Manajemen menyampaikan capex 2025 mencapai sekitar Rp70 miliar yang mayoritas dialokasikan untuk peningkatan kapasitas produksi, termasuk mesin lab dan equipment. Tujuannya memastikan seluruh sales order dapat dipenuhi secara lebih optimal seiring permintaan yang meningkat.
Terkait isu kepemilikan, rencana buyback dari Fujikura disebut masih dalam tahap pembahasan. Keputusan atas saham yang akan dilepas oleh pemegang saham tersebut belum ditetapkan sehingga belum ada detail implementasi yang bisa dipastikan.
Perusahaan menyoroti keterbatasan pasokan tembaga sebagai tantangan eksternal yang memengaruhi industri. Mitigasi dilakukan melalui negosiasi suplai dan penyesuaian produksi agar pemenuhan order tetap terjaga.
Strategi branding diperkuat dengan penetrasi yang lebih dalam ke segmen distributor, retail, oil & gas, serta data center. Ekspansi kapasitas juga dibarengi pengembangan produk baru seperti panel surya untuk memperluas portofolio dan kanal penjualan.
Manajemen menyampaikan perusahaan memanfaatkan anak usaha Jembo Energindo untuk menangkap peluang proyek downstream nikel, PLTS, dan ekosistem EV. Arah diversifikasi ini diposisikan sebagai sumber pertumbuhan baru pada 2026 di luar bisnis kabel inti.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu. Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


