Saturday, April 18, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightCDIA Ini Mau Digoreng Sampai Berapa?

CDIA Ini Mau Digoreng Sampai Berapa?

Ketika sebuah saham baru IPO dan langsung masuk ke dalam keluarga besar Grup Prajogo Pangestu, satu hal yang pasti terlintas di benak investor ritel adalah ini saham bakal digoreng sampai harga berapa? Dan dalam kasus CDIA (Chandra Daya Investasi Tbk), jawabannya sejauh ini adalah belum digoreng sadis. Tapi apakah potensinya ada? Sangat besar.

Bahkan kalau pakai standar yang sudah ditetapkan oleh BREN, CUAN, TPIA, dan BRPT, CDIA ini seperti benih gorengan super yang tinggal tunggu waktu mekar. Karena secara statistik, data, dan gaya main, CDIA sudah punya semua modal yang dibutuhkan untuk jadi pemain utama di Bursa Efek Indonesia, meskipun secara fundamental masih jauh dari kata rasional. Kalau pakai kacamata fundamental lihat saham Prajogo, yang terjadi langsung mendadak katarak kombo ablasio retina alias buta mendadak karena sulit dilihat.

CDIA saat ini punya harga saham Rp780, dengan market cap Rp97,36 triliun. Laba bersih YTD-nya sebesar Rp485,55 miliar, dan pertumbuhan laba tahunannya mencapai +17.557% yang terdengar seperti typo tapi ternyata nyata. Rasio valuasinya juga cukup sehat dalam konteks saham gorengan, PBV 9,28 kali dan PER 200,53 kali. Sekilas memang mahal, tapi kalau dibandingkan dengan para seniornya di Grup Prajogo, CDIA justru terlihat seperti anak waras di tengah pesta gila.

Lihat saja ini BREN, sang superstar hijau, punya laba Rp560 miliar tapi diberi market cap Rp1.030 triliun. Itu artinya PER-nya 459 kali dan PBV-nya 113 kali

TPIA, pabrik petrokimia besar, malah mencetak rugi Rp419 miliar tapi tetap diganjar market cap Rp828 triliun dan PBV 19 kali

CUAN, yang laba bersihnya cuma Rp27,91 miliar, tumbuh -94% tetap diberi market cap Rp187 triliun dan PER 1.676 kali

PTRO, laba Rp15 miliar, PER-nya 697

Sementara CDIA, dengan laba Rp485 miliar dan growth lima digit, malah masih parkir di market cap Rp97 triliu.

Kalau CDIA mau disamakan valuasinya dengan saudara-saudaranya, potensinya luar biasa besar. Kita coba hitung pelan-pelan. Pertama, kita ambil PBV rata-rata saham Grup Prajogo yaitu sekitar 32,26 kali. Book value CDIA saat ini bisa dihitung dari market cap dibagi PBV, Rp97 triliun ÷ 9,28 = Rp10,46 triliun.

Kalau book value ini dikalikan dengan PBV rata-rata Grup, maka target market cap CDIA seharusnya Rp337 triliun. Artinya, harga sahamnya bisa naik dari Rp780 ke sekitar Rp2.700, alias naik 247%. Dan itu hanya jika digoreng sampai level rata-rata.

Tapi kalau bandarnya niat lebih gila dan mengarahkan CDIA untuk menyamai market cap BREN yang sekarang duduk manis di Rp1.030 triliun, maka harga CDIA bisa naik sampai 10,6 kali lipat. Dari Rp780 jadi Rp8.250. Potensi return +958%. Dan itu bukan teori konspirasi. Itu terjadi beneran pada BREN, CUAN, dan TPIA yang valuasinya saat ini sudah tidak bisa dijelaskan lagi pakai logika laporan keuangan.

Masuk akal? Tentu saja tidak masuk akal kalau kamu pakai kacamata fundamental. Tapi ini bukan soal masuk akal. Ini soal kontrol distribusi dan siapa pegang barang. CDIA adalah saham IPO baru. Volume transaksi harian tipis, distribusi ke publik minim, dan sahamnya masih terkunci di tangan pemegang awal. Dan kalau ada satu hal yang bisa dijadikan rumus dari Grup Prajogo, itu adalah barang yang masih dikunci berarti masih punya potensi digoreng.

Sekarang mari kita lihat perbandingan CDIA dengan saham-saham top market cap di Indonesia. Di posisi puncak ada BBCA, bank sejuta umat, dengan market cap Rp1.050 triliun, laba bersih Rp14,1 triliun, PBV 4,27 kali, dan PER 18,6 kali. Ini saham fundamental sejati. Lalu ada BYAN (Rp646 T), AMMN (Rp596 T), dan DCII (Rp443 T).

Yang menarik, DCII punya laba hanya Rp419 miliar tapi market cap-nya Rp443 triliun, PBV 129 kali, PER 264 kali. Jadi secara logika, CDIA dengan laba lebih besar Rp485 miliar, valuasi lebih murah PBV 9 dan PER 200, harusnya sudah pantas punya market cap setara atau bahkan lebih tinggi.

Jadi kalau CDIA disamakan ke valuasi DCII, harga sahamnya bisa naik ke Rp3.500 sampai Rp4.000. Kalau disetarakan dengan DSSA, bisa ke Rp4.000 sampai Rp4.500. Bahkan kalau digenjot ke level BBCA dan BREN, target harga bisa tembus Rp8.000 lebih. Dan semua itu tidak perlu nambah laba, tidak perlu bangun pabrik baru, cukup satu, kunci distribusi, atur sentimen, goreng cerita.

Apakah ini sejalan dengan rasio fundamental? Sudah pasti tidak sejalan. Tapi di pasar modal Indonesia, terutama di klan Prajogo, fundamental sudah lama kalah dari kekuatan bandar. Kita lihat TPIA yang rugi tapi market cap-nya Rp828 triliun. Kita lihat CUAN yang labanya nyungsep tapi valuasinya masih langit. Lalu kita lihat CDIA yang labanya tumbuh luar biasa tapi masih belum digerakkan. Artinya satu, harga saham di lingkungan ini bukan cerminan kinerja tapi cerminan seberapa kuat kamu pegang kunci gudang.

Jadi ketika pertanyaan terakhir datang, apakah analisis fundamental masih relevan di tengah saham-saham Grup Prajogo? Maka jawaban jujur yang harus kita berikan adalah, sayangnya tidak. Yang relevan adalah kekuatan distribusi, kontrol atas pasokan, dan narasi publik. CDIA saat ini belum digoreng, tapi semua bahan-bahannya sudah lengkap. Bandarnya kuat, distribusinya sempit, dan sentimen tinggal disulut.

Dan ketika semua tombol itu ditekan, harga Rp780 hanya akan jadi kenangan. Karena CDIA bisa saja jadi BREN berikutnya, bukan karena labanya tapi karena mainnya. Who knows bisa digoreng sampai Harga berapa. Apalagi kalau target masuk MSCI FTSE?

Kita yang pakai analisis fundamental untuk beli saham cukup banyak – banyak bersabar aja. Saham yang kita pegang itu fundamentalnya memang bagus. Tapi sayangnya, bandarnya malas goreng saham. Jadi ya mau tak mau harap Dividend aja.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments