Bukti paling mencolok muncul ketika Wilmar Group, konglomerat sawit global, menjadi sponsor utama Persis Solo mulai Oktober 2021 menjelang Liga 2 musim 2021-2022. Produk minyak goreng Wilmar langsung menempel di jersey, seolah jadi lambang kerja sama antara modal besar dan semangat lokal. Tapi belum genap satu musim, semuanya meledak.
Pada April 2022, Kejaksaan Agung menetapkan Master Parulian Tumanggor, komisaris Wilmar Nabati Indonesia, sebagai tersangka kasus korupsi ekspor CPO. Perusahaan-perusahaan termasuk Wilmar diduga mendapat izin ekspor ilegal dari pejabat Kemendag, padahal tak memenuhi syarat wajib pasok dan harga dalam negeri. Dampaknya, minyak goreng jadi langka, harganya naik, dan rakyat kecil menderita.
Nama Wilmar pun muncul di berbagai media, bukan sebagai sponsor bola, tapi sebagai tersangka pelaku korupsi sistemik. Nama Persis Solo ikut terbawa. Maka, pada 21 April 2022, Kaesang mengumumkan pemutusan kerja sama sponsor dengan Wilmar.
Keputusan itu disebut sebagai bentuk tanggung jawab moral. Klub tak boleh terlibat dengan pihak yang bikin rakyat sengsara. Gibran Rakabuming Raka, Wali Kota Solo sekaligus kakak Kaesang, yang sekarang jadi Wapres, merespons singkat lewat cuitan satu kata, “Bagus.” Tapi publik tak mudah lupa.
Refly Harun dan Ubedilah Badrun ikut bersuara. Ubedilah bahkan sempat melapor ke KPK, menduga ada nepotisme. Meski tidak lanjut ke penyidikan, pertanyaan tetap menggantung. Sponsor itu datang karena sepak bola, atau karena hubungan kekuasaan? Saya pun tidak tahu jawabannya. Ndak ngerti saya yang gini2an.
Setelah putus dari Wilmar, manajemen Persis bergerak cepat cari sponsor baru. Di musim BRI Liga 1 2024-2025, klub disokong Free Fire dari Garena, Pocari Sweat, Aladin BANK, Crystalin dari Orang Tua Group, dan satu nama yang nyaris luput: Sania. Buat banyak orang, Sania cuma merek minyak goreng.
Tapi di balik labelnya, itu adalah produk Wilmar. Artinya, Wilmar kembali. Bukan sebagai korporasi induk, tapi lewat brand konsumen. Dulu dikeluarkan secara terbuka, sekarang masuk diam-diam lewat belakang. Apakah ini bisa ini, katanya 2022 putus kontrak sama Wilmar tapi 2024/2025 masuk lagi sebagai Sania yang notabene adalah produk Wilmar? Saya pun tak tahu. Ndak ngerti saya yang gini2an.
Dan ini terjadi saat kasus CPO belum selesai. Pada 17 Juni 2025, Kejagung umumkan penyitaan uang Rp11,88 triliun dari Wilmar. Jumlah itu tercatat sebagai penyitaan terbesar dalam sejarah Kejaksaan RI. Wilmar menyebut itu dana jaminan. Tapi publik tahu, itu bukan angka kecil. Itu uang dari praktik yang disebut bikin minyak goreng mahal dan bikin rakyat kesusahan. Ironinya, produk dari perusahaan itu masih nempel di jersey Persis Solo.
Cerita makin ruwet ketika video Kaesang dan istrinya, Erina Gudono, turun dari jet pribadi Gulfstream G650 milik Garena, muncul dan viral pada September 2024. Jet itu berasal dari sponsor utama klub. Maka muncul pertanyaan. Jet itu bentuk sponsor atau gratifikasi? KPK turun tangan. Pada 1 November 2024, Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron bilang tidak ada unsur gratifikasi karena Kaesang bukan penyelenggara negara. Proses hukum berhenti.
Tapi tidak dengan pertanyaan publik. MAKI minta agar Kaesang tetap membayar biaya jet Rp90 juta per orang, setara tiket kelas bisnis. Bukan soal hukum, tapi persepsi. Kalau KPK bilang itu gratifikasi, apakah kita bisa langsung percaya? Saya pun tak tahu jawabannya. Nggak ngerti juga saya yang gini2an.
Kronologi Wilmar dan Kaesang
Kaesang jadi pemegang saham Persis Solo
Oktober 2021, Wilmar masuk sponsor Persis
April 2022, kasus ekspor CPO meledak
21 April 2022, sponsor Wilmar diputus
Tahun 2024, sponsor baru muncul termasuk Sania yang merupakan produk Wilmar
September 2024, jet pribadi Kaesang viral
1 November 2024, KPK nyatakan tak ada gratifikasi
17 Juni 2025, Kejagung sita Rp11,88 triliun dari Wilmar
Dan sampai sekarang, Sania masih jadi sponsor aktif Persis Solo. Klub yang dulu memutus kerja sama karena alasan moral, kini biarkan produk dari grup yang sama tetap jadi pendukung keuangan. Ironi ini lengkap. Dulu dikeluarkan karena bikin masalah nasional. Sekarang balik lagi dengan baju berbeda.
Bukan soal etika bisnis saja. Ini juga soal konsistensi. Dulu yang dipersoalkan bukan cuma perusahaannya, tapi prinsipnya. Dan sekarang prinsip itu seperti bisa dinegosiasi. Mungkin karena klub butuh dana. Tapi publik tetap butuh kejujuran. Apakah itu salah? Saya juga tak tahu. Ndak ngerti saya yang gini2an.
Cerita Persis hari ini bukan cuma soal skor di papan. Tapi soal siapa yang bayar iklan di dada. Siapa yang datang lewat pintu sponsor. Seberapa besar kekuasaan mengubah keputusan manajemen. Dan sejauh apa integritas bisa bertahan di tengah tarik-menarik uang, politik, dan reputasi. Apakah itu salah? Saya pun tidak tahu. Saya hanya membahas data berdasarkan pernyataan resmi di press release resmi.
Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!


