Pada tahun 2025, Bank Syariah Indonesia mencatatkan kinerja keuangan yang solid yang memberikan gambaran posisi fundamental dan arah strategi operasional bank yang positif. Analisis ini mengulas perkembangan posisi keuangan (neraca), profitabilitas, rasio kunci perbankan, hingga valuasi pasar saham berdasarkan laporan keuangan auditan per 31 Desember 2025.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Aset
- Total Aset: Per 31 Desember 2025, total aset tercatat sebesar Rp456,19 triliun, mengalami kenaikan 11,64% dibandingkan posisi 31 Desember 2024 (Rp408,61 triliun). Pertumbuhan ini terutama didorong oleh ekspansi penyaluran pembiayaan yang signifikan.
- Pembiayaan yang Diberikan (Neto): Posisi pembiayaan bersih (Piutang + Pembiayaan Bagi Hasil + Qardh) mencapai Rp304,00 triliun, naik 14,69% dari akhir tahun 2024 (Rp265,07 triliun), menunjukkan ekspansi yang kuat dalam fungsi intermediasi bank.
- Surat Berharga (Efek-efek): Nilai bersih investasi pada surat berharga tercatat Rp59,65 triliun, turun 4,13% dari akhir 2024 (Rp62,22 triliun), mengindikasikan realokasi aset menuju pembiayaan.
- Penempatan pada BI & Bank Lain: Tercatat sebesar Rp56,15 triliun (Giro & Penempatan pada BI serta Bank Lain), naik 4,31% dibandingkan tahun sebelumnya (Rp53,83 triliun).
Liabilitas & Dana Syirkah Temporer
- Total Liabilitas & Dana Syirkah Temporer: Mencapai Rp404,24 triliun, naik 11,19% dibandingkan akhir tahun 2024 (Rp363,57 triliun).
- Dana Pihak Ketiga (DPK): Simpanan nasabah (Wadiah dan Mudharabah) tercatat sebesar Rp381,24 triliun, naik 16,19% dari akhir 2024 (Rp328,13 triliun), menandakan pertumbuhan dana kelolaan yang sangat baik dan kepercayaan nasabah yang meningkat.
- Simpanan dari Bank Lain: Tercatat sebesar Rp2,80 triliun (pada pos Liabilitas), naik signifikan dari Rp0,78 triliun di tahun 2024. (Catatan: Jika memperhitungkan instrumen pasar uang antarbank syariah di Dana Syirkah Temporer, jumlahnya lebih besar).
Ekuitas
Total Ekuitas: Tercatat sebesar Rp51,95 triliun, naik 15,34% dari 31 Desember 2024 (Rp45,04 triliun). Perubahan ini didorong oleh akumulasi laba bersih tahun berjalan yang memperkuat struktur permodalan.
Laporan Laba Rugi
Pendapatan Bagi Hasil Bersih (Net Income from Funds)
Selama tahun 2025, Hak Bagi Hasil Milik Bank (setara NII) mencapai Rp19,13 triliun, naik 9,88% YoY dibandingkan Rp17,41 triliun pada tahun lalu. Ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan dari penyaluran dana (jual beli dan bagi hasil) yang solid.
Pendapatan Operasional Lainnya (Non-Interest Income)
Pendapatan usaha lainnya (fee based, dll) tercatat Rp6,94 triliun, naik 24,84% YoY dari Rp5,56 triliun, menunjukkan keberhasilan bank dalam mendiversifikasi sumber pendapatan.
Beban Operasional
Total beban usaha (selain CKPN) mencapai Rp13,70 triliun, naik 16,17% YoY, terutama dipengaruhi oleh kenaikan beban gaji dan tunjangan serta beban umum & administrasi seiring ekspansi bisnis.
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN)
Pembentukan beban CKPN tercatat Rp2,36 triliun, meningkat dari Rp1,89 triliun pada tahun lalu, mencerminkan langkah kehati-hatian (prudent) bank dalam mengantisipasi risiko kredit di tengah pertumbuhan pembiayaan.
Laba Bersih
Laba bersih tahun berjalan mencapai Rp7,57 triliun, naik 8,02% YoY dari Rp7,01 triliun pada tahun 2024.
Earnings per Share (EPS)
EPS dasar tercatat Rp164,05, naik 8,01% YoY dari Rp151,88.
Rasio Keuangan Utama
Profitabilitas
- Net Imbalan (NIM Equivalent): ~4,4%, mengukur kemampuan bank menghasilkan pendapatan bagi hasil bersih dari aset produktifnya.
- Return on Assets (ROA): 2,31%, menilai efektivitas aset dalam menghasilkan laba sebelum pajak.
- Return on Equity (ROE): 15,6%, menggambarkan imbal hasil yang solid atas modal pemegang saham.
- Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO): ~61,6%, menunjukkan tingkat efisiensi operasional bank yang terjaga dengan baik.
Kualitas Aset
- Non-Performing Financing (NPF) Gross: 1,81%, membaik dibandingkan tahun sebelumnya (1,90%), menunjukkan kualitas pembiayaan yang sehat.
- Non-Performing Financing (NPF) Net: 0,47%, rasio pembiayaan bermasalah setelah dikurangi CKPN, sangat rendah dan aman.
Likuiditas
- Financing to Deposit Ratio (FDR): ~82,7%, menunjukkan likuiditas yang cukup longgar namun tetap optimal dalam menyalurkan pembiayaan dibandingkan dengan dana yang dihimpun.
Permodalan
- Capital Adequacy Ratio (CAR / KPMM): 22,00%, menunjukkan kecukupan modal bank yang sangat kuat untuk menyerap potensi risiko dan mendukung ekspansi ke depan.
Valuasi Pasar
- Price to Earnings Ratio (PER): Berdasarkan harga penutupan saham Rp2.380 per 6 Feb 2026 dan EPS 2025 sebesar Rp164,05, PER tercatat 14,5x.
- Price to Book Value (PBV): Dengan nilai buku per saham (BVPS) sekitar Rp1.126, PBV berada di level 2,11x.
Kesimpulan
Kinerja keuangan Bank Syariah Indonesia (BRIS) selama tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan aset yang solid dan peningkatan profitabilitas yang berkelanjutan. Pertumbuhan Pembiayaan sebesar 14,7% dan DPK sebesar 16,2% menjadi indikator utama kepercayaan pasar dan ekspansi bisnis yang agresif namun terukur. Kualitas aset terus membaik dengan NPF Gross yang turun ke level 1,81%. Tingkat permodalan (CAR) di level 22% sangat kuat untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Dari sisi valuasi, saham BRIS saat ini diperdagangkan pada PER 14,5x dan PBV 2,11x, yang mencerminkan optimisme pasar terhadap statusnya sebagai bank syariah terbesar dengan fundamental yang kokoh. Investor dapat mempertimbangkan prospek pertumbuhan pembiayaan syariah yang masih luas, efisiensi operasional yang terus ditingkatkan, dan kondisi makroekonomi yang mendukung dalam mengevaluasi potensi investasi pada saham ini.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id (https://pintarsaham.id/), baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id (https://pintarsaham.id/) dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Gabung Membership PintarSaham.id biar kamu bisa tahu target harga wajar NISP di 2026 secara jelas. Serta lengkap dengan konsensus TradingView, perbandingan peers & industri, plus skenario valuasi yang rapi, jadi keputusanmu bukan sekadar katanya mahal/premium.


