Saturday, April 18, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightKOKA LK Q2 2025: Katanya Mau Dibeli Ningbo

KOKA LK Q2 2025: Katanya Mau Dibeli Ningbo

PT Koka Indonesia Tbk adalah perusahaan jasa konstruksi yang berdiri pada tahun 2011, memulai operasi komersialnya pada 2012, dan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 11 Oktober 2023 dengan melepas 715 juta saham ke publik. Sejak awal, fokus bisnisnya ada pada konstruksi gedung industri, sipil, dan hunian, tanpa ekspansi ke sektor lain seperti properti investasi.

Struktur kepemilikan sangat terkonsentrasi, di mana Gao Jing memegang 42,75% saham sekaligus menjadi Direktur Utama dan ultimate beneficial owner. Selain itu, PT Kreatif Konstruksi Indonesia memiliki 24,75%, Gao Jinfeng 5,40%, Pei Yaxing 2,10%, dan sisanya publik 25%. Jadi pengendali utama atau PSP jelas berada di tangan Gao Jing bersama jaringan dekatnya.

Kalau ditanya apakah KOKA adalah perusahaan yang layak disebut pencetak laba, data terbaru justru menunjukkan sebaliknya. Pada Q1 2025, pendapatan mereka hanya Rp1,52 miliar, turun 92,88% dibanding Rp21,29 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari pendapatan itu, laba kotor Rp492,5 juta masih menghasilkan margin kotor 32,5%.

Namun karena beban administrasi dan umum Rp4,01 miliar tidak bisa turun secepat penjualan, perusahaan mencatat rugi operasi Rp3,52 miliar dengan margin operasi minus 232,4%. Hasil akhir adalah rugi bersih Rp3,78 miliar alias margin bersih minus 249,6%. Bandingkan dengan Q1 2024 di mana KOKA masih bisa laba Rp962 juta, jelas terlihat growth pendapatan dan laba berbalik negatif.

Model bisnis KOKA juga tidak mendukung stabilitas jangka panjang. Semua pendapatan berbasis proyek non recurring, tidak ada recurring income seperti sewa atau landbank yang bisa dikembangkan. Pelanggan pun sangat terkonsentrasi, Q1 2024 sebesar 84% revenue datang dari PT Chengtok Lithium Indonesia, sementara di Q1 2025 bergeser ke PT Delonix Charlie Investment sebesar 51% dan PT Kinxiang New Energy Technologies 32%. Ketergantungan seperti ini menciptakan risiko tinggi, karena jika satu klien menghentikan proyek, dampaknya langsung terasa ke pendapatan dan kas. Vendor di sisi lain juga menekan, dengan utang usaha Rp28,10 miliar yang tetap harus dibayar.

Neraca per 31 Maret 2025 menunjukkan total aset Rp211,86 miliar. Posisi terbesar ada pada Aset Kontrak Rp104,76 miliar atau 50% dari total aset. Aset tetap Rp51,80 miliar berisi tanah, bangunan, alat berat, dan kendaraan. Tanah yang dimiliki hanya sebidang di Pasirgombong Cikarang Utara dengan status HGB, tetapi tidak diungkap luasnya sehingga tidak bisa dianggap sebagai cadangan lahan signifikan. Total liabilitas hanya Rp35,75 miliar dengan ekuitas Rp176,12 miliar, menghasilkan DER 0,20 kali. Tidak ada utang bank maupun obligasi berbunga, jadi dari sisi beban bunga memang aman. Namun sehat di neraca tidak berarti aman di likuiditas.

Masalah terbesar justru ada di arus kas. CFO pada Q1 2025 tercatat negatif Rp17,47 miliar, lebih buruk daripada negatif Rp16,17 miliar di Q1 2024. Kas yang pada akhir 2024 masih Rp18,51 miliar turun drastis menjadi hanya Rp133,4 juta per 31 Maret 2025, anjlok 99,28% dalam tiga bulan. Free cash flow juga minus Rp17,58 miliar karena capex Rp108 juta. Data detail menunjukkan pembayaran ke pemasok Rp16,05 miliar, sementara penerimaan kas dari pelanggan hanya Rp1,12 miliar. Jadi jelas perusahaan membayar vendor jauh lebih cepat dibanding menerima pembayaran proyek, membuat siklus kasnya defisit parah.

Red flag tambahan datang dari transaksi pihak berelasi. Piutang kepada Gao Jing tercatat Rp5,39 miliar tanpa bunga, kepada PT Kreatif Konstruksi Rp159 juta, dan ke PT Koka Furniture Rp736 juta dengan bunga 8,5%. Selain itu ada uang muka ke PT Koka Furniture Rp5,49 miliar, ke PT Koka Berlian Rp4,50 miliar, dan kepada Pei Yaxing Rp3,96 miliar. KOKA juga mencatat investasi pada entitas asosiasi PT Cahaya Mega Beton Rp14,63 miliar dengan kepemilikan 15%.

Total eksposur ke pihak berelasi mencapai Rp20,24 miliar atau 9,6% dari aset dan 11,5% ekuitas, bahkan 104 kali lipat posisi kas. Jika memasukkan investasi asosiasi, jumlahnya Rp34,87 miliar atau 16,5% aset. Transaksi ini jadi red flag karena dana kerja terkunci di ekosistem internal, sementara perusahaan kehabisan kas untuk operasional.

Kalau dirangkum, modal kerja perusahaan terkunci di aset kontrak dan uang muka berelasi, capex minim, opex tetap tinggi, P&L rugi, CFO negatif besar. Revenue turun parah, SGA tidak elastis, kas nyaris habis. Tidak ada recurring income, tidak ada cadangan lahan yang bisa dikembangkan, tidak ada kontrak jangka panjang yang menguntungkan. Semua ini menunjukkan laba yang pernah muncul tidak sustainable karena tidak didukung arus kas. Anomali jelas terlihat pada mismatch laba akuntansi yang kecil dengan CFO yang negatif dalam.

Dari sisi regulasi, kewajiban tender wajib pasca perubahan pengendali diatur oleh OJK. Kalau akuisisi oleh Ningbo Lixing benar terjadi, maka setelah pengambilalihan mayoritas saham akan dilakukan penawaran tender wajib. Dari sisi peluang, masuknya investor baru bisa berarti tambahan modal kerja dan akses proyek infrastruktur. Dari sisi hambatan, masalah utama bersumber dari internal KOKA sendiri, terutama tata kelola, likuiditas, dan konsentrasi klien. Tidak ada informasi tentang kasus hukum besar yang membebani, tetapi kontrak internal dengan pihak berelasi justru lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.

Mengapa akhirnya ada rencana akuisisi? Karena KOKA sudah berada di titik kritis. Revenue jatuh, rugi besar, kas habis, dan dana kerja tersangkut di pihak berelasi. Ningbo Lixing melihat peluang membeli emiten publik yang neracanya bersih dari utang berbunga, lebih cepat dan murah dibanding mendirikan perusahaan baru. Dari sisi KOKA, ini jadi penyelamat karena tanpa tambahan modal mereka berisiko gagal bayar kewajiban dasar. Logikanya akuisisi ini masuk akal, tetapi statusnya masih rencana, harga dan tanggal penyelesaian belum final, bahkan Ningbo belum memegang saham.

Apakah sudah pasti akan terjadi akuisisi? Belum tentu. Masih ada kemungkinan gagal, sebagaimana kasus IOTF yang rencana akuisisinya dibatalkan karena penawaran akhir ditolak. Jadi meski di atas kertas akuisisi KOKA tampak logis, kepastian realisasinya tetap tergantung kesepakatan harga, persetujuan regulator, dan komitmen kedua pihak. Kalau jadi, KOKA punya peluang turnaround lewat injeksi modal dan proyek baru. Kalau gagal, risiko dilusi atau skenario pendanaan darurat sangat tinggi karena kondisi keuangan sekarang sudah kritis.

Kalau dilihat dari sisi fundamental, sebenarnya tidak ada logika finansial yang kuat untuk membeli KOKA di harga tinggi. Angka Q1 2025 sudah sangat gamblang. Revenue cuma Rp1,52 miliar, anjlok 92,88% dari Rp21,29 miliar setahun sebelumnya. Rugi bersih Rp3,78 miliar, arus kas operasi minus Rp17,47 miliar, free cash flow minus Rp17,58 miliar, dan kas yang tersisa tinggal Rp133 juta. Itu semua menandakan bisnis dalam kondisi sekarat. Tambah lagi ada red flag serius berupa transaksi pihak berelasi senilai Rp20,24 miliar dalam bentuk uang muka dan piutang, yang jumlahnya setara 104 kali posisi kas. Jadi kalau pakai kacamata value investor, harga wajar KOKA justru jauh di bawah harga pasar sekarang, bukan premium.

Tapi kalau dilihat dari kacamata strategis, ada alasan kenapa Ningbo Lixing masih mau masuk. Pertama, status KOKA sebagai perusahaan publik. Dengan free float 25%, KOKA sudah tercatat di BEI, jadi bagi investor asing jauh lebih cepat dan murah akuisisi emiten kecil ini daripada bikin perusahaan baru lalu menunggu proses IPO. Yang mereka beli bukan kinerja saat ini, tapi tiket masuk instan ke pasar konstruksi Indonesia. Kedua, meski kas kritis, neraca KOKA relatif bersih. DER cuma 0,20 kali, tanpa utang bank maupun obligasi, jadi mereka tidak perlu repot melunasi beban lama. Kalau ada suntikan modal baru, dana itu bisa langsung dipakai untuk proyek, bukan sekadar tambal utang.

Ketiga, dari sisi bisnis, Ningbo bisa memanfaatkan KOKA sebagai kendaraan kosong yang tinggal diisi proyek-proyek dari jaringan mereka. Jadi harga akuisisi yang tampak mahal bisa dianggap sebagai biaya pintu masuk strategis, bukan mencerminkan valuasi fundamental saat ini. Keempat, aturan OJK tentang tender offer juga berperan. Dengan rata-rata harga tertinggi 90 hari Rp87, harga minimal MTO memang tidak perlu tinggi. Tapi jika transaksi pengambilalihan saham pengendali disepakati di harga lebih tinggi, misalnya Rp120 sampai Rp150, maka angka itu otomatis jadi patokan MTO. Jadi bukan soal layak tidaknya KOKA dibayar mahal berdasarkan kinerja, tapi soal deal dengan pemegang lama dan nilai strategis jangka panjang.

Secara fundamental jelas tidak masuk akal bayar mahal untuk KOKA. Tapi dari kacamata strategi korporasi, ada justifikasi. Yang dibeli bukan laporan laba rugi 2025 yang merah, melainkan status Tbk, akses cepat ke pasar Indonesia, dan peluang memegang perusahaan yang bebas dari utang berbunga. Dengan perspektif ini, akuisisi KOKA lebih masuk akal dipandang sebagai langkah strategis daripada keputusan investasi murni berbasis fundamental.

Struktur kepemilikan Ningbo Lixing menampilkan tiga nama. Shao Yongkai memegang 51%, lalu Ye Youli dan Chen Liwei masing-masing 24,5%. Shao Yongkai sendiri adalah direktur eksekutif sekaligus legal representative perusahaan. Yang agak janggal, ada dokumen filing di bursa Hong Kong yang menyebut ultimate beneficial owners justru Ye Youli dan Chen Liwei dengan porsi 50% banding 50%, sementara nama Shao Yongkai tidak disebut. Artinya ada potensi beda catatan antara registrasi perusahaan di daratan dengan laporan ke regulator luar negeri, yang bisa jadi karena peran nominee, perubahan kepemilikan, atau memang update yang belum sinkron.

Kalau dilihat dari gaya operasional, Ningbo Lixing ini relatif muda, baru lahir 2021, tapi langsung menaruh modal besar 50 juta RMB. Lokasinya juga strategis, di Meishan Free Trade Zone, kawasan pelabuhan dan pusat bisnis yang memang sering dipakai sebagai domisili entitas investasi atau SPV. Yang bikin alis sedikit terangkat, mereka masih pakai email QQ gratisan, padahal untuk transaksi akuisisi lintas negara biasanya wajar kalau sudah ada domain resmi. Ditambah jejak web publik yang minim, tidak ada situs resmi, hanya listing di agregator dan direktori rekrutmen. Jadi kesan pertama, ini lebih mirip kendaraan investasi daripada perusahaan dengan aktivitas operasional riil.

Sekarang masuk ke sosok Shao Yongkai. Selain jadi bos Ningbo Lixing, namanya muncul juga sebagai limited partner di Ningbo Yufeng Enterprise Management Partnership, sebuah platform insentif karyawan Lygend Resources. Porsinya kecil, 2,74%, tapi cukup membuktikan ia orang dalam jaringan Lygend. Shao juga tercatat sebagai pengawas di Ningbo Tuotu Mining Co., Ltd yang beralamat di Meishan Business Center dan berada di bawah Zhejiang Lygend Investment. Artinya jelas ia tidak asing dengan dunia nikel dan proyek yang digarap grup Lygend.

Lygend sendiri siapa? Ini pemain besar nikel asal Tiongkok yang listing di HKEX dengan kode 2245. Mereka bukan cuma dagang nikel, tapi juga jalankan smelter HPAL untuk produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) dan RKEF untuk feronikel. Aset andalan mereka ada di Pulau Obi, Indonesia, lewat proyek Obi Nickel-Cobalt (ONC) untuk HPAL dan KPS untuk RKEF. Di Ningbo, mereka bangun Meishan International Supply Chain Center. Jadi bisnisnya jelas padat modal, padat proyek, dan punya keterkaitan erat dengan Indonesia.

Pertanyaan pentingnya, apakah Ningbo Lixing bagian dari Lygend? Jawaban yang bisa diverifikasi saat ini, tidak. Dalam prospektus dan pengumuman resmi Lygend, daftar entitas afiliasi yang jadi platform insentif karyawan adalah Ningbo Yufeng, Ningbo Litai, Ningbo Xinpan, dan Ningbo Yangcheng. Nama Ningbo Lixing tidak ada. Jadi kalau bicara hubungan korporasi resmi, tidak tercatat. Yang ada hanya keterkaitan personal, karena Shao Yongkai sebagai bos Lixing juga punya peran di platform insentif Lygend. Lokasi di Meishan memang sama, tapi itu juga karena kawasan Meishan memang pusat entitas investasi dan logistik.

Kesimpulannya, Ningbo Lixing ini perusahaan muda di Meishan dengan modal terdaftar cukup besar dan legal rep Shao Yongkai. Dari sisi profil publik, lebih menyerupai kendaraan investasi ketimbang perusahaan dengan operasional nyata. Hubungan dengan Lygend tidak langsung, melainkan lewat orang dalam yaitu Shao yang juga partner di platform insentif Lygend dan pengawas di entitas tambang terkait Lygend. Jadi masuknya Lixing ke KOKA bisa dibaca sebagai langkah kendaraan investasi yang setidaknya punya link personal ke jaringan nikel raksasa Tiongkok. Bagi pihak luar, hal-hal seperti perbedaan data pemilik, email QQ, dan minimnya jejak publik seharusnya jadi red flag untuk due diligence tambahan.

Kalau mau aman, langkah verifikasi yang logis adalah minta salinan terbaru dari National Enterprise Credit Information Publicity System di China, cek siapa pemegang saham terkini dan apakah ada perubahan besar, lalu cocokkan dengan pengungkapan HKEX soal siapa ultimate beneficial owner. Jangan lupa juga konfirmasi kantor fisik di Meishan Business Center Tower 5 ruang 675 benar-benar ada aktivitas, dan pastikan ada domain email perusahaan yang layak. Jadi kesimpulan akhirnya, Ningbo Lixing bukan perusahaan sembarangan karena bisa ambil alih KOKA, tapi juga bukan perusahaan yang transparan dengan jejak publik yang jelas, sehingga perlu dicermati betul langkahnya.

Lygend dan NCKL bekerja sama membangun proyek HPAL Obi, yang menghasilkan MHP buat baterai EV. Hubungan ini bukan cuma soal proyek, tapi juga transaksi dagang. Laporan kuartal 3 tahun 2024 NCKL terang-terangan nyebut bahwa Lygend adalah pembeli terbesar produknya, dengan nilai transaksi mencapai Rp 10,8 triliun. Jumlah segede ini bikin kontribusi Lygend ke pendapatan segmen pengolahan NCKL sekitar 40%. Jadi bisa dibilang, sebagian besar nikel olahan NCKL mengalir ke Lygend.

Buat NCKL, punya pembeli sebesar Lygend itu ibarat punya jangkar kuat. Mereka jadi lebih pede untuk ekspansi karena sudah ada pasar yang jelas. Buat Lygend, belanja langsung dari NCKL bikin suplai aman untuk menopang kebutuhan nikel di China yang gila-gilaan, apalagi buat industri baterai dan energi bersih. Tapi hubungan sebesar ini juga berarti NCKL cukup tergantung pada Lygend. Kalau nanti harga nikel anjlok atau ada aturan ekspor baru dari pemerintah Indonesia, efeknya bisa langsung kena ke keduanya.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments