Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightDividen Cukup untuk Bertahan, Tapi Bisakah SRTG Tumbuh?

Dividen Cukup untuk Bertahan, Tapi Bisakah SRTG Tumbuh?

Pada kuartal I tahun 2025, SRTG menerima dividen tunai sebesar Rp578 miliar, yang sebagian besar diyakini berasal dari PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)—salah satu portofolio utama mereka. Saham-saham lain seperti ADRO, MDKA, AADI, dan MPMX biasanya menyetorkan dividen di kuartal II dan III.

Di sisi lain, total beban operasional perusahaan yang mencakup gaji direksi, jasa profesional, biaya kantor, dan pengeluaran rutin lainnya hanya sebesar Rp69,2 miliar per kuartal atau setara Rp276,8 miliar per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa dividen dari TBIG saja sudah lebih dari cukup untuk menutupi seluruh biaya operasional tahunan perusahaan, bahkan menghasilkan surplus arus kas operasional sebesar Rp301 miliar jika diasumsikan tidak ada sumber pendapatan lain.

Selain mengandalkan dividen, SRTG juga menggunakan strategi daur ulang utang sebagai sumber pendanaan tambahan. Pada kuartal pertama 2025, perusahaan melunasi utang sebesar Rp1,69 triliun, namun di saat yang sama kembali menarik utang baru sebesar Rp949 miliar. Sebagian besar pinjaman ini dijamin dengan saham portofolio seperti TBIG, MDKA, dan ADRO.

Strategi ini memungkinkan SRTG mengoptimalkan portofolionya sebagai jaminan untuk memperluas ruang gerak pendanaan, dengan catatan risiko: apabila harga saham jaminan mengalami penurunan signifikan, perusahaan harus menyuntik tambahan jaminan atau melakukan pelunasan sebagian.

Dengan harga saham berada di kisaran Rp1.720 dan nilai buku per saham mencapai Rp3.373, rasio Price to Book Value (PBV) SRTG hanya 0,51x, mengindikasikan bahwa pasar memberikan diskon hampir 49% terhadap nilai aset bersih perusahaan.

Bagi investor yang optimis terhadap potensi rebound saham-saham portofolio seperti TBIG, ADRO, dan MDKA, SRTG dapat dianggap sebagai cara efisien dan terdiversifikasi untuk mendapatkan eksposur terhadap saham-saham tersebut. Namun demikian, investor harus menyadari bahwa perusahaan tidak memiliki pendapatan operasional yang berkelanjutan dan sangat bergantung pada keputusan dividen pihak ketiga.

Di balik kemampuannya bertahan hidup dari dividen, struktur bisnis SRTG juga menyimpan kelemahan. Perusahaan tidak memiliki lini bisnis yang menghasilkan pendapatan rutin (recurring income). Arus kas utama hanya berasal dari dividen dan penarikan utang. Pada saat yang sama, struktur biaya tetap (fixed cost) tetap tinggi, dengan kompensasi direksi dan staf berada pada tingkat premium.

Meskipun konsisten membagikan dividen kepada pemegang saham, termasuk pada saat mencatat rugi bersih sebesar Rp6,07 triliun di Q1 2025, langkah ini juga dapat dilihat sebagai bentuk goodwill kepada publik. Namun, tidak semua investor menganggapnya sebagai sinyal kesehatan finansial yang berkelanjutan.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments