Buffett punya rumus sederhana untuk memilih bank: ROA tinggi, PBV murah. ROA (Return on Assets) mengukur seberapa efisien bank mencetak laba dari asetnya. Kalau ROA di atas 1.3%, itu tandanya bank bekerja dengan baik. PBV (Price to Book Value) menunjukkan apakah harga sahamnya masih masuk akal dibanding nilai bukunya. Buffett suka PBV di bawah 1.5, karena itu berarti dia beli bank dengan diskon, bukan beli harapan kosong.
Di Bursa Efek Indonesia, ada 47 saham bank, dari bank besar seperti BBCA,BBRI, dan BMRI sampai bank kelas rongsokan seperti BBKP dan BEKS. Tapi apakah semuanya menarik? Jelas tidak. Dari daftar ini, ada beberapa yang sesuai teori Buffett, tapi ada juga yang justru bikin kepala pening. Yang sesuai dengan teori Buffett adalah bank yang punya ROA tinggi dan PBV murah, seperti BTPS (ROA 4.88%, PBV 0.74), BJTM (ROA 1.22%, PBV 0.57), dan BDMN (ROA 1.31%, PBV 0.46). BTPS adalah bank yang sangat efisien dalam mencetak laba dari asetnya dengan ROA tertinggi di industri, sementara harga sahamnya masih murah dengan PBV di bawah 1. Buffett pasti suka ini.
BJTM juga menarik karena valuasinya murah dan masih mencetak laba dengan efisien, tapi sayangnya sedang tersandung kasus korupsi yang bisa berimbas ke kredibilitasnya. BDMN sedikit lebih lemah karena Net Income Growth-nya turun -9.26%, tapi masih dalam batas wajar untuk masuk kriteria Buffett.
BJBR sebenarnya juga cukup menarik dalam segi valuasi, tapi ada masalah besar: kasus korupsi yang lagi hangat. Kalau Buffett melihat ini, dia pasti bakal berpikir dua kali, karena masalah hukum sering jadi black hole buat keuangan bank. Kita udah lihat kasus seperti ini di berbagai bank global, dan ujung-ujungnya sering berakhir dengan penalti besar atau bahkan penghapusan nilai pemegang saham.
Di sisi lain, ada juga bank yang bertolak belakang dengan teori Buffett. Kategori pertama adalah bank dengan PBV terlalu mahal, tapi profitabilitasnya biasa saja. Contohnya BBCA (ROA 3.78%, PBV 3.93) dan BINA (ROA 0.66%, PBV 7.17). BBCA punya efisiensi tinggi dengan NPM 48.62% dan ROE 20.88%, sehingga meskipun PBV-nya mahal, tetap layak dipertimbangkan. Tapi apakah investor harus membayar semahal itu? Buffett mungkin gak akan masuk ke saham ini karena dia lebih suka yang murah, tapi kalau dibandingkan dengan bank lain, BBCA jelas masih yang paling solid.
Sementara itu, BINA adalah bank dengan PBV tertinggi di Indonesia saat ini, dan satu-satunya alasan yang bisa menjelaskan hal ini adalah konglomerat Salim di belakangnya. Pasar mungkin melihat potensi ekspansi atau suntikan modal besar dari grup Salim, tapi valuasinya sekarang benar-benar gak masuk akal.
Kategori kedua adalah bank yang PBV-nya murah, tapi tetap gak layak dibeli karena labanya minus. Contohnya BBKP (ROA -7.62%, PBV 1.18), BANK (ROA -1.86%, PBV 3.83), dan BMAS (ROA -1.11%, PBV 1.29). BBKP terlihat murah, tapi kenyataannya mereka rugi besar. Net Profit Margin mereka bahkan -116.04%, yang artinya semakin banyak pendapatan masuk, semakin besar ruginya.
Ini jelas bukan bank yang layak dikoleksi, melainkan bank zombie yang hanya menunggu waktu sebelum benar-benar mati. Pemegang saham pengendali (PSP) baru mereka, Kookmin dari Korea Selatan, masih bingung dengan kondisi Indonesia, apalagi setelah Shin Tae-yong diganti Patrick SpongeBob. Kalau manajemennya aja bingung, gimana nasib pemegang saham minoritas?
BANK juga menarik dari segi sejarahnya. Dulu, ini bank yang dekat dengan lingkaran kekuasaan karena direkturnya anak menteri zaman old. Sekarang? Bank ini seperti kehilangan arah, masih rugi tapi tetap dihargai mahal. Buffett pasti bakal bertanya, “Kenapa ada orang yang mau bayar mahal untuk bank yang bahkan gak bisa menghasilkan laba?” BMAS juga punya cerita unik. Baru saja ganti PSP, yang artinya ada kemungkinan perubahan strategi besar-besaran. Tapi masalahnya, perubahan ini biasanya butuh waktu bertahun-tahun untuk membuahkan hasil. Selama periode transisi ini, ada kemungkinan investor hanya akan melihat angka merah berturut-turut.
PBV murah bisa jadi jebakan kalau profitabilitasnya hancur. BBKP misalnya, PBV-nya memang di bawah 1.5, tapi laba mereka justru minus besar. Ini yang Buffett sebut sebagai value trap—kelihatan murah, tapi sebenarnya tetap mahal kalau fundamentalnya buruk. Sebaliknya, ada bank seperti BBCA yang dihargai mahal, tapi memang punya fundamental kuat. Net Profit Margin BBCA mencapai 48.62%, artinya mereka sangat efisien dalam mencetak laba. Jadi, meskipun PBV BBCA tinggi, ada alasan kuat kenapa orang tetap rela membayar lebih mahal untuk saham ini.
Buffett mungkin gak akan beli BBCA karena valuasinya tinggi, tapi dia juga gak akan beli saham seperti BBKP atau BANK meskipun murah, karena mereka hanya murah secara harga, tapi mahal dalam penderitaan pemegang sahamnya.
Jadi, apakah teori Buffett bisa diterapkan di saham bank Indonesia? Sebagian bekerja, sebagian tidak. Teori ini berhasil untuk saham seperti BTPS dan BJTM, karena mereka punya ROA tinggi dan PBV rendah. Tapi teori ini gagal untuk saham seperti BBCA, karena meskipun PBV mahal, mereka tetap jadi pilihan utama karena efisiensi dan keunggulan bisnisnya. Sementara itu, untuk saham seperti BBKP dan BANK, teori Buffett benar-benar berlaku—PBV murah gak berarti apa-apa kalau labanya tetap minus besar.
Buffett mungkin gak akan beli saham cuma karena murah. Kalau PBV rendah tapi labanya jeblok, ya percuma. Kalau PBV tinggi tapi efisien, masih bisa dipertimbangkan. Jangan sampai kejebak beli saham bank yang “kelihatan murah” tapi sebenarnya tinggal nunggu waktu sebelum rontok total.
Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships


