Kalau kita bahas soal pergerakan kurs USD terhadap Rupiah dan pengaruhnya ke GTSI, perlu dilihat dari cara perusahaan ini menyusun laporan keuangan dan bagaimana struktur pendapatannya. GTSI sejak awal memang menetapkan USD sebagai mata uang fungsional dan juga mata uang pelaporan. Jadi semua angka revenue, aset, dan liabilitas akhirnya tercatat dalam USD.
Hal ini wajar karena core business mereka adalah charter kapal LNG yang kontraknya ditetapkan dalam USD. Contoh paling jelas adalah kontrak dengan PLN Energi Primer Indonesia untuk kapal Triputra dengan tarif sewa US$28.500 per hari. Angka itu sudah fix dalam kontrak dan akan dilaporkan apa adanya dalam USD, tidak peduli kurs Rupiah saat itu naik atau turun. Jadi kalau ada pertanyaan apakah pendapatan GTSI akan lebih rendah kalau kurs USD turun terhadap Rupiah, jawabannya tidak. Revenue mereka tidak otomatis berubah karena patokannya memang USD, bukan Rupiah.
Data semester I 2025 bisa memperjelas. GTSI mencatat revenue US$17 juta naik dari US$15,28 juta di semester I 2024. Dari total itu sekitar US$16,69 juta atau 98% berasal dari kontrak PLN, sisanya US$303 ribu dari jasa manajemen kapal. Jadi hampir seluruh revenue dalam USD. Fluktuasi Rupiah tidak punya efek langsung. Kalau pun ada komponen kecil dalam Rupiah, justru saat Rupiah menguat nilainya dalam USD lebih besar setelah translasi. Artinya pelemahan USD terhadap Rupiah tidak pernah jadi faktor yang menekan revenue, malah bisa sedikit membantu kalau ada pendapatan lokal.
Yang benar-benar berpengaruh justru tercermin di pos laba rugi lewat selisih kurs. GTSI punya net asset dalam Rupiah yang cukup besar. Per 30 Juni 2025 posisinya tercatat Rp607 miliar yang dikonversi menjadi US$27,34 juta. Nah, mekanismenya sederhana. Kalau Rupiah menguat, aset dalam Rupiah saat dikonversi ke USD nilainya lebih tinggi, selisihnya dicatat sebagai gain kurs di laporan laba rugi. Kalau Rupiah melemah, nilainya lebih kecil, selisih itu dicatat sebagai rugi kurs.
Bukti konkretnya bisa kita lihat di laporan laba rugi konsolidasian. Pada semester I 2024 ketika Rupiah menguat, GTSI mencatat gain kurs lumayan besar yaitu US$551 ribu. Tapi pada semester I 2025 Rupiah melemah tipis, kurs BI naik dari Rp16.162 per USD di Desember 2024 jadi Rp16.233 per USD di Juni 2025 atau melemah sekitar 0,4%. Karena GTSI punya net asset dalam Rupiah, pelemahan ini menghasilkan rugi kurs, meskipun sangat kecil, hanya US$19.
Jadi, jelas bahwa pelemahan atau penguatan Rupiah tidak menurunkan revenue GTSI, karena revenue dicatat langsung dalam USD sesuai kontrak. Dampak nyatanya lebih ke laba bersih lewat pos selisih kurs. Kalau Rupiah menguat, laba akan terlihat lebih besar karena ada gain kurs. Kalau Rupiah melemah, laba akan sedikit terpangkas karena rugi kurs. Dengan struktur revenue yang 98% berbasis USD, posisi ini membuat pendapatan GTSI relatif aman dari gejolak kurs.
Jadi, turunnya kurs USD terhadap Rupiah alias Rupiah menguat tidak membuat pendapatan GTSI lebih rendah, malah membuka peluang adanya tambahan gain kurs dari net asset Rupiah yang mereka pegang. Sedangkan bukti nyata di semester I 2025 justru sebaliknya, Rupiah melemah dan hasilnya GTSI hanya mencatat rugi kurs kecil.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!


