Kalau membicarakan RELF alias PT Graha Mitra Asia Tbk, cerita perusahaannya terbilang singkat tapi padat. Mereka lahir tahun 2018 lewat akta notaris, langsung beroperasi komersial di tahun yang sama, dan basecamp-nya ada di Bogor. Fokus bisnis utamanya jelas, yaitu pengembangan perumahan di kawasan Greenland Kemang dan Greenland Foresthill.
RELF kemudian resmi melantai di BEI pada Juni 2023 setelah menggelar IPO sebanyak 1,2 miliar saham dengan harga penawaran Rp90 per lembar. Dari sana, perusahaan ini masuk ke radar publik sebagai pengembang properti yang mencoba memperbesar pangsa pasar di wilayah pinggiran Jakarta. Menariknya, sosok kunci Ghofar Rozaq Nazila bukan hanya pemilik manfaat tapi juga Direktur Utama, jadi arah perusahaan benar-benar dipengaruhi kepemimpinannya.
Ghofar Rozaq Nazila adalah pengusaha dan pengembang properti Indonesia yang sudah berkecimpung di dunia real estat sejak 2005, mendirikan PT Relife Realty Indonesia pada 2007, lalu memperluas usahanya ke sektor hospitality dengan meluncurkan Svarga Resort di Senggigi, Lombok, serta mengelola Felfest UI Faculty Club bersama Universitas Indonesia, hingga akhirnya membentuk Astana Group pada 2021 sebagai holding seluruh bisnisnya.
Ia juga aktif dalam organisasi profesi dengan menjabat sebagai Sekretaris DPD Real Estat Indonesia (REI) Jakarta periode 2025–2028. Dari sisi akademis, Ghofar merupakan lulusan Arsitektur Universitas Indonesia dengan predikat cum laude dan penerima beasiswa magister arsitektur di Universiti Teknologi Malaysia. Portofolio bisnisnya, mencakup perumahan, resort, hingga perkantoran, ditopang perusahaan konstruksi PT Reka Mulia Konstruksi yang menggarap proyek hotel, perumahan, gudang, dan perkantoran.
Dari jajaran manajemen, RELF tampil sederhana. Komisaris Utama dipegang Raihan Syaula Fizyan, didampingi oleh Yuki Ariyawan dan Lukman Prasetyo sebagai komisaris, dengan struktur direksi yang diisi Ghofar Rozaq Nazila, Achmad Machlus Sadat, dan Ivan Darmanto. Jumlah karyawan juga ramping, hanya 9 karyawan tetap dan 2 tidak tetap. Jadi bisa dibilang RELF masih beroperasi seperti perusahaan keluarga yang listing, bukan korporasi properti besar dengan ribuan pegawai.
Struktur kepemilikan sahamnya pun lumayan berwarna. PT Nusa Perkasa International punya porsi terbesar 23,1%, lalu ada Patraland Mulia Jaya 19,4%, Relife Realty Indonesia 10,5%, dan beberapa entitas lain seperti Relife Property dan Asia Intrainvesta masing-masing 9,4%. Publik memegang 17,3%, jadi walau sudah terbuka, kontrol tetap ada di kelompok inti. Model seperti ini umum di emiten properti yang masih skala kecil menengah.
Raihan Syaula Fizyan adalah seorang profesional muda Indonesia dengan spesialisasi di bidang keuangan dan akuntansi. Ia memiliki latar belakang pendidikan di Universitas Padjadjaran (Unpad), Fakultas Hukum, dan memiliki pengalaman sebagai Accounting Officer serta Teaching Assistant di bidang Akuntansi Syariah. Raihan juga pernah aktif di bidang Public Relations dan terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan termasuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) terintegrasi virtual di Desa Wisata Kampoeng Jelok, Gunungkidul.
Raihan Syaula Fizyan bekerja di PT Asia Intrainvesta (bagian dari Asiavesta Group) dalam posisi Finance & Accounting. Selain itu, dia juga tercatat sebagai anggota Dewan Komisaris di PT Graha Mitra Asia Tbk.
Asiavesta Group adalah sebuah holding company yang lahir pada 2008 dari tangan dingin Ahmad Sadat, seorang pengusaha dan investor asal Malang kelahiran 1972. Awalnya, Asiavesta berdiri bukan sebagai operator bisnis, melainkan sekadar entitas hukum yang menampung investasi Sadat di berbagai sektor. Nama Asiavesta sendiri merupakan akronim dari PT Asia Intrainvesta. Filosofi di balik pendiriannya sederhana tapi strategis, yaitu menanamkan modal di bisnis menengah yang sudah mapan, punya ruang pertumbuhan besar, dan memberi dampak sosial yang nyata. Sadat percaya, investasi bukan hanya soal untung, tapi juga bagaimana ikut mendorong perubahan positif di masyarakat.
Kisah perjalanan Sadat sebenarnya dimulai jauh sebelum Asiavesta berdiri. Pada 1998, saat krisis moneter membuat banyak bisnis tumbang, ia justru mengambil alih usaha keluarga di bidang pengepulan kulit sapi. Dari situ, ia membuktikan kemampuannya dengan membawa bisnis kecil itu tumbuh lebih besar. Lalu pada 2000, ia mendirikan PT Agrisatwa Jaya Kencana, perusahaan penggemukan sapi dengan kapasitas besar yang semakin memperkuat posisinya di industri agribisnis. Momentum itu berlanjut hingga ia resmi mendirikan PT Asia Intrainvesta, yang kemudian berevolusi menjadi Asiavesta Group sebagai kendaraan utama untuk mengelola investasi strategis lintas sektor.
Seiring waktu, terutama sejak 2012, Asiavesta tidak lagi hanya sekadar menanam modal pasif. Perusahaan ini mulai membangun tim operasional dan manajemen investasi yang profesional. Model bisnisnya unik, mereka bukan sekadar pemodal, tapi juga partner strategis yang membantu perusahaan menengah melakukan restrukturisasi, transformasi, bahkan mempersiapkan diri untuk melantai di bursa. Strateginya pun cukup agresif, karena biasanya target go public bisa dicapai hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun. Dengan pendekatan itu, Asiavesta menempatkan diri sebagai jembatan antara usaha menengah dengan pasar modal.
Portofolio investasinya terbilang menarik. Di sektor makanan bayi organik, Asiavesta menjadi pengendali PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) sejak awal 2024. Masuknya Asiavesta membuat NAYZ bukan hanya mendapat dorongan modal, tapi juga arah strategis baru agar bisa memperbesar skala bisnisnya. Lalu di sektor hospitality dan pendidikan vokasi, Asiavesta menguasai PT Idea Indonesia Tbk (IDEA) dengan kepemilikan mayoritas. Dari sini terlihat bahwa mereka tidak hanya fokus pada keuntungan finansial, tapi juga sektor yang punya efek sosial luas, seperti peningkatan kualitas SDM. Sementara di sektor properti, mereka memiliki saham signifikan di PT Graha Mitra Asia Tbk (RELF), yang bergerak di jasa pengelolaan properti.
Di luar investasi pada perusahaan terbuka, Asiavesta juga mengelola sejumlah operating companies yang memperkuat ekosistem bisnisnya. Misalnya, Asiaconsult yang fokus memberikan jasa konsultasi bagi perusahaan yang ingin go public, Aleesha Venue yang menyediakan tempat acara multifungsi, Aleesha Suites yang bergerak di layanan legalitas dan virtual office, serta Asiatrading yang menangani distribusi makanan dan kebutuhan pokok. Semua lini ini dibangun untuk menciptakan sinergi antar-unit usaha, sekaligus menambah stabilitas pendapatan grup.
Nilai inti yang dipegang oleh Asiavesta adalah mengembangkan bisnis yang sudah mapan dengan potensi pertumbuhan tinggi, tanpa merusak kultur asli perusahaan tersebut. Filosofi ini sejalan dengan pandangan Sadat bahwa krisis bukan akhir dari segalanya, melainkan pintu pembuka bagi peluang baru. Prinsip inilah yang membuat Asiavesta mampu bertahan dan justru berkembang dalam berbagai situasi ekonomi yang tidak menentu. Pendekatan yang bersahabat dengan manajemen lokal dan fokus pada transformasi membuat mereka lebih mudah diterima oleh perusahaan target.
Kalau ditarik garis besar, Asiavesta Group bisa dibilang adalah akselerator bagi bisnis menengah di Indonesia. Mereka tidak hanya datang dengan modal, tapi juga membawa manajemen, strategi, dan akses jaringan pasar. Dari pola investasinya, terlihat jelas bahwa tujuan mereka adalah membentuk perusahaan menengah menjadi korporasi besar yang siap bersaing di pasar terbuka. Dengan rekam jejak Ahmad Sadat yang sudah membuktikan diri sejak era krisis 1998, Asiavesta menjadi contoh bagaimana pengusaha lokal bisa membangun holding company yang kuat, profesional, tapi tetap punya sentuhan sosial yang kental.
Aset total RELF per Juni 2025 mencapai Rp302,7 miliar, naik dari Rp296,1 miliar di Desember 2024. Pertumbuhan ini didorong lonjakan persediaan yang tembus Rp188,3 miliar dari sebelumnya Rp124,9 miliar. Artinya, mereka sedang giat mengalokasikan modal ke pembangunan rumah yang siap dijual. Namun di sisi lain, kas justru turun ke Rp6,4 miliar dari Rp9 miliar.
Jadi kalau ditanya mana yang tumbuh, jawabannya aset fisik, bukan aset likuid. Tanah yang belum dikembangkan masih besar nilainya, Rp84,1 miliar, meski turun dari Rp141,5 miliar karena sudah mulai dialihkan ke proyek. Dana yang dibatasi penggunaannya juga naik ke Rp12,3 miliar, menandakan keterikatan dana dengan skema escrow bank terkait pembiayaan KPR. Semua ini mengisyaratkan pola khas bisnis properti, di mana arus kas tertanam dalam tanah dan bangunan.
Kalau melihat liabilitas, totalnya naik dari Rp58,7 miliar ke Rp61,8 miliar. Utang bank jangka pendek justru turun dari Rp11,1 miliar ke Rp4,9 miliar, sementara utang jangka panjang melonjak ke Rp30,6 miliar dari Rp22,2 miliar. Jadi perusahaan jelas memilih restrukturisasi ke utang tenor panjang, strategi yang bisa meringankan beban jangka pendek tapi membuat ketergantungan pada bank lebih kuat. Rasio utang neto terhadap ekuitas di level 0,12, masih rendah dan tergolong aman.
Namun angka beban bunga tidak bisa diabaikan. Beban keuangan melonjak drastis dari Rp10 juta jadi Rp95,6 juta. Jadi walaupun leverage relatif rendah, bunga yang mesti dibayar mulai menggigit profit. Artinya, perusahaan harus memastikan proyek lancar agar utang tetap terlayani.
Pendapatan usaha setengah pertama 2025 tercatat Rp17,6 miliar, naik tipis dari Rp16,4 miliar di periode sama 2024. Sumber utama masih penjualan rumah di proyek Greenland dan jasa agen pemasaran. Beban pokok penjualan turun sedikit ke Rp9 miliar dari Rp9,36 miliar, sehingga margin kotor sedikit membaik. Beban penjualan naik ke Rp1,41 miliar dan beban umum administrasi di kisaran Rp3,35 miliar.
Dari sini terlihat laba bersih naik ke Rp3,53 miliar dari Rp2,13 miliar, peningkatan yang cukup signifikan secara persentase. Jadi secara akrual perusahaan terlihat makin sehat. Tapi sekali lagi, akrual itu hanya cerita di laporan laba rugi. Kalau kita bongkar laporan arus kas, ceritanya jauh berbeda.
Kas dari aktivitas operasi justru negatif Rp4,6 miliar per Juni 2025, padahal tahun sebelumnya masih positif Rp734 juta. Ini masalah serius karena laba yang dilaporkan tidak didukung aliran kas. Dalam enam bulan, kas dan bank berkurang Rp2,6 miliar, padahal di 2024 juga sempat turun Rp3,97 miliar. Jadi ini bukan sekali, tapi pola yang berulang. Perusahaan pada praktiknya menutup gap ini dengan mengandalkan utang bank. Terlihat dari arus kas pendanaan yang selalu positif. Hal ini lumrah di sektor properti, tapi kalau dibiarkan, lama-lama bikin struktur keuangan jadi rapuh.
Selain itu ada catatan penting soal pajak. Manajemen tidak mengakui aset pajak tangguhan dari rugi fiskal dengan alasan kecil kemungkinan ada laba kena pajak di masa depan. Pernyataan ini pesimistis, bahkan agak kontradiktif dengan laba bersih akrual yang tercatat naik. Ini bisa dibaca sebagai kehati-hatian manajemen atau justru sebagai tanda bahwa laba akrual tersebut dianggap tidak cukup kuat untuk menopang kewajiban pajak.
Apapun itu, bagi investor, ini bendera merah. Tambah lagi risiko likuiditas cukup nyata. Kas minim, arus kas operasi negatif, sementara kewajiban jatuh tempo tetap ada. Jika bank memperketat kredit, ruang gerak perusahaan bisa menyempit drastis.Risiko lain yang perlu dicatat adalah risiko suku bunga. RELF punya utang dengan bunga mengambang, jadi kalau bunga naik, biaya pinjaman otomatis ikut naik. Situasi ini sudah terlihat di lonjakan beban bunga.
Ditambah lagi, karena bisnis properti butuh modal besar di awal tapi pemasukan baru masuk di ujung proyek, mismatch kas seperti ini rawan sekali. Pengelolaan utang, pengaturan tempo proyek, dan percepatan serah terima rumah ke konsumen jadi kunci agar arus kas tidak terus negatif. Kalau gagal, mereka bisa untung di kertas tapi tekor di kas, dan itu tidak bisa dibiarkan terlalu lama.
RELF memang emiten properti skala kecil yang punya aset tumbuh dan laba akrual positif, tapi rapuh di arus kas. Mereka bisa bertahan jangka pendek dengan terus mengakses pendanaan eksternal, tapi keberlanjutan jangka panjang sangat bergantung pada kemampuan mengonversi rumah yang dibangun menjadi kas nyata. Profit akrual tanpa kas hanyalah angka di atas kertas.
Investor harus mencermati pola ini dengan hati-hati, karena kalau arus kas tetap defisit sementara utang makin besar, risikonya tinggi. Jadi RELF memang punya potensi lewat proyek yang sedang dibangun, tetapi kuncinya ada di eksekusi dan timing pencairan KPR dari konsumen. Tanpa itu, mereka akan terus jalan di atas jurang tipis, tampak untung tapi berisiko kehabisan nafas likuiditas.
RELF ini sedang dalam fase menarik karena posisinya sebagai developer properti kecil-menengah yang mengandalkan stok lahan dan proyek perumahan di Bogor. Domisilinya ada di Kemang, Kabupaten Bogor, dengan proyek utama Greenland Kemang dan Greenland Foresthill. Lahan yang dikuasai per 30 Juni 2025 mencapai 155.901 m² atau sekitar 15,59 hektare, terdiri dari 115.874 m² di Greenland Kemang dan 40.027 m² di Greenland Foresthill.
Angka ini naik cukup signifikan dibanding 31 Desember 2024 yang masih 117.519 m² atau 11,75 hektare karena saat itu Foresthill belum tercatat. Artinya dalam enam bulan ada ekspansi lahan lebih dari 4 hektare yang masuk ke neraca perusahaan. Beberapa bidang tanah ini juga dijadikan agunan ke bank, misalnya SHGB No 460 seluas 19.829 m² berlaku sampai 2049 dan SHGB No 1140 seluas 15.128 m² berlaku sampai 2051 yang dipakai sebagai jaminan ke Bank Ganesha maupun Bank BJB Syariah. Bahkan ada lahan 19.217 m² lain yang jadi jaminan ke Bank BJB Syariah, jadi bisa dibilang aset lahan RELF bukan cuma untuk pembangunan, tapi juga sebagai leverage untuk mendapatkan pembiayaan.
Dari sisi persediaan, tanah dalam pengembangan jadi pos terbesar. Nilainya per Juni 2025 sudah Rp124,36 miliar, melonjak dari Rp68,15 miliar di Desember 2024. Kenaikan hampir Rp56 miliar ini menunjukkan adanya penambahan biaya akuisisi tanah, pembangunan infrastruktur, dan juga bunga pinjaman yang dikapitalisasi. Tercatat bunga yang dimasukkan ke inventory mencapai Rp1,86 miliar di semester I 2025, setelah sebelumnya Rp3,48 miliar sepanjang 2024.
Kalau dihitung rata-rata, nilai tanah per hektare sudah tembus Rp7,98 miliar atau Rp797.709 per m², naik dari Rp5,80 miliar per hektare atau Rp579.902 per m² di akhir 2024. Jadi dalam hitungan sederhana, harga buku tanah yang dicatat RELF naik sekitar 37% hanya dalam setengah tahun, bukan karena harga pasar yang melonjak, tapi lebih karena biaya pengembangan yang makin besar. Selain itu ada pos tanah dan bangunan siap dijual senilai Rp41,43 miliar di Juni 2025, hampir sama dengan Rp41,05 miliar di akhir 2024, meski laporan tidak merinci porsi tanah murninya.
Kalau kita lihat dari sisi penjualan, uang muka pelanggan sudah Rp22,16 miliar per Juni 2025, naik tipis dari Rp20,68 miliar di Desember 2024. Jadi memang ada konsumen yang sudah bayar booking dan cicilan, tapi secara akuntansi belum bisa diakui sebagai revenue karena unit belum diserahterimakan. Selain itu ada dana titipan Rp350 juta, turun tajam dari Rp1,15 miliar sebelumnya.
Dana ini sifatnya macam-macam, mulai dari fee pemasaran KPR yang dititipkan bank, dana proyek Greenland Foresthill Extension, sampai titipan renovasi konsumen yang nanti dikembalikan setelah pekerjaan selesai. Jadi terlihat ada cashflow kecil-kecilan yang masih berjalan. Pelanggan utama jelas pembeli rumah, sementara kontraktor yang jadi vendor antara lain CV Bangkit Berkah Jaya, PT Rafa Sejahtera Mandiri, dan PT Baruna Kanaka Marga. Ini menunjukkan ketergantungan besar RELF pada pihak ketiga untuk eksekusi pembangunan.
Dari sisi pembiayaan, RELF punya sejarah panjang dengan bank. Dulu sempat punya utang Rp51 miliar ke Bank Ganesha dengan bunga 10,5% per tahun, tapi itu semua sudah dilunasi 26 Juni 2023. Setelah itu, sumber pendanaan utama pindah ke Bank BJB Syariah. Ada fasilitas musyarakah Rp35 miliar, sebagian untuk melunasi utang lama Rp18 miliar dan sisanya Rp17 miliar untuk infrastruktur Greenland Kemang.
Lalu ada kredit modal kerja Rp20 miliar dengan tenor 72 bulan sejak Desember 2024. Jadi bisa dibilang sekarang ketergantungan utang lebih condong ke BJB Syariah dengan jaminan lahan. Semua ini menunjukkan pola bisnis developer kecil yang memang mengandalkan tanah sebagai modal plus sebagai jaminan ke bank untuk dapat dana pembangunan.
Proyek yang lagi jalan sekarang adalah Greenland Kemang dan Greenland Foresthill. Aktivitasnya bukan cuma bangun rumah, tapi juga infrastruktur tambahan untuk Foresthill Extension, interior rumah contoh, sampai aplikasi digital Relifeasia. Jadi ada sedikit diversifikasi, walau inti bisnis tetap jualan rumah. Menariknya, meski sudah ada aktivitas pengembangan, laporan menyebut bahwa sampai pertengahan 2025 perusahaan belum mengakui pendapatan signifikan dari penjualan rumah. Jadi revenue core masih nol besar, yang ada baru uang muka pelanggan. Inilah yang bikin laporan keuangan terlihat berat sebelah, aset jalan, utang jalan, tapi laba belum kelihatan.
Kalau bicara risiko dan red flag, ada beberapa hal penting. Pertama, manajemen tidak mengakui aset pajak tangguhan dari rugi fiskal karena menilai kecil kemungkinan bisa menghasilkan laba kena pajak dalam waktu dekat. Ini sinyal manajemen agak pesimis soal taxable profit jangka pendek. Kedua, ada catatan bahwa dulu RELF pernah melanggar covenant kredit Bank Ganesha, walau akhirnya diberi waiver pada 2021.
Waiver itu mengikat mereka untuk lapor ke bank kalau ada perubahan struktur modal, manajemen, pembagian dividen, atau pembayaran utang ke pemegang saham. Jadi ada track record soal kedisiplinan finansial yang patut diingat. Ketiga, penerapan PSAK baru (PSAK 1, 16, 74) tidak banyak berpengaruh karena belum ada revenue signifikan, yang justru mempertegas bahwa bisnis masih tahap penyerapan modal.
Di luar itu, manajemen merasa risiko kredit, likuiditas, dan bunga masih terkendali. Mereka yakin piutang bisa tertagih, tidak ada CKPN, dan tidak ada indikasi penurunan nilai di inventory atau aset tetap. Tapi sebagai investor, intinya RELF sekarang berada di persimpangan. Mereka punya lahan lumayan luas dengan nilai buku yang terus naik, ada uang muka pelanggan yang menunjukkan minat pasar, ada akses ke kredit bank dengan agunan lahan.
Namun di sisi lain, revenue nyata belum ada, laba belum muncul, dan beban bunga terus menempel di inventory. Jadi RELF ini bisa dibilang masih fase bertahan dengan modal tanah dan pinjaman, sambil menunggu apakah penjualan unit bisa dikonversi jadi revenue nyata. Kalau berhasil, stok tanah yang sekarang dibukukan hampir Rp124 miliar bisa jadi mesin laba, tapi kalau tersendat, ya risikonya cashflow akan makin ketat.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


