Pada kuartal ketiga tahun 2025, PT Express Transindo Utama Tbk mencatatkan kinerja yang memberikan gambaran menyeluruh tentang posisi fundamental dan arah strategi operasional perusahaan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Analisis berikut mengulas perkembangan neraca, profitabilitas, rasio keuangan, hingga valuasi pasar saham perusahaan.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Aset
- Total Aset: Per 30 September 2025, total aset tercatat sebesar Rp 55.083.458.000, mengalami penurunan 6,52% dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2024 sebesar Rp 58.924.171.000.
- Aset Lancar: Aset lancar menurun 8,07% menjadi Rp 50.924.512.000, terutama dipengaruhi oleh penurunan signifikan pada kas dan setara kas, yang turun 77,06% dari Rp 5.536.984.000 menjadi Rp 1.270.014.000.
- Aset Tidak Lancar: Aset tidak lancar tercatat sebesar Rp 4.158.946.000, naik 17,73%, didorong oleh pencatatan baru “Aset hak guna” (Right of Use Asset) sebesar Rp 792.222.000.
Liabilitas
- Total Liabilitas: Hingga akhir September 2025, liabilitas mencapai Rp 4.076.373.000, naik 11,43% dibandingkan akhir tahun lalu.
- Liabilitas Jangka Pendek: Tercatat sebesar Rp 1.328.251.000, meningkat 45,93%, terutama disebabkan oleh kenaikan “Utang pajak” (Tax payables).
- Liabilitas Jangka Panjang: Berada di posisi Rp 2.748.122.000, dengan tidak ada perubahan (0,00%), mencerminkan tidak adanya perubahan pada struktur jaminan pengemudi dan liabilitas imbalan kerja.
Ekuitas
- Total Ekuitas: Ekuitas perusahaan tercatat sebesar Rp 51.007.085.000, turun 7,71% dibandingkan 31 Desember 2024, didorong oleh rugi bersih tahun berjalan yang mengurangi saldo laba (defisit).
Laporan Laba Rugi
Pendapatan
Selama sembilan bulan pertama 2025, pendapatan perusahaan mencapai Rp 2.179.446.000, turun 24,77% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2.897.150.000. Penurunan ini terutama ditopang oleh penurunan pendapatan dari “Sewa kendaraan”.
Laba Bersih
Rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 4.255.671.000, atau membengkak 55,33% YoY dari rugi bersih periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2.739.796.000. Perubahan ini disebabkan oleh pendapatan yang turun sementara “Beban pokok pendapatan” tidak turun secara proporsional, serta kenaikan “Beban umum dan administrasi”.
Earnings per Share (EPS)
EPS tercatat sebesar Rp (0,42), mencerminkan penurunan 55,56% YoY dari Rp (0,27) pada Q3 2024.
Rasio Keuangan
Likuiditas
- Current Ratio: 38,34x, menunjukkan kemampuan perusahaan yang sangat tinggi dalam memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan aset lancar.
- Quick Ratio: 38,34x, mengindikasikan likuiditas yang sama kuatnya karena tidak adanya persediaan yang tercatat per 30 September 2025.
Profitabilitas
- Margin Laba Kotor: -124,36%, menunjukkan perusahaan mengalami kerugian bruto (biaya pokok pendapatan lebih tinggi dari pendapatan).
- Margin Laba Bersih: -195,26%, mencerminkan tingkat kerugian yang signifikan setelah dikurangi seluruh beban operasional dan pajak.
Efisiensi & Pengembalian
- Return on Assets (ROA): -10,30% (disetahunkan), menilai efektivitas pemanfaatan aset yang negatif dalam menghasilkan laba bersih.
- Return on Equity (ROE): -11,12% (disetahunkan), menggambarkan imbal hasil negatif atas modal pemegang saham.
Solvabilitas
- Debt to Equity Ratio (DER): 0,08x, menunjukkan struktur pendanaan perusahaan yang sangat rendah tingkat ketergantungannya pada utang.
Valuasi Pasar
Price to Earnings Ratio (PER)
- Berdasarkan harga penutupan saham Rp 15 per 29 Oktober 2025, PER tercatat negatif -26,79x (menggunakan EPS disetahunkan Rp -0,56), mengindikasikan valuasi yang tidak dapat diukur secara positif karena perusahaan merugi.
Price to Book Value (PBV)
- Dengan nilai buku per saham (milik entitas induk) sebesar Rp 5,10, PBV perusahaan berada di level 2,94x, mencerminkan harga pasar saham saat ini diperdagangkan hampir 3 kali lipat dari nilai buku fundamentalnya.
Kesimpulan
Kinerja keuangan PT Express Transindo Utama Tbk selama kuartal III 2025 menunjukkan tekanan berat. Penurunan pendapatan yang signifikan dan kerugian bersih yang membengkak menjadi sinyal negatif terhadap efektivitas strategi bisnis perusahaan di tengah persaingan industri yang tinggi.
Meskipun rasio solvabilitas (DER) dan likuiditas (Current Ratio) tampak sangat sehat, hal ini perlu dilihat dengan kehati-hatian karena didorong oleh basis ekuitas dan aset lancar yang masih besar dibandingkan liabilitas yang kecil, bukan karena profitabilitas operasional. Arus kas dari aktivitas operasi tercatat negatif sebesar Rp 2,79 miliar. Investor perlu memperhatikan upaya efisiensi biaya dan optimalisasi aset bus pariwisata yang sedang dilakukan manajemen untuk membalikkan kerugian di kuartal selanjutnya.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


