PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk yang di bursa memakai kode saham PACK sedang menjalani transformasi besar yang bisa disebut paling ekstrem dalam sejarahnya. Dari semula sebuah perusahaan yang bergerak di bidang digital printing untuk flexible packaging dan punya peran sebagai holding dengan ruang gerak ke bisnis ritel maupun pengolahan plastik, manajemen memutuskan untuk keluar total dari dunia lama itu dan masuk penuh ke sektor mineral, khususnya nikel. Perubahan ini tidak sekadar ganti label usaha, melainkan restrukturisasi menyeluruh yang melibatkan pelepasan unit lama, masuknya aset tambang baru, serta perombakan besar pada struktur modal.
Fokus utama transformasi ini adalah rencana akuisisi dua perusahaan tambang nikel di Sulawesi. Pertama, PT Konutara Sejati yang dikenal dengan singkatan KS. PACK akan membeli 30% saham KS senilai USD68,7 juta atau setara Rp1,16 triliun menurut appraisal independen. KS sendiri pada periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2025 mencatat laba bersih Rp55,51 miliar dan total laba komprehensif Rp55,55 miliar.
Jika dihitung porsi 30%, kontribusi laba yang bisa masuk ke PACK adalah Rp16,65 miliar untuk enam bulan atau sekitar Rp33,3 miliar kalau ditahunkan. Kedua, PT Karyatama Konawe Utara dengan singkatan KKU. PACK akan membeli 34,5% saham KKU senilai USD100,08 juta atau Rp1,70 triliun menurut appraisal. KKU mencatat laba bersih Rp157,76 miliar dan laba komprehensif Rp157,84 miliar untuk enam bulan pertama 2025.
Dengan kepemilikan 34,5%, kontribusi laba untuk PACK adalah Rp54,43 miliar untuk enam bulan atau Rp108,9 miliar kalau ditahunkan. Jika digabungkan, laba potensial dari KS dan KKU yang bisa dikonsolidasikan ke PACK adalah Rp71,08 miliar untuk enam bulan atau Rp142,16 miliar setahun.Untuk membiayai akuisisi jumbo ini, PACK tidak memakai rights issue konvensional, melainkan menerbitkan Obligasi Wajib Konversi yang disingkat OWK lewat mekanisme Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu yang disingkat PMHMETD.
OWK ini pada dasarnya adalah surat utang yang wajib dikonversi menjadi saham. Jumlah maksimal saham baru yang bisa keluar dari skema OWK ini adalah 35 miliar lembar. Jika ditambahkan dengan saham lama yang hanya 1,6 miliar lembar, total saham beredar pasca konversi bisa melonjak menjadi 36,6 miliar lembar. Efeknya adalah dilusi yang amat besar. Perusahaan sendiri menegaskan, jika pemegang saham lama tidak ikut menebus haknya, kepemilikan mereka bisa tergerus sampai 95,58%.
Hitungan harga juga berubah drastis. Harga pasar saat ini disebut Rp3.640 per saham. Dengan OWK yang dihitung memakai implied execution price Rp78,28 per saham, maka harga teoritis setelah konversi saham baru atau yang biasa disebut Theoretical Ex-Rights Price akan turun ke Rp233,78 per saham, dengan asumsi harga saham tetap 3640 rupiah hingga cum date RI. Harga teoritis bisa berubah tergantung harga cum date RI. Jika harga teoritis 233,78 rupiah maka kapitalisasi pasar secara total memang naik menjadi Rp8,56 triliun, tapi kenaikan ini murni karena jumlah saham beredar berlipat kali, bukan karena laba perusahaan langsung melesat. EPS atau laba per saham jelas terdilusi habis-habisan.
Kalau memakai patokan valuasi wajar PER 10, maka dengan kapitalisasi Rp8,56 triliun, perusahaan harus mampu mencetak laba bersih Rp855,5 miliar setahun. Bandingkan dengan kondisi riil semester pertama 2025, laba dari operasi yang dilanjutkan hanya Rp2,62 miliar atau setara Rp5,25 miliar setahun kalau ditahunkan. Jelas terlihat ada gap yang luar biasa besar, lebih dari 160 kali lipat. Walaupun laba dari KS dan KKU bisa memberi tambahan Rp142 miliar setahun, angka ini masih sangat jauh dari Rp855 miliar yang dibutuhkan untuk menjustifikasi PER 10.
Dari sisi jadwal, keterbukaan informasi dilakukan pada 19 Agustus 2025. Recording date untuk Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB ditetapkan pada 2 September 2025. RUPSLB akan digelar pada 25 September 2025 dengan agenda persetujuan perubahan kegiatan usaha, penerbitan OWK melalui PMHMETD, serta persetujuan transaksi material akuisisi KS dan KKU. Setelah RUPSLB memberi persetujuan, perusahaan punya waktu 12 bulan untuk melaksanakan aksi korporasi tersebut. Detail harga pelaksanaan resmi, rasio HMETD, dan mekanisme konversi akan diungkap dalam prospektus.
Dampak ke laporan keuangan sangat signifikan. Aset akan melonjak karena masuknya kepemilikan di KS dan KKU. Ekuitas naik karena tambahan modal baru. Liabilitas bisa turun jika sebagian dana dipakai untuk membayar utang. Namun EPS akan terdilusi habis. Transformasi ini juga menandai pergeseran strategi, dari bisnis kemasan yang stagnan ke sektor tambang nikel yang prospeknya lebih menjanjikan di tengah tren energi hijau dan permintaan baterai listrik. Namun semua perhitungan tetap kembali pada kinerja operasional tambang, apakah bisa benar-benar menghasilkan laba ratusan miliar sampai triliunan.
Langkah PACK adalah pertaruhan besar. Pemegang saham lama menghadapi risiko dilusi sampai 95,58% dan nilai saham jatuh dari ribuan Rupiah ke hanya ratusan Rupiah. Kapitalisasi pasar memang naik ke Rp8,56 triliun, tapi kebutuhan laba untuk menopang valuasi wajar jauh melampaui laba sekarang maupun proyeksi laba dari KS dan KKU. Kalau tambang yang diakuisisi benar-benar bisa mencetak laba besar, langkah ini bisa menjadikan PACK sebagai pemain baru di nikel dengan valuasi masuk akal. Tapi kalau tidak, kapitalisasi yang besar itu hanya akan jadi angka di atas kertas tanpa dukungan fundamental yang nyata.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


