Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightKredit Turun, Laba Naik: Ada Apa dengan PNBN Kuartal Ini?

Kredit Turun, Laba Naik: Ada Apa dengan PNBN Kuartal Ini?

Kalau kita mau jujur dan buka-bukaan soal Panin Bank (PNBN) per Maret 2025, kondisinya bisa dibilang ibarat rumah tua bergaya kolonial: rangka bangunan masih kokoh, fondasi modal tebal, tapi ada bagian atap dan saluran air yang mulai butuh perhatian. Dari luar kelihatan kuat, tapi kalau kita bongkar satu-satu, banyak cerita di balik angka-angka yang bikin mikir, ini bank mau ke mana arahnya?

Pertama, dari neraca dulu. Total aset PNBN mencapai Rp228,9 triliun, menyusut 6,2% dibanding Desember 2024. Ini langsung bikin kita waspada, karena dalam kondisi normal bank seharusnya ekspansif, bertumbuh, bukan malah menyusut.

Kredit, yang mestinya jadi motor utama pendapatan, justru turun 2,9% menjadi Rp128,7 triliun. Sementara surat berharga yang biasanya jadi penopang pendapatan treasury juga turun cukup dalam ke Rp50,5 triliun (-19% QoQ).

Tapi anehnya, repo asset justru meledak 5 kali lipat jadi Rp5,3 triliun. Artinya apa? Ini indikasi bahwa bank lagi muter dana via carry trade yakni dengan jual surat berharga di pasar uang, beli kembali dengan janji jual ulang, dan selisihnya dijadikan margin. Tapi strategi ini hanya efektif jangka pendek, dan menyimpan risiko likuiditas kalau pasar uang mendadak kering.

Di sisi liabilitas, dana pihak ketiga (DPK) sebagai sumber utama pendanaan turun 1,8% jadi Rp139,2 triliun. Ini alarm tersendiri, karena artinya nasabah mulai tarik dana. Giro BI anjlok 39%, sinyal kuat bahwa dana murah dari korporasi mulai berpindah ke instrumen yang lebih atraktif.

Posisi repo payable juga turun drastis -61% jadi Rp8,2 triliun, konsisten dengan strategi repo asset tadi. Tapi hal ini menghasilkan mismatch antara kas keluar dan pencatatan pendapatan karena ternyata arus kas operasional PNBN jeblok dari +Rp4,7 triliun jadi -Rp9,7 triliun. Jadi walaupun di laporan laba kelihatan cetak untung, uang riilnya malah keluar dari bank.

Modal bank Panin sebetulnya sangat kuat. CAR 35,9% dan CET-1 27,4% adalah salah satu yang tertinggi di industri. Ini jadi airbag kalau ada kecelakaan. Ekuitas tumbuh 1,8% menjadi Rp57,3 triliun, utamanya dari laba ditahan.

Book value per share sekitar Rp2.210, dan dengan harga pasar Rp1.140, valuasinya diskon berat di 0,52x PBV. Forward PER kalau kita tahunanin laba Q1 (Rp749 miliar) juga jadi sekitar 9,4x, cukup murah dibanding rata-rata bank besar di atas 12x.

Soal profit, net interest income turun tipis -2,4% jadi Rp1,84 triliun karena biaya dana naik tajam 17,5%. NIM kemungkinan tertekan ke bawah 4%, yang bikin marjin laba makin sempit. Pendapatan non-bunga, terutama fee dan treasury income, juga ambrol 25%.

Tapi beban CKPN justru ditekan 35% jadi Rp197 miliar, yang menyebabkan laba bersih bisa naik tipis 1,2% ke Rp749 miliar. Tapi kita harus hati-hati karena laba yang naik karena CKPN ditekan artinya bank lagi mengatur napas sementara, bukan karena operasional yang kuat. Kalau ke depan ada kredit macet yang muncul lagi, beban ini bisa balik naik dan menghantam laba.

PNBN punya rantai bisnis yang cukup lengkap. Di hulu, mereka mengandalkan DPK dari ritel dan korporasi, obligasi yang diterbitkan, dan pinjaman antarbank. Di tengah, mereka menyalurkan dana ke kredit korporasi (konstruksi, perdagangan, jasa), konsumer (KPR dan KKB), serta membeli surat berharga (SUN, obligasi korporasi). Di hilir, nasabah-nasabah seperti debitur, investor wealth management PANS, dan mitra bancassurance jadi pengguna utama produk mereka.

Segmen jasa dan konstruksi adalah penyumbang terbesar kredit, tapi juga jadi penyumbang NPL tertinggi, terutama konstruksi yang NPL-nya mencapai Rp1,25 triliun. NPL bruto PNBN 3,33% per Maret 2025, naik dari 3,23% di Desember. CKPN Rp7,47 triliun, menghasilkan coverage ratio 75%, cukup tinggi tapi belum tebal.

Transaksi dengan pihak berelasi terbilang kecil dan tidak dominan. Kredit ke pihak berelasi hanya Rp2,24 triliun atau sekitar 1% dari total kredit. Deposito pihak berelasi sekitar Rp1,27 triliun, bunga yang diterima maupun dibayarkan dari/to pihak berelasi di bawah 1% dari total.

Ini artinya bank tidak terlalu tergantung pada grup internal. Tidak ada indikasi window dressing atau penggelembungan laba dari rekayasa transaksi intra-grup. Tak ada juga sengketa hukum besar atau default obligasi yang dilaporkan.

Risiko-risiko operasional cukup dikendalikan, termasuk risiko hukum, risiko reputasi, dan risiko IT. Namun risiko likuiditas cukup nyata, karena CFO negatif besar dan ketergantungan pada pasar uang lewat repo yang fluktuatif.

Risiko suku bunga juga besar, karena 72% kredit bersifat floating, sedangkan deposito dan obligasi mereka banyak yang fixed rate. Kalau BI rate turun, spread bisa tipis, sebaliknya kalau naik maka cost of fund bisa melonjak. Risiko mata uang relatif kecil karena eksposur valas rendah dan posisi neto positif.

Kelebihan utama PNBN adalah modal sangat tebal, CAR 35,9% jadi jaring pengaman utama. Valuasi murah, PBV 0,52x dan PER <10x. Tidak ada ketergantungan yang berlebihan pada pihak berelasi. Beban operasional cukup efisien, cost-to-income ratio ~54%.

Tapi kekurangan utamanya adalah rus kas operasional negatif tajam karena strategi carry trade repo. NPL naik dan coverage CKPN belum optimal. Pertumbuhan kredit lemah bahkan turun 2,9% yoy. Pendapatan non-bunga seperti fee dan treasury cenderung volatil dan turun tajam. Risiko likuiditas dan suku bunga makin besar kalau volatilitas pasar uang meningkat.

Untuk sementara kekurangan-kekurangan ini bisa ditutup dengan kelebihannya, karena modal masih sangat tebal dan manajemen risiko terlihat cukup konservatif. Tapi kalau strategi repo terus-menerus digunakan untuk menambal cashflow, dan kredit tetap mandek tanpa perbaikan kualitas maka itu bukan solusi jangka panjang. Apalagi kalau BI rate bergerak naik atau pasar uang mendadak ketat, risiko bisa langsung muncul.

Sebagai investor, harapannya jelas yakni bank bisa memperbaiki kualitas aset, mempercepat pertumbuhan kredit tanpa mengorbankan NPL, dan mengurangi ketergantungan pada pasar uang. Kalau ini terjadi, EPS bisa naik ke Rp150an, valuasi bisa rerating ke 0,8x PBV alias harga saham bisa ke Rp1.700–2.000.

Tapi kalau justru tekanan marjin makin besar, repo tidak bisa diputar dengan efisien, dan NPL makin naik, maka harga bisa stagnan atau turun, meskipun modal tebal. Artinya, PNBN itu bukan saham buat trader cepat cuan, tapi buat investor yang bisa sabar nunggu hasil turn-around sambil pegang modal safety margin yang lumayan besar.

Kalau dilihat dari struktur, PNBN itu bank yang fundamentalnya sehat tapi lagi seret napas. Nilainya bukan jelek, cuma belum seksi. Kayak mobil diesel tua yang tangguh di tanjakan, tapi perlu pemanasan lama. Bisa jadi kendaraan investasi yang nyaman kalau tahu cara nyetirnya.

Stop beli saham karena FOMO. Mulai cuan dengan strategi yang masuk akal. Klik sekarang!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments