DCII alias PT DCI Indonesia Tbk adalah salah satu cerita paling epik di Bursa Efek Indonesia, dan mungkin juga salah satu yang paling absurd. Saham ini IPO pada 6 Januari 2021 di harga cuma Rp420 per lembar dengan jumlah saham yang ditawarkan ke publik sebanyak 357,56 juta lembar. Jadi dana yang dihimpun waktu itu cuma sekitar Rp150,18 Miliar, kecil banget untuk ukuran perusahaan teknologi.
Tapi dari angka kecil itulah lahir reli harga yang bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Karena sekarang, per Juli 2025, harga saham DCII sudah tembus Rp346.725 per lembar. Artinya naik lebih dari +82.400%. Ini bukan sekadar multi-bagger, ini sudah level supernova di BEI.
Saham ini dari awal memang bukan buat semua orang. Saat IPO, jumlah investor hanya 771 orang. Angka yang sangat kecil untuk saham publik. Tapi justru itu kuncinya. Karena makin sedikit yang punya, makin mudah digerakkan. Dan ini sejalan banget sama prinsip utama komunitas Pintar Nyangkut yaitu kunci utama goreng saham itu jangan ajak terlalu banyak orang. Makin banyak yang ikut makin berat gerakannya kecuali emang udah pengen jualan. DCII dari awal dikunci ketat. Hanya segelintir orang yang pegang dan mereka adalah orang-orang yang tahu betul apa yang mereka mainkan.
Struktur pemegang sahamnya dari awal sudah sangat terkonsentrasi. Otto Toto Sugiri langsung pegang 815 juta lembar atau 34,19 persen saham. Marina Budiman pegang 650 juta lembar alias 27,27 persen. Bahkan komisaris lain Djarot Subiantoro juga punya 19,3 juta lembar atau 0,81 persen. Jadi dari tiga orang itu saja sudah kuasai lebih dari 62 persen perusahaan. Sisanya baru 15 persen yang dijual ke publik saat IPO dan itu pun hanya dimiliki oleh kurang dari 800 orang.
Kalau dihitung nilai kekayaannya angka-angkanya bikin melongo. Saham milik Otto waktu IPO nilainya cuma Rp299,37 Miliar sekarang udah jadi Rp247,24 Triliun. Marina naik dari Rp225,33 Miliar ke Rp186,17 Triliun. Bahkan pemegang publik yang dapat jatah IPO pun sekarang pegang aset senilai Rp124,1 Triliun kalau masih tahan.
Tapi tentu saja itu semua masih nilai di atas kertas. Karena kenyataannya saham DCII sekarang dalam status suspended. Artinya tidak bisa diperdagangkan di pasar reguler. Entah karena harga yang terlalu tinggi kepatuhan aturan yang dilanggar atau alasan teknikal lainnya. Tapi intinya lo nggak bisa jual meskipun nilai di portfolio kelihatan fantastis.
Pola jumlah investor juga menarik. Di Maret 2025 jumlahnya sempat naik ke 985 orang. Tapi kemudian menurun terus jadi 960 lalu 908 kemudian 903. Ini bukti klasik pola konsolidasi. Retail sudah dijualin balik lagi ke tangan pemain utama. Karena seperti prinsip komunitas makin sedikit yang pegang makin gampang digoreng. Dan kalau udah mau distribusi baru ajak ritel rame-rame pakai narasi indah dan cerita manis.
Secara klasifikasi DCII masuk sektor teknologi papan pengembangan syariah dan indeks IDXTECHNO. Bisnisnya di data center dan secara fundamental sebenarnya menjanjikan. Tapi masalahnya sekarang adalah valuasinya udah terlalu jauh dari nalar. Dengan harga saham Rp346.725 dan jumlah saham miliaran lembar market cap-nya udah tembus ribuan triliun. Ini udah setara atau bahkan lebih tinggi dari BCA atau Telkom. Padahal dari sisi revenue dan profit DCII belum sedewasa itu. Jadi meskipun kelihatannya keren realitanya udah bubble kelas kakap.
DCII itu bukan cuma saham tapi juga pelajaran. Pelajaran tentang betapa pentingnya waktu masuk betapa berharganya informasi dan betapa brutalnya logika pasar. Ini bukan soal PER atau PBV. Ini soal siapa yang punya siapa yang bisa gerakin dan siapa yang bisa nahan. Dan buat retail kisah ini juga jadi peringatan. Kalau kamu diajak masuk waktu harga udah tinggi coba tanya dulu siapa yang lagi jualan. Karena kalau kamu yang pegang terakhir maka itu artinya kamu sedekah.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi.
PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


