Saturday, April 18, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightITMG LK Q2 2025: Stok Batubara Menumpuk

ITMG LK Q2 2025: Stok Batubara Menumpuk

Semester pertama 2025 jadi periode yang cukup berat buat PT Indo Tambangraya Megah Tbk. Dari laporan keuangannya, terlihat jelas bahwa pendapatan bersih perusahaan ini turun lumayan dalam, dari 1,05 miliar USD di semester pertama 2024 menjadi 919,42 juta USD di periode yang sama tahun ini.

Penurunan sekitar 12,5% ini bukan hanya sekadar angka di laporan, tapi sinyal bahwa pasar batubara yang mereka layani sedang tidak seramai sebelumnya. Penjualan ke beberapa pelanggan kunci menurun drastis, salah satunya ke China Bai Gui International Trade Ltd. yang pada tahun lalu menyerap 143,93 juta USD batubara, kini hanya 80,36 juta USD. Penjualan ke pihak berelasi pun ikut merosot.

Masalahnya tidak berhenti di pendapatan. Saat penjualan melemah, stok batubara di gudang justru membengkak signifikan. Nilainya naik dari 73,15 juta USD di akhir 2024 menjadi 111,38 juta USD di pertengahan 2025. Kalau dilihat di laporan beban pokok, pos perubahan persediaan batubara yang sebelumnya minus 17,28 juta USD di semester pertama 2024 kini berubah menjadi plus 38,23 juta USD. Artinya, tahun lalu stok berkurang karena dijual, sementara tahun ini stok malah bertambah karena belum terserap pasar. Situasi seperti ini biasanya terjadi kalau produksi tetap jalan, tapi penjualan tertahan entah karena harga yang kurang kompetitif atau permintaan yang sedang lemah.

Di sisi lain, ada juga cerita soal royalti atau iuran eksploitasi yang wajib dibayar ke pemerintah. Nilai royalti ini turun dari 115,78 juta USD di semester pertama 2024 menjadi 103,65 juta USD di semester pertama 2025. Kalau dihitung proporsinya terhadap pendapatan bersih, justru ada sedikit kenaikan dari 11,03% menjadi 11,27%. Ini menarik karena artinya penurunan nilai royalti tidak sedalam penurunan pendapatan. Salah satu penyebabnya bisa dari perbedaan tarif royalti yang dikenakan pada tiap entitas anak, tergantung status izinnya.

Untuk tambang yang beroperasi di bawah kontrak karya atau CCoW, tarifnya 13,5% dari batubara yang diproduksi setelah dikurangi biaya penjualan. Sementara tambang dengan izin usaha pertambangan atau IUP membayar tarif yang bervariasi antara 5% sampai 13,5% tergantung harga acuan batubara atau HBA dan kadar kalori batubaranya. Aturan ini diatur dalam berbagai peraturan pemerintah dan keputusan menteri yang terbaru diberlakukan mulai 2025.

Kenaikan proporsi royalti ini bisa jadi karena komposisi penjualan bergeser ke tambang atau kontrak dengan tarif royalti lebih tinggi. Meskipun jumlah dolar yang dibayarkan turun, bagian yang dipotong untuk royalti dari setiap dolar pendapatan sedikit lebih besar dibanding tahun lalu. Buat perusahaan, ini berarti margin bersih sedikit tertekan walaupun pendapatan sudah turun. Efek HBA Bahlil ESDM ini. Kementerian pakai HBA tinggi untuk palak royalti, sedangkan realitas nya itu harga coal itu di bawah harga HBA. Makanya rasio royalti / revenue nya malah naik ketika revenue anjlok.

Kombinasi penurunan pendapatan, penumpukan persediaan, dan proporsi royalti yang naik sedikit ini mencerminkan bahwa ITMG sedang berada di fase pasar yang tidak ideal. Produksi yang tidak terserap akan mengikat modal kerja di inventori dan bisa jadi masalah kalau harga batubara dunia tidak kunjung membaik. Sementara itu, kewajiban royalti tetap berjalan sesuai ketentuan dan tidak bisa dihindari. Untungnya, posisi kas perusahaan masih aman karena ada dorongan dari pengembalian pajak dan arus kas operasi yang positif.

Namun ke depan, kunci perbaikan ada di strategi penjualan. Mereka perlu mencari cara untuk mempercepat pergerakan stok keluar dari gudang, baik dengan memperluas pasar domestik maupun memanfaatkan peluang ekspor yang ada, sambil menjaga harga jual tetap menarik. Kepatuhan terhadap regulasi seperti DMO juga penting agar tidak terganggu izin ekspor yang menjadi tulang punggung pendapatan. Kalau ini bisa dilakukan, tekanan dari persediaan dan proporsi royalti yang sedikit lebih tinggi mungkin bisa terkelola, dan ITMG punya peluang untuk membalikkan situasi di semester berikutnya.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments