Pada semester pertama tahun 2025, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mencatatkan kinerja yang memberikan gambaran tentang posisi keuangan dan operasional perusahaan selama periode ini. Kinerja perusahaan menunjukkan penurunan laba dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama disebabkan oleh kerugian neto atas investasi pada saham dan efek lainnya.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Aset
- Total Aset: Aset perusahaan pada 30 Juni 2025 tercatat sebesar Rp56,39 triliun, mengalami penurunan sebesar 2,52% dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2024 yang sebesar Rp57,84 triliun.
- Aset Lancar: Aset lancar tercatat sebesar Rp2,03 triliun, yang terdiri dari kas dan setara kas, piutang, dan aset lancar lainnya.
- Aset Tidak Lancar: Aset tidak lancar tercatat sebesar Rp54,36 triliun, yang sebagian besar merupakan investasi pada saham dan efek lainnya.
Liabilitas
- Total Liabilitas: Total liabilitas perusahaan tercatat sebesar Rp4,50 triliun, turun signifikan sebesar 25,81% dari Rp6,07 triliun pada akhir tahun 2024, terutama karena pembayaran pinjaman bank.
- Liabilitas Jangka Pendek: Liabilitas jangka pendek tercatat sebesar Rp939,34 miliar.
- Liabilitas Jangka Panjang: Liabilitas jangka panjang tercatat sebesar Rp3,56 triliun, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
Ekuitas
- Total Ekuitas: Ekuitas perusahaan mencapai Rp51,88 triliun, yang mencatatkan peningkatan tipis sebesar 0,21% dibandingkan akhir tahun 2024.
Laporan Laba Rugi
Pendapatan
- Total Pendapatan: Pada semester 1 2025, pendapatan usaha perusahaan (terdiri dari pendapatan dividen dan bunga) tercatat sebesar Rp1,29 triliun, yang mengalami penurunan sebesar 15,03% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,52 triliun.
Laba Bersih
- Laba (Rugi) Bersih: Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat rugi sebesar Rp446,39 miliar. Kinerja ini berbalik dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan laba sebesar Rp102,02 miliar. Penurunan ini terutama didorong oleh kerugian neto atas perubahan nilai wajar investasi pada saham dan efek lainnya sebesar Rp1,82 triliun.
Laba Per Saham (EPS)
- EPS: Laba per saham perusahaan tercatat sebesar -Rp33, menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan semester 1 2024 yang sebesar Rp8.
Rasio Keuangan
Rasio Likuiditas
- Current Ratio: 2,16 kali. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan yang sangat sehat untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aset lancarnya.
- Quick Ratio: 2,16 kali. Karena perusahaan investasi tidak memiliki persediaan, rasio cepatnya sama dengan rasio lancar, yang mengkonfirmasi likuiditas yang kuat.
Rasio Profitabilitas
- Margin Laba Bersih: -34,48%. Margin negatif ini menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kerugian dari pendapatan operasionalnya pada periode ini.
- Return on Assets (ROA): -1,58% (disetahunkan). Ini menunjukkan efisiensi yang negatif dalam penggunaan aset untuk menghasilkan laba.
- Return on Equity (ROE): -1,72% (disetahunkan). Rasio ini mengukur imbal hasil negatif dari ekuitas yang diinvestasikan oleh pemegang saham.
Rasio Solvabilitas
- Debt to Equity Ratio (DER): 0,087 kali atau 8,7%. Rasio ini sangat rendah, menggambarkan tingkat risiko finansial perusahaan yang minimal dan struktur permodalan yang kuat.
Valuasi Perusahaan
Price to Earnings Ratio (PER)
- PER: Tidak dapat dihitung (N/M). Dengan laba per saham (EPS) yang negatif, rasio PER menjadi tidak bermakna untuk valuasi saat ini.
Price to Book Value (PBV)
- PBV: 0,49 kali. PBV perusahaan pada 30 Juni 2025 adalah 0,49x, yang dihitung berdasarkan harga penutupan saham Rp1.875 dan nilai buku per saham (BVPS) sebesar Rp3.829. Rasio dibawah 1x ini mengindikasikan bahwa harga pasar saham saat ini berada di bawah nilai buku perusahaan.
Kesimpulan
Analisis ini memberikan gambaran umum tentang kinerja keuangan perusahaan pada semester pertama tahun 2025. Meskipun perusahaan mencatatkan kerugian bersih akibat fluktuasi nilai investasi portofolionya, posisi fundamentalnya tetap solid. Hal ini ditunjukkan oleh struktur permodalan yang kuat dengan rasio utang yang sangat rendah dan posisi likuiditas yang sehat. Namun, investor perlu mencermati volatilitas pasar yang mempengaruhi nilai investasi perusahaan. Valuasi PBV yang rendah menunjukkan bahwa saham SRTG diperdagangkan dengan diskon terhadap nilai bukunya, yang bisa menjadi pertimbangan bagi investor jangka panjang. Selalu penting untuk mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi makroekonomi dan prospek sektor investasi perusahaan, dalam mengambil keputusan investasi.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi.
PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!


