Public Expose PT Panca Budi Idaman Tbk – 23 Mei 2025:
- PBID menargetkan pertumbuhan 10% di 2025 dengan strategi memperluas jangkauan distribusi (terutama di Indonesia Timur), peningkatan kapasitas pabrik baru di Jawa Tengah, serta diversifikasi produk kemasan. Fokus utama adalah efisiensi biaya dan peningkatan net profit margin.
- Perseroan tidak terlalu terdampak tarif trump karena ekspor hanya 3–5% dari total penjualan, dan hanya 26% dari ekspor tersebut yang ditujukan ke AS. Untuk mengantisipasi tarif, beberapa pembeli telah mempercepat purchase order sebelum kebijakan berlaku.
- CAPEX dianggarkan Rp40–60 miliar, 60–65% untuk tanah dan bangunan, sisanya untuk perawatan mesin. Sumber dana berasal dari kas internal berkat EBITDA yang kuat. Fokus ekspansi adalah pabrik baru di Boyolali dengan biaya UMR yang lebih rendah.
- Laba bersih naik 29,57% menjadi Rp487,17 miliar. Katalis utamanya adalah peningkatan penjualan domestik dan penurunan harga pokok penjualan akibat efisiensi bahan baku dan produksi.
- PBID tetap berkomitmen membagikan dividen tiap tahun. Kenaikan PPN menjadi 12% tidak berdampak signifikan karena produk kemasan plastik termasuk barang konsumsi yang dibutuhkan masyarakat.
- PBID mengelola risiko harga dengan divisi trading biji plastik, membeli saat harga turun. Target utamanya menjaga margin karena pelanggan pasar tradisional lebih sensitif terhadap stabilitas harga dibanding fluktuasi pasar global.
- PBID tidak melakukan PHK massal, tetapi melakukan efisiensi dengan memindahkan produksi ke daerah dengan UMR lebih rendah seperti Jawa Tengah. Produk plastik PBID tetap dibutuhkan karena fungsinya dalam membungkus bahan pokok.


