Saham PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk per 14 Mei 2025 diperdagangkan pada level Rp1.405. Jika menilik dari sisi valuasi, saham ini tampak sangat menarik:
- Price to Earnings Ratio (PER): 7,72x
- Price to Book Value (PBV): 0,63x
- EV/EBITDA: 7,36x
- Net Profit Margin: 25%
Namun, seperti halnya banyak saham yang tampak murah di permukaan, angka-angka ini tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental yang solid. Analisis lebih mendalam terhadap laporan keuangan menunjukkan sejumlah catatan penting yang perlu dicermati oleh investor.
CMNP mencatat total aset sebesar Rp24,04 triliun, namun lebih dari 80% di antaranya (Rp19,68 triliun) merupakan Hak Pengusahaan Jalan Tol (HPJT). Aset lancar perusahaan hanya sebesar Rp2,53 triliun, di mana hampir setengahnya sebelumnya merupakan dana investasi berbunga di PT Capital Life Indonesia—produk asuransi unit link yang tidak dijamin oleh LPS.
Nilai penempatan tersebut telah berkurang signifikan dari Rp1,88 triliun menjadi Rp1,19 triliun, seiring pencairan dan pengalihan dana ke kas. Kenaikan kas menjadi Rp500 miliar lebih mencerminkan pergeseran portofolio investasi, bukan hasil kinerja operasional.
Total liabilitas per kuartal I-2025 mencapai Rp9,21 triliun, dengan utang berbunga sebesar Rp6,30 triliun. Utang ini mayoritas bersumber dari pembiayaan sindikasi bank syariah, termasuk skema musyarakah mutanaqishah dari BCA Syariah dan PT SMI.
Selain itu, terdapat utang jangka pendek senilai Rp375 miliar kepada Bank Capital, yang terafiliasi dengan Capital Life—tempat CMNP juga menempatkan dananya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi konflik kepentingan dan eksposur terhadap risiko afiliasi.
CMNP juga memiliki utang usaha senilai Rp598 miliar kepada kontraktor BUMN seperti Brantas Abipraya, WIKA, dan PP. Tidak hanya itu, terdapat beban bunga senilai Rp7,29 miliar kepada pemegang saham entitas anak, meskipun entitas yang dimaksud tidak dijelaskan secara eksplisit.
Pada kuartal I-2025, pendapatan CMNP meningkat 21,3% (YoY) menjadi Rp1,08 triliun. Namun, beban pokok justru tumbuh lebih tinggi, yakni 42,9%, akibat kenaikan beban konstruksi dan amortisasi HPJT. Hal ini menyebabkan penurunan margin kotor, dengan laba usaha hanya meningkat tipis menjadi Rp415 miliar. Laba bersih masih dapat tumbuh 4,3% menjadi Rp273,8 miliar, berkat kontribusi pendapatan bunga dari Capital Life.
Namun demikian, dari sisi arus kas, perusahaan membukukan arus kas operasi (CFO) negatif sebesar Rp183,5 miliar dan free cash flow (FCF) negatif sebesar Rp564,8 miliar. Hal ini disebabkan oleh:
- Pembayaran kepada kontraktor/vendor: Rp339 miliar
- Belanja modal (capex) HPJT: Rp362 miliar
- Pembayaran bunga: Rp121 miliar
- Pembayaran pajak dan gaji: Rp147 miliar
Total arus kas keluar dalam satu kuartal mencapai sekitar Rp1,17 triliun—angka yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan kas perusahaan.
- Return on Equity (ROE): 8,2%
- Return on Invested Capital (ROIC): 6,9%
- Weighted Average Cost of Capital (WACC): 10,3%
Dengan ROIC yang masih di bawah WACC, CMNP belum mampu menciptakan nilai tambah secara finansial. Hal ini menandakan bahwa perusahaan masih berada pada fase investasi intensif dan belum memberikan pengembalian yang lebih tinggi dari biaya modal yang ditanggung.


