Di tengah pasar yang suka sensasi, PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI) justru berdiri tenang sebagai perusahaan konservatif yang konsisten cuan—bukan dari jual mahal premi, tapi dari mengelola dana premi secara disiplin dan cerdas.
Pada Q1 2025, MREI mencatat premi bruto Rp824,04 miliar, tapi hanya menyimpan Rp492,72 miliar (59,79%), sisanya dialihkan ke mitra global seperti Munich Re dan HDI dalam bentuk retrosesi. Konsep ini seperti “asuransi dalam asuransi”—sebuah lapisan perlindungan berjenjang, seperti mimpi di dalam mimpi.
Hasil akhirnya? Laba underwriting hanya Rp10,99 miliar atau margin 2,23%. Tipis, ya. Tapi bukan itu target utama mereka.
MREI memutar Rp3,04 triliun dana investasi ke instrumen aman:
- SBN: 53,8%
- Deposito: 13,6%
- Obligasi Korporasi: 12,4%
Dari situ, mereka mengantongi pendapatan investasi Rp53,45 miliar di Q1 saja, atau bisa tembus Rp200+ miliar per tahun—cukup untuk menutup operasional dan membukukan laba bersih tinggi secara konsisten.
Ruangan di Plaza Marein dan Treasury Tower disewakan ke penyewa seperti NH Korindo dan Centennial Suites, menyumbang pendapatan lain-lain ±Rp8 miliar per tahun. Skala kecil, tapi tetap menambah stabilitas.
- Ekuitas: Rp1,5 triliun
- Liabilitas: Rp3,7 triliun
- Solvabilitas: 237% (jauh di atas minimum)
- Laba Bersih Q1 2025: Rp50,82 miliar
- ROE: 13,53%
- Tanpa utang berbunga
Bahkan dengan cash flow operasional negatif Rp82 miliar, mereka tetap nyaman karena kas dari investasi positif Rp88 miliar.
- Harga saham: Rp685
- Book Value per Share: Rp2.902 → PBV 0,24x
- EPS Tahunan (proyeksi): Rp392,5 → PER 1,75x
Artinya, pasar hanya menghargai 24% dari nilai bukunya, dan butuh 1,75 tahun laba untuk balik modal. Ini deep value stock kelas berat—jarang, langka, dan biasanya hanya dilirik oleh investor yang sabar dan jeli.
Cari saham bagus tapi bingung mulai dari mana? Ini dia panduan yang kamu butuhkan.


