Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightApakah Ada Potensi Earning Boost BNLI?

Apakah Ada Potensi Earning Boost BNLI?

Dari analisis Laporan Keuangan BNLI kita bisa lihat bahwa masih ada potensi earning boost ke depan buat BNLI, meskipun memang ori sifatnya selektif dan bergantung pada beberapa trigger utama yang sekarang mulai kelihatan benihnya.

Potensi pertama, dari CASA yang naik ke 58,5% per Maret 2025, naik signifikan dari 55% di akhir 2024. Ini artinya basis dana murahnya makin solid, dan kalau tren ini lanjut di kuartal berikut, BNLI punya modal buat tekan cost of fund lebih dalam tanpa harus tebar bunga tinggi buat tarik deposito. Kalau ini terjadi, maka NIM bisa mengembang lagi tanpa perlu ekspansi kredit agresif.

Kedua, dari sisi loan growth, kredit BNLI di Q1 naik tipis 1,2% jadi 145,6 Triliun. Ini masih rendah secara tahunan, tapi justru bisa jadi potensi boost ke depan. Kalau ekonomi Indonesia mulai pulih dan suku bunga mulai longgar (misal BI rate turun semester II), maka appetite kredit, terutama di segmen komersial dan UKM, bisa tumbuh lebih kencang. Dengan LDR masih 78%, BNLI masih punya ruang lebar buat ekspansi kredit tanpa perlu buru-buru cari dana tambahan.

Ketiga, provisioning atau CKPN yang di Q1 2025 naik 33% YoY ke 0,62 Triliun bisa dilihat sebagai antisipasi, bukan karena realisasi kerugian. NPL bruto dan net malah turun jadi 1,98% dan 0,33%, sementara coverage ratio tebal di 400%.

Jadi, jika kondisi makro membaik dan rasio kredit bermasalah tetap stabil atau turun, BNLI bisa mulai menurunkan beban CKPN di kuartal-kuartal mendatang. Ketika provisi mulai turun, otomatis laba bersih naik tanpa harus mengandalkan pertumbuhan pendapatan.

Keempat, fee-based income yang sekarang masih stagnan di 0,38 Triliun belum jadi motor utama, tapi ini bisa berubah. BNLI punya basis nasabah retail dan korporasi yang makin aktif di kanal digital.

Kalau strategi monetisasi transaksi lewat mobile banking, trade finance, wealth management, atau bancassurance makin jalan, maka fee income bisa jadi sumber boost non-bunga yang signifikan.

Terakhir, posisi kas akhir yang besar, yaitu 23,5 Triliun, dan arus kas operasi yang positif di atas laba bersih, menunjukkan ruang manuver untuk investasi dan ekspansi masih luas. Mereka juga bisa mulai berani ambil obligasi atau surat berharga yield tinggi kalau suku bunga mulai turun. Ini bisa kasih tambahan pendapatan bunga tanpa risiko kredit.

Jadi, earning boost ke depan itu mungkin, asal 3 hal terjadi yakni pertumbuhan kredit naik di atas 5%, CASA tetap kuat atau naik, dan CKPN mulai normalize. Semua ini sudah mulai kelihatan arahnya di Q1 2025, tapi realisasinya tetap tergantung kondisi makro, suku bunga, dan manajemen risiko yang tetap disiplin.

Masalah BNLI itu hanya valuasinya lebih mahal dari BBRI dan BMRI. Bisa cek PBV dan PER nya yang premium.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments