga Global Newcastle Index tidak selalu tercermin dalam harga jual batubara ITMG, menunjukkan bagaimana dinamika pasar regional dapat berbeda dengan tren harga global.
ITMG juga membahas kebijakan dividen mereka untuk tahun buku 2024, dengan menegaskan komitmen mereka untuk memberikan nilai lebih kepada pemegang saham. Perusahaan telah memutuskan untuk membagikan dividen interim pada tahun 2024, yang mencerminkan kebijakan perusahaan untuk menjaga tingkat pengembalian yang kompetitif bagi investor. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang ITMG untuk mempertahankan kepercayaan investor dan memastikan kestabilan finansial yang berkelanjutan dalam menghadapi fluktuasi pasar.
Menanggapi pertanyaan tentang kemungkinan melakukan stock split, manajemen ITMG menyatakan bahwa saat ini tidak ada rencana untuk melakukan perubahan struktur saham tersebut. Keputusan ini didasarkan pada keyakinan bahwa harga saham saat ini sudah mencerminkan nilai pasar yang tepat dan tidak memerlukan perubahan untuk meningkatkan likuiditas atau menarik lebih banyak investor. Sikap ini menunjukkan pendekatan yang hati-hati dan terukur dalam pengelolaan struktur modal perusahaan, dengan fokus pada stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang.
Kondisi keuangan ITMG saat ini tetap kuat, dengan kas sekitar USD 800 juta pada akhir semester pertama tahun 2024. Ini menunjukkan bahwa perusahaan berada dalam posisi yang baik untuk mendanai belanja modal (capex) secara mandiri tanpa perlu mengandalkan pembiayaan eksternal. Manajemen ITMG menyebutkan bahwa perusahaan cukup mampu mendanai pengembangan bisnisnya melalui dana internal, namun jika ada aksi korporasi besar di masa depan, keputusan akan bergantung pada ukuran dan dampaknya terhadap keuangan perusahaan.
ITMG juga menjelaskan tentang kenaikan beban kurs yang tercermin dalam laporan keuangan kuartal kedua 2024. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh transaksi yang tidak terealisasi (unrealized transactions) karena posisi Net Asset perusahaan yang berada dalam Rupiah. Ketika Rupiah melemah terhadap USD, hal ini menyebabkan kerugian akuntansi yang tercermin sebagai beban kurs. Namun, dengan pergerakan nilai tukar Rupiah yang mulai menguat dalam beberapa pekan terakhir, manajemen optimis bahwa sebagian dari kerugian ini dapat diimbangi atau dipulihkan dalam waktu dekat.


