Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightLPPF LK Q2 2025: NOBU Bank Jadi Sumber Cahaya Buat Matahari Di Tengah Core Bisnis...

LPPF LK Q2 2025: NOBU Bank Jadi Sumber Cahaya Buat Matahari Di Tengah Core Bisnis Redup

PT Matahari Department Store Tbk atau LPPF kelihatan masih bisa menunjukkan laba di laporan keuangan konsolidasian, tetapi kalau dibedah lebih dalam ternyata komposisi labanya tidak semuanya berasal dari bisnis inti yaitu department store. Justru porsi non-inti alias non-core profit yang menopang kinerja semester pertama 2025, dan ini membuat kualitas laba perlu dicermati dengan lebih hati-hati.

Di laporan laba rugi, ada pos keuntungan lainnya bersih yang melonjak tajam. Angkanya naik dari 16,32 miliar pada Juni 2024 menjadi 66,57 miliar di Juni 2025 atau tumbuh 307,88%. Lonjakan ini bukan karena penjualan baju atau perlengkapan rumah tangga, melainkan dari aktivitas bazaar, pembalikan cadangan penurunan nilai dan toko tutup, serta keuntungan lain-lain.

Partisipasi bazaar saja menyumbang 34,32 miliar di 2025, jauh lebih tinggi dari 11,83 miliar tahun lalu. Pembalikan cadangan yang sebelumnya membebani 4,85 miliar di 2024 malah jadi keuntungan 14,09 miliar di 2025. Lalu ada keuntungan lain-lain 27,53 miliar yang juga naik signifikan. Namun di sisi lain, pelepasan aset tetap justru rugi 9,41 miliar, naik dari rugi 0,77 miliar di 2024. Semua komponen ini jelas sifatnya temporer, tidak bisa diandalkan tiap tahun, sehingga wajar disebut non-inti.

Selain itu, kontribusi terbesar justru datang dari penghasilan komprehensif lain yaitu perubahan nilai wajar investasi ekuitas di Bank Nationalnobu Tbk atau Nobu Bank. LPPF mencatat keuntungan 174,72 miliar pada Juni 2025, padahal tahun lalu justru rugi 91,00 miliar. Penyebabnya harga saham Nobu Bank naik dari 575 per lembar di akhir 2024 menjadi 815 per lembar pada pertengahan 2025.

Ini membuat kertas laporan tampak bagus, tetapi faktanya tidak ada uang tunai masuk karena perubahan nilai wajar bersifat non-kas. Bahkan di catatan laporan, hal ini disebut sebagai significant non-cash investing activities. Jadi meski angkanya besar, ini sangat bergantung pada volatilitas pasar saham dan jelas bukan hasil kerja department store.

Kalau fokus ke laba periode berjalan, ternyata justru turun. Pada Juni 2024 laba tercatat 626,10 miliar, lalu di Juni 2025 turun jadi 604,04 miliar atau minus 3,52%. Laba operasi inti malah lebih parah karena anjlok 7,60%. Namun total penghasilan komprehensif justru naik 45,54% jadi 778,76 miliar, karena ditopang untung nilai wajar Nobu Bank. Artinya kalau hanya lihat laba bersih di laporan, kondisinya sebenarnya melemah, hanya saja tertutup dengan efek non-inti.

Masalah makin terlihat di arus kas. Saldo kas dan bank turun drastis dari 398,78 miliar di Desember 2024 jadi 190,01 miliar di Juni 2025. Arus kas operasi yang seharusnya jadi sumber utama malah turun 10,99% dari 771,51 miliar jadi 687,81 miliar. Sementara kas keluar besar dipakai untuk bayar dividen 668,18 miliar dan buyback saham 62,50 miliar. Perusahaan memang menambah pinjaman baru 275,00 miliar, tetapi secara total arus kas pendanaan tetap negatif 834,20 miliar. Jadi walaupun untung di kertas, kondisi kas nyata justru makin menipis.

Modal kerja juga memperlihatkan tren negatif. Net working capital atau modal kerja bersih tercatat minus 913,07 miliar di Desember 2024, lalu memburuk jadi minus 1,00 triliun di Juni 2025. Persediaan sedikit turun dari 727,55 miliar ke 703,62 miliar, piutang usaha juga turun dari 40,27 miliar jadi 26,98 miliar. Ini bisa terlihat positif karena mengurangi aset yang terikat, tetapi bisa juga berarti penjualan melambat. Utang usaha malah turun drastis dari 1,04 triliun ke 667,02 miliar, yang bisa jadi tanda pembayaran ke pemasok dipercepat atau memang pembelian barang menurun. Kalau pembayaran dipercepat, dampaknya jelas makin menekan kas.

Struktur biaya juga ikut berpengaruh. Beban pokok penjualan atau cost of goods sold menurun 10,72% yang lebih besar dibanding penurunan pendapatan 9,36%. Artinya ada efisiensi di sisi langsung. Tetapi beban usaha atau selling general and administrative expenses hanya turun 6,05%, sehingga margin operasi tetap tertekan. Inilah alasan kenapa laba operasi turun lebih dalam dibanding penjualan.

Kalau dilihat secara keseluruhan, manajemen modal kerja bisa dibilang belum bagus. Modal kerja negatif makin dalam, kas makin tipis, arus kas operasi melemah, sementara kewajiban tetap besar. Meskipun ada penurunan persediaan dan piutang, turunnya utang usaha dan saldo kas justru memberi tekanan. Kondisi ini membuat LPPF sangat bergantung pada pinjaman bank untuk menutup kebutuhan modal kerjanya.

Regulasi memang sedikit membantu. Tarif pajak penghasilan LPPF hanya 19% karena masuk kategori perusahaan terbuka dengan syarat tertentu, lebih rendah dari tarif normal 22%. Ini jelas meringankan beban pajak dan menambah laba bersih. Perusahaan juga punya dasar hukum untuk program buyback saham lewat aturan Otoritas Jasa Keuangan POJK 29 tahun 2023.

Cadangan wajib juga sudah dipenuhi sebesar 20% dari modal disetor. Namun di sisi lain, perubahan standar akuntansi PSAK tertentu menambah kompleksitas laporan. Perusahaan juga masih punya kovenan pinjaman bank yang harus dijaga. Selama kinerja inti masih turun, risiko gagal memenuhi kovenan tetap ada di depan mata.

Kalau ditanya apakah kondisi ini bagus, jawabannya lebih condong ke tanda warning. Memang perusahaan masih bisa cetak laba bersih, tetapi sumber utamanya semakin bergeser ke pos non-inti. Untung besar dari investasi Nobu Bank memang mempercantik laporan, tetapi itu bukan uang nyata dan tidak bisa dijadikan strategi jangka panjang. Core business malah menunjukkan pelemahan penjualan, margin operasi, dan kas operasi. Bahkan saldo kas yang nyata di rekening perusahaan justru makin menipis.

Kualitas laba LPPF di semester pertama 2025 ini bisa dibilang rapuh. Laporan terlihat indah karena non-core profit, tetapi di balik itu operasional department store sebagai mesin uang utama justru sedang melemah. Investor harus hati-hati membaca laporan seperti ini karena apa yang terlihat bagus di kertas belum tentu mencerminkan kekuatan bisnis inti di lapangan.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments