Ketika Demon Slayer Infinity Castle mendarat di bioskop Indonesia, antusiasme penonton benar-benar meledak. Dalam tiga hari saja film ini sudah berhasil menarik hampir 1,2 juta penonton. Kalau kita pakai asumsi harga tiket rata-rata Rp50.000 per orang, maka pemasukan dari tiket langsung menyentuh Rp60 miliar. Tidak berhenti di situ, tambahan dari penjualan popcorn dan minuman juga bisa jadi penopang manis.
Jika setiap 10 penonton ada satu orang yang beli paket Rp50.000, maka dari 1,2 juta penonton akan ada sekitar 120 ribu pembeli dengan revenue Rp6 miliar. Total kombinasi tiket dan snack ini membuat potensi pendapatan tiga hari pertama mencapai Rp66 miliar. Dengan Net Profit Margin 18%, laba bersih yang bisa dibukukan sekitar Rp11,9 miliar. Angka ini baru dari hitungan tiga hari, artinya masih ada potensi yang jauh lebih besar bila film bertahan lama di bioskop.
Kalau kita tarik skenario lebih panjang, misalnya film ini tayang sebulan penuh dengan rata-rata 400 ribu penonton per hari, maka total penonton bisa tembus 12 juta orang. Dengan asumsi tiket Rp50.000, revenue dari tiket saja sudah Rp600 miliar. Tambahan dari snack sebesar Rp60 miliar membuat total pendapatan Rp660 miliar. Bila kita pakai NPM yang sama yaitu 18%, maka laba bersih bisa menyentuh Rp118,8 miliar. Angka ini jelas menunjukkan bahwa keberhasilan film box office bukan hanya soal jumlah penonton, tapi juga bagaimana setiap penonton bisa mendorong value lebih lewat konsumsi tambahan.
Menarik kalau membandingkan dengan rekor penonton film di Indonesia. Rekor film lokal dipegang oleh Jumbo dengan 10,2 juta penonton, sementara Avengers Endgame masih menjadi jawara film internasional dengan 10,9 juta penonton. Jika Demon Slayer Infinity Castle berhasil menyamai angka Jumbo yaitu 10,2 juta penonton, maka hitungan revenue jadi semakin menggiurkan. Tiket menyumbang Rp510 miliar, snack menambah Rp51 miliar, sehingga total revenue Rp561 miliar. Dengan margin bersih 18%, laba yang bisa dikantongi sekitar Rp101 miliar.
Supaya lebih nyambung, bayangkan skenario bertahap dengan persentase dari rekor. Jika hanya tembus 10% dari rekor Jumbo atau sekitar 1,02 juta penonton, revenue akan Rp56,1 miliar dengan laba Rp10,1 miliar. Kalau bisa naik ke 25% atau 2,55 juta penonton, maka pendapatan Rp140,25 miliar dengan laba Rp25,2 miliar. Pada level 50% atau 5,1 juta penonton, revenue akan membengkak jadi Rp280,5 miliar dengan laba Rp50,5 miliar. Jika berhasil 75% atau 7,65 juta penonton, pendapatan bisa Rp420,75 miliar dengan laba Rp75,7 miliar. Dan puncaknya bila 100% alias menyamai rekor Jumbo, total revenue Rp561 miliar dengan laba Rp101 miliar.
Dari semua simulasi ini terlihat jelas bahwa skala penonton punya efek langsung dan dramatis terhadap revenue dan laba. CNMA sebagai pemegang distribusi atau pihak yang terkait dengan peredaran film ini tentu akan mendapat manfaat signifikan bila tren penonton tetap kuat. Apalagi dengan catatan tiga hari pertama sudah hampir menyentuh 1,2 juta penonton, peluang untuk mencapai skenario 50% hingga 100% dari rekor bukanlah hal mustahil. Kalau tren bertahan, kita bicara soal laba bersih ratusan miliar hanya dari satu judul film, sesuatu yang jarang terjadi di industri hiburan lokal.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan! https://bit.ly/pintarsahamid


