PT Futura Energy Global Tbk atau FUTR adalah contoh menarik bagaimana sebuah emiten muda bisa mengalami perjalanan penuh dinamika hanya dalam waktu singkat. Perusahaan ini berdiri tahun 2021 di Jakarta, awalnya bernama Linikini Aspirasi Kreasi lalu berganti menjadi Lini Imaji Kreasi Ekosistem, sebelum akhirnya pada 2025 resmi mengusung nama Futura Energy Global.
Kantornya berlokasi di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. FUTR resmi melantai di Bursa pada Maret 2023 setelah menggelar IPO sebanyak 1,278 miliar lembar saham dengan harga penawaran Rp100 sampai Rp200 per lembar. Kendali awal perusahaan ini berada di tangan PT Digital Futurama Global (DFG) dengan kepemilikan 49,33% saham, publik menggenggam 50,67%, dan sosok Halim Suwandi tercatat sebagai ultimate beneficial owner sekaligus pengendali individu yang berusia relatif muda.
Dari sisi bisnis, FUTR cukup unik karena awalnya mengandalkan segmen kreatif seperti iklan, konsultasi, desain, creative warehouse, sampai produksi konten digital. Tahun 2024 pendapatan mereka tercatat Rp58,5 miliar dengan mayoritas besar atau hampir seluruhnya berasal dari jasa konsultasi dan iklan. Namun di 2025 terjadi lonjakan arah bisnis yang cukup drastis. Pendapatan anjlok menjadi Rp21,7 miliar, tetapi kini mayoritas Rp20,1 miliar berasal dari segmen trading dan jasa pendukung konstruksi, sedangkan segmen lama iklan dan konsultasi hanya tinggal Rp1,78 miliar.
Pergeseran ini menunjukkan adanya pivot strategi yang cukup serius. Hal ini semakin menarik karena di 2025 FUTR mulai bergantung pada satu klien besar yaitu PT Siemens Energy Indonesia yang sendiri menyumbang 59,95% dari total penjualan. Sementara di 2024 tidak ada satu pelanggan pun yang kontribusinya lebih dari 10%. Artinya arah bisnis FUTR berubah secara cepat dan cukup tajam, menandakan transisi dari perusahaan kreatif menuju perusahaan yang lebih condong ke perdagangan dan jasa konstruksi.
Kondisi keuangan FUTR memperlihatkan hal yang sedikit paradoks. Meski pendapatan turun, laba justru melesat. Laba bersih semester I 2025 tercatat Rp3,7 miliar naik lebih dari tiga kali lipat dibanding Rp1,07 miliar di periode yang sama 2024. Gross profit naik dari Rp6,05 miliar menjadi Rp8,58 miliar. Operating profit melonjak dari Rp1,66 miliar menjadi Rp3,62 miliar.
Earnings per share yang pada 2024 hanya Rp0,17 berubah menjadi Rp0,58. Semua kenaikan ini tidak ditopang oleh faktor non-recurring, karena tidak ada lagi penjualan aset seperti Rp320 juta di 2024, sehingga bisa dikatakan laba 2025 adalah laba murni dari operasional inti. Dari perspektif kualitas, ini jauh lebih baik karena recurring dan berpotensi berkelanjutan.
Dari sisi neraca, total aset naik tipis dari Rp231,8 miliar di akhir 2024 menjadi Rp240,6 miliar pada Juni 2025. Komposisi asetnya terdiri dari kas Rp35,6 miliar, piutang Rp55,4 miliar, serta uang muka dan prepaid expenses Rp106,9 miliar. Proyek dalam pengerjaan meningkat dari Rp1,08 miliar menjadi Rp4,76 miliar yang menandakan adanya aktivitas proyek baru. Aset non lancar justru turun dari Rp28,07 miliar menjadi Rp24,9 miliar terutama karena depresiasi aset tetap yang nilainya kini Rp24,2 miliar. Hal ini normal mengingat masa manfaat aset yang terus berkurang.
Liabilitas FUTR mengalami perbaikan besar. Total liabilitas yang sebelumnya Rp41,9 miliar pada akhir 2024 menyusut jadi hanya Rp20,7 miliar di pertengahan 2025. Utang bank jangka pendek ditekan dari Rp10,9 miliar menjadi Rp5 miliar. Utang usaha pihak ketiga stabil di kisaran Rp4 miliar. Utang lain-lain ke pihak ketiga menyusut tajam dari Rp6,4 miliar menjadi hanya Rp693 juta. Lebih menarik lagi, utang ke pihak berelasi yang sebelumnya miliaran rupiah kini sudah nol. Akibatnya, gearing ratio perusahaan menjadi negatif -0,07, artinya kas lebih besar daripada total liabilitas. Posisi ini sangat jarang ditemui pada emiten muda dan menandakan likuiditas super aman serta nyaris tanpa risiko gagal bayar.
Namun jika masuk ke arus kas, cerita jadi berbeda. Cash flow operasi tahun 2025 justru negatif Rp15 miliar, padahal 2024 masih positif Rp1,2 miliar. Cash flow investasi juga keluar Rp3,28 miliar. Yang membuat saldo kas tetap tumbuh hanyalah cash flow pendanaan yang positif Rp20,3 miliar berkat konversi waran senilai Rp26,2 miliar. Hasil akhirnya, kas bersih tetap naik Rp2,04 miliar. Posisi kas besar ini memang menenangkan investor, tetapi jika ke depan tidak ada lagi sumber dana dari luar, negatifnya cash flow operasi akan menjadi pekerjaan rumah utama.
Di sisi transaksi pihak berelasi, FUTR memberikan pinjaman tanpa bunga kepada beberapa entitas grup Hexa seperti HPE Rp4,2 miliar, HIT Rp2,77 miliar, dan HPG Rp2,9 miliar. Praktik ini secara formal diungkapkan, tetapi bagi emiten publik sering dipertanyakan karena tidak sesuai prinsip arm’s length. Namun ada perkembangan positif, yaitu utang kepada pihak berelasi di 2025 sudah nol, sehingga neraca lebih bersih.
Kalau melihat aspek korporasi, 2025 benar-benar tahun penuh gejolak. Pada Maret 2025, Hexa Prima Nusantara mengumumkan jadwal pembayaran tender wajib, lalu di April hasilnya keluar. Mereka menawar Rp16 per saham untuk maksimal 2,88 miliar saham FUTR, tetapi hasilnya nyaris nol. Hanya ada 1 pemegang saham yang menjual 40 lembar saham alias 0,00% dari total. Artinya tender wajib ini gagal total karena pasar tidak mau melepas saham di harga rendah.
Lalu pada 21 Juni 2025 muncul kabar mengejutkan, Halim Suwandi selaku pengendali individu FUTR meninggal dunia pada usia 45 tahun. FUTR menyatakan operasional tetap berjalan normal, tetapi kenyataannya hilangnya pengendali individu secepat ini pasti menimbulkan kekosongan arah kontrol.
Dua bulan setelah itu, tepatnya 15 Agustus 2025, PT Aurora Dhana Nusantara atau Ardhantara muncul sebagai calon pengendali baru. Mereka mengumumkan sedang bernegosiasi membeli 49,325% saham FUTR atau 3,273 miliar lembar yang dimiliki DFG. Term Sheet sudah ditandatangani sehingga jalan akuisisi ini jelas terbuka. Jika transaksi selesai, Ardhantara otomatis menjadi pengendali baru FUTR. Perubahan ini besar artinya karena dalam waktu kurang dari satu tahun, FUTR melewati fase tender wajib gagal, meninggalnya pengendali individu, dan masuknya calon pengendali baru.
Keseluruhan cerita ini menunjukkan FUTR adalah perusahaan yang di satu sisi sangat sehat secara neraca dengan kas lebih banyak dari utang, laba tumbuh signifikan, dan posisi likuiditas aman. Namun di sisi lain, ada tantangan serius berupa cash flow operasi yang negatif, ketergantungan pada satu pelanggan besar, dan transisi kepemilikan yang masih belum tuntas. Untuk jangka pendek saham ini bisa penuh spekulasi karena pasar akan menunggu kepastian siapa pengendali baru dan bagaimana strategi mereka. Untuk jangka panjang, FUTR punya pondasi yang cukup baik tetapi perlu memperbaiki kualitas cash flow dan mendiversifikasi pelanggan agar tidak rapuh hanya karena satu kontrak besar.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!


