Saham dengan jumlah investor terbanyak di IHSG pada Juli 2025 bukan cuma sekadar daftar angka, tapi cerminan lengkap tentang siapa yang sedang dikoleksi ritel, siapa yang sudah jadi langganan institusi, dan siapa yang sekadar numpang goreng lalu kabur. Dan dari semua nama yang muncul, satu bintang baru bersinar paling terang dan paling panas, yaitu CDIA (Chandra Daya Investasi Tbk).
Baru IPO tanggal 9 Juli 2025, tapi langsung melesat mengalahkan saham-saham legendaris seperti TLKM, BMRI, bahkan GOTO. Kita akan bahas tuntas, bandingkan satu-satu, dan telanjangi secara menyeluruh.Mulai dari jumlah investor, CDIA langsung nangkring di peringkat 3 dengan 399 ribu investor, hanya kalah dari BBRI 674 ribu dan BBCA 481 ribu. Padahal umur saham ini belum genap 2 minggu.
Artinya, distribusi saat IPO sangat masif, brokernya melempar ke ritel tapi ritel nya strong hand. Dibandingkan GOTO 355 ribu investor, CDIA langsung salip padahal GOTO sudah lama jadi saham sejuta umat sejak zaman Tokopedia dan Gojek masih menikah. Sekarang mereka cerai. Tokopedia nikah sama orang yang lebih tajir, sebut saja orang tajir itu namanya Tiktok, orang China daratan yang duitnya lebih banyak dari Gojek. Wajar sih kalau cerai. Masalah ekonomi.
TLKM dan BMRI yang sudah puluhan tahun listing bahkan kalah jauh dalam jumlah pemegang saham jika dibandingkan dengan CDIA. Ini menunjukkan bahwa CDIA bukan IPO biasa, tapi IPO yang disiapkan untuk jadi kendaraan goreng massal nasional atau bisa juga disebut kendaraan sedekah nasional karena semua orang yang ikut IPO CDIA, 399RIBU orang itu, sudah cuan semua secara floating.
Dari sisi harga, CDIA listing di 190 dan sekarang sudah di 780. Dalam 1 minggu harganya melonjak lebih dari 300 persen. Return ini hanya dikalahkan oleh COIN yang naik juga lebih dari 300 persen, tapi secara jumlah investor CDIA jauh lebih besar. Sementara saham lain seperti BBCA minus 0,58 persen, BMRI minus 2,70 persen, ADRO minus 0,27 persen, dan GOTO nol persen cenderung stagnan atau minus. TLKM pun hanya naik 0,37 persen. Jadi secara momentum, CDIA jelas yang paling mendominasi. Bagi investor FOMO, ini surganya surga.
Market cap CDIA saat ini berada di 97 Triliun. Angka yang tidak kecil, setara dengan perusahaan kelas menengah atas. Bandingkan dengan BBCA 1.054 Triliun, BBRI 589 Triliun, BMRI 437 Triliun, TLKM 267 Triliun. Tapi CDIA lebih besar dari EXCL 48 Triliun, ADRO 56 Triliun, bahkan GOTO yang sudah bakar duit bertahun-tahun 71 Triliun. Padahal CDIA belum teruji bisnis nyatanya. Artinya, valuasi CDIA ini lebih mencerminkan harga harapan, bukan harga kenyataan.
Laba bersih CDIA per tahun berjalan tercatat 485 Miliar. Tapi yang mencolok adalah pertumbuhan laba 17.557 persen year on year. Ini angka abnormal. Laba ini baru muncul setelah akuisisi entitas bisnis oleh grup induk sebelum IPO, atau laba satu kali dari transaksi tertentu. Laba ini tidak berkelanjutan dan bisa salah sangka kalau tidak dibaca dari LK. Tapi bagi investor ritel, siapa yang baca LK. Yang penting bandarnya naikin harga.
Bandingkan dengan BBCA yang untung 14,1 Triliun dengan growth 9,83 persen, atau BBRI 13,6 Triliun tapi turun 13,93 persen. Laba BMRI juga gede, tembus 13 Triliun. Tapi pertanyaannya, mana yang lebih digemari investor ritel. Jawabannya bukan yang labanya besar, tapi yang bisa ARA berturut-turut. Dan itu bukan BBCA atau BMRI, itu adalah CDIA.
Dari sisi kualitas pertumbuhan laba, CDIA dan COIN itu outlier. CDIA 17.557 persen, COIN 8.916 persen, sementara GOTO memang minus tapi membaik 67 persen. Saham-saham besar lain seperti EXCL justru minus 28,66 persen, ADRO malah minus 78,6 persen, TLKM minus 4 persen, BBRI minus 13,9 persen.
Hanya BBCA yang masih tumbuh positif tapi wajar 9,83 persen. Ini menunjukkan bahwa saham gorengan seperti CDIA dan COIN bisa menciptakan angka growth tinggi dari basis yang sangat kecil, cukup untuk membuat algoritma screening saham terpancing, dan ritel jadi makin lapar beli. Low base effect.
Dari sisi profil investor, jelas terlihat CDIA dan COIN didistribusikan luas ke ritel. Tidak ada institusi besar yang tampak kawal harga di market. Bandarnya kemungkinan internal, tapi kekuatannya sangat efektif. CDIA bisa langsung listing, distribusi ratusan ribu investor, lalu langsung ARA berhari-hari. Ini pola yang mirip dengan saham-saham sebelumnya kayak BREN, CUAN, atau TPIA, tapi ini versi yang lebih ekstrem karena jumlah investor CDIA sudah tembus hampir 400 ribu hanya dalam 2 minggu.
Bahkan EXCL yang merger dengan FREN pun hanya punya 225 ribu investor. TLKM yang sudah puluhan tahun tetap mentok di 220 ribu. Jadi ini bukan sekadar saham goreng biasa, ini IPO yang memang disiapkan untuk menciptakan basis investor massal sejak hari pertama. IPO massal, goreng total.Sekarang bandingkan efektivitas harga terhadap laba. CDIA punya market cap 97 Triliun, dengan laba 485 Miliar, artinya PER-nya tembus lebih dari 200 kali.
Ini tidak bisa dinalar secara fundamental. Bandingkan dengan BBCA yang punya laba 14.146 Miliar dan market cap 1.054 Triliun, PER-nya sekitar 75 kali. BBRI dan BMRI PER-nya di kisaran 40 sampai 45 kali, lebih realistis. GOTO masih rugi, jadi tidak bisa dihitung PER. COIN punya PER lebih dari 150 kali. Jadi CDIA dan COIN sangat overvalued kalau pakai kacamata fundamental, tapi justru itu yang disukai pasar. Mereka bukan saham murah, tapi saham yang bisa naik lebih mahal lagi kalau bandarnya niat.
CDIA bukan sekadar saham baru. Ini adalah simbol revolusi IPO ritel. Dalam waktu kurang dari 2 minggu, dia sudah punya hampir 400 ribu investor, return 200 persen, market cap 97 Triliun, laba abnormal, dan status gorengan premium.
Bandingkan dengan saham-saham legend Bluechip seperti BBRI, BBCA, BMRI, TLKM, GOTO, ADRO. Semuanya masih jadi pilihan investor berdasarkan fundamental, dividen, atau track record. Tapi CDIA datang tanpa beban, langsung naik, langsung FOMO, dan langsung menciptakan ekspektasi besar tanpa harus membuktikan apa-apa.
Dan pasar hari ini sepertinya tidak lagi peduli pada fundamental. Yang penting harga naik. Dan CDIA memenuhi semua kriteria saham yang bisa menciptakan euforia massal, harga murah, distribusi luas, akumulasi cepat, pertumbuhan laba abnormal, dan sentimen grup besar. Selamat datang di zaman IPO gorengan generasi ketiga. CDIA adalah wajah baru pasar yang dikuasai psikologi ritel, bukan logika Warren Buffett.
Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!


