Pada semester pertama tahun 2025, PT Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL) mencatatkan kinerja yang memberikan gambaran tentang posisi keuangan dan operasional perusahaan selama periode ini.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Aset
- Total Aset: Aset perusahaan pada 30 Juni 2025 tercatat sebesar Rp 1.685,93 triliun, mengalami perubahan sebesar penurunan 22,72% dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2024 yang sebesar Rp 2.181,26 triliun.
- Aset Lancar: Aset lancar mengalami turun sebesar 26,38% menjadi Rp 1.239,38 triliun.
- Aset Tidak Lancar: Aset tidak lancar menyusut 10,32% menjadi Rp 446,25 triliun.
Liabilitas
- Total Liabilitas: Total liabilitas perusahaan tercatat sebesar Rp 796,22 miliar,
turun sebesar 37,83% dari akhir tahun 2024. - Liabilitas Jangka Pendek: Liabilitas jangka pendek mengalami perubahan sebesar penurunan 38,94%, menjadi Rp 759,97 miliar.
- Liabilitas Jangka Panjang: Liabilitas jangka panjang tercatat sebesar Rp 36,15 miliar, mengalami peningkatan tipis sebesar 0,44%.
Ekuitas
- Total Ekuitas: Ekuitas perusahaan mencapai Rp 889,71 miliar , yang mencatatkan
penurunan sebesar 1,22% dibandingkan akhir tahun 2024.
Laporan Laba Rugi
Pendapatan
- Total Pendapatan: Pada semester 1 2025, pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp 1.016,63 miliar , yang mengalami penurunan sebesar 12,50% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1.161,71 miliar.
Laba Bersih
- Laba Bersih: Perusahaan mencatatkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 12,49 miliar. Kinerja ini menunjukkan perbaikan signifikan sebesar 79,86% dari rugi bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 62,01 miliar. Perbaikan ini didorong oleh efisiensi pada beban pokok penjualan yang turun lebih tajam daripada pendapatan.
Laba Per Saham (EPS)
- EPS: Rugi per saham perusahaan tercatat sebesar Rp 4,84, menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan rugi per saham pada semester 1 2024 yang tercatat sebesar Rp 24,19.
Rasio Keuangan
Rasio Likuiditas
- Current Ratio: Sebesar 1,63 kali. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan yang sehat untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aset lancarnya.
- Quick Ratio: Sebesar 1,11 kali. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek tanpa mengandalkan persediaan, yang berada pada level yang baik.
Rasio Profitabilitas
- Margin Laba Kotor: Sebesar 4,53%. Rasio ini menunjukkan seberapa efisien perusahaan menghasilkan laba dari pendapatan penjualannya.
- Margin Laba Bersih: Sebesar -1,23%. Ini menggambarkan bahwa perusahaan masih mencatatkan rugi bersih setelah dikurangi semua biaya dan pajak, meskipun menipis secara signifikan dari tahun sebelumnya.
Rasio Efisiensi
- Return on Assets (ROA): Sebesar -1,48% (disetahunkan). Ini menunjukkan perusahaan belum efisien dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan laba.
- Return on Equity (ROE): Sebesar -2,81% (disetahunkan). Rasio ini mengukur bahwa laba belum dihasilkan dari ekuitas yang diinvestasikan oleh pemegang saham.
Rasio Solvabilitas
- Debt to Equity Ratio (DER): Sebesar 0,89 kali (atau 89%). Rasio ini mengukur proporsi antara utang perusahaan dengan ekuitas yang dimiliki, yang menunjukkan tingkat risiko finansial yang terkendali dan membaik dari akhir tahun 2024 yang sebesar 1,42 kali (atau 142%).
Valuasi Perusahaan
Price to Earnings Ratio (PER)
- PER: Dengan laba per saham (EPS) yang masih negatif, maka PER perusahaan tidak dapat dihitung atau tidak bermakna.
Price to Book Value (PBV)
- PBV: PBV perusahaan pada 30 Juni 2025 adalah 0,66x, yang dihitung berdasarkan harga penutupan saham Rp 232 dan nilai buku per saham sebesar Rp 352,59. Rasio di bawah 1x ini mengindikasikan harga pasar saham perusahaan berada di bawah nilai buku ekuitasnya.
Kesimpulan
Analisis ini memberikan gambaran bahwa kinerja keuangan NIKL pada semester pertama tahun 2025 menunjukkan adanya upaya perbaikan yang signifikan. Meskipun pendapatan dan total aset menurun, perusahaan berhasil menekan beban pokok penjualan secara efektif, yang menyebabkan rugi bersih menyusut drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rasio solvabilitas (DER) membaik secara signifikan, menandakan berkurangnya risiko utang. Namun, dari sisi valuasi, harga saham yang berada di bawah nilai buku (PBV 0,66x) mencerminkan sentimen pasar yang masih berhati-hati terhadap profitabilitas perusahaan di masa depan. Investor perlu mempertimbangkan prospek pemulihan pendapatan dan kemampuan perusahaan untuk kembali mencetak laba bersih dalam mengambil keputusan investasi.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


