Saturday, April 18, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightBukan Sekadar Perkebunan: TAPG Tunjukkan Laba Tinggi dan Cashflow Kuat

Bukan Sekadar Perkebunan: TAPG Tunjukkan Laba Tinggi dan Cashflow Kuat

Di LK Q1 2025, TAPG cetak revenue Rp 2,62 triliun, naik 37 % YoY. Tapi yang bikin menarik, bukan hanya naiknya penjualan, tapi bagaimana struktur biaya dikelola. COGS naik cuma 24 %, artinya mereka bisa jaga biaya bahan baku, tenaga kerja, dan operasional pabrik dengan rapi. Gross profit tembus Rp 914 miliar (gross margin 34,8 %), sementara operating profit loncat ke Rp 722 miliar (margin 27,6 %).

Ini bukan sekadar untung, tapi untung yang dirawat seperti sop buntut bakso premium karena daging empuk, kuah kental, dan sambal diseduh matang. Tambahkan profit Rp 260 miliar dari USTP (Joint Venture alias JV), maka total laba sebelum pajak Rp 982 miliar, dan net income bersih Rp 835 miliar. Net margin? 31,9 %. Ini angka bakso level hotel bintang lima.

Total aset per Maret 2025 Rp 14,88 triliun. Mayoritas masih aset tetap seperti tanah, kebun, bangunan, dan alat berat yang setiap pagi ngebut di lorong-lorong kebun sawit. Aset tetap ini Rp 7,36 triliun atau 49 % total aset. Lalu ada penyertaan ke USTP sebesar Rp 2,71 triliun (18 %), kas setara kas Rp 2,09 triliun (14 %), dan persediaan Rp 1,16 triliun (8 %).

Artinya, TAPG bukan tipe bisnis yang modalnya lari-lari ke receivable atau goodwill tak jelas, ini perusahaan yang tangible, real, bisa dipijak. Umpama warung Pak Toto, semua peralatannya tidak ghoib karena ada di tempat nyata seperti tungku, dandang, cobek, hingga tempat rebusan mie.

Di sisi liabilitas, TAPG justru turun tipis 9 % ke Rp 2,77 triliun. Utang berbunga tinggal Rp 540 miliar, dan kas Rp 2,09 triliun. Posisi net-cash Rp 1,55 triliun. Kalau ini warung, artinya Pak Toto nggak ngutang bahan baku ke Pasar Induk dan bahkan masih sempat nabung buat ekspansi. Rasio debt-to-equity cuma 6 %, lebih kecil dari modal receh Pak BudiDolDol buat beli slot iklan di TV lokal.

TAPG itu memiliki integrasi bisnis vertikal kelas berat. Dari kebun sendiri, panen TBS sendiri, diolah di pabrik sendiri jadi CPO, lalu dijual ke refinery besar seperti Kutai Refinery, Sinar Alam, LDC, dan Sinar Mas Agro.

Tapi ujungnya? Sebagian besar dijual ke empat pembeli itu yang pegang 71 % revenue. Jadi kayak Pak Toto yang jual bakso ke empat langganan tetap seperti Pak RW, Bu Bidan, Pak Ustaz, dan Bu Lurah. Kalau suatu saat mereka diet bareng, omzet bisa jeblok.

Di hilir, TAPG punya separuh saham USTP. Ini yang bikin laba naik drastis, karena USTP setor Rp 260 miliar laba ke TAPG. Tapi ini juga seperti andalan Pak BudiDolDol yang tiap minggu upload video “Kunci Saham Cuan Tanpa Beli”, begitu nggak upload, viewer drop, donasi hilang, dan warung pun tutup.

Ketergantungan profit ke JV itu blessing sekaligus ticking time bomb. Kalau USTP kena sengketa, gagal ekspor, atau margin refining dihantam kebijakan PPN, laba TAPG bisa lumer kayak lemak di kuah bakso basi.

Transaksi pihak berelasi lumayan kecil. Pembelian pupuk, benih, bibit dari grup sendiri cuma 3,85 % dari COGS. Pembayaran ke Dana Pensiun Triputra juga kecil, hanya 0,6 % dari beban G&A.

Tidak ada piutang mencurigakan, tidak ada utang buntut siluman seperti kisah BudiDolDol yang pakai koperasi buat muter utang antar grup. Dengan kata lain, bisnis TAPG cukup mandiri. Kalau ini warung, nggak ada ceritanya bahan baku diutangin sama saudara dari koperasi yang ujungnya nunggak 6 bulan.

Operating cash flow Rp 774 miliar, capex Rp 134 miliar, jadi free cash flow Rp 640 miliar. Artinya setiap rupiah laba itu 96 sen-nya bisa berubah jadi uang tunai. Umpama warung Pak Toto, setiap porsi bakso yang laku, uangnya langsung masuk laci, bukan dicicil minggu depan. Gaya manajemen seperti ini bikin investor nyaman tidur.

Risiko jelas ada. Pertama, harga CPO. TAPG tidak punya hedging. Kalau harga CPO jeblok, margin pasti ikut turun. Kedua, contract liabilities alias DP dari pelanggan naik tajam 72 % ke Rp 245 miliar. Kalau panen gagal karena cuaca, DP ini bisa jadi bom waktu. Ketiga, ketergantungan pada laba USTP. Kalau JV ini merugi, TAPG bisa kehilangan 30 % profit-nya.

Tapi semua risiko ini saat ini masih tertutup oleh kas besar, margin tebal, arus kas positif, dan struktur modal yang nyaris tanpa beban bunga. ROE tahunan bisa tembus 26 %, ROA 22 %, net margin 31,9 %. Ini warung yang bukan cuma laku keras, tapi juga efisien, bahkan punya simpanan emas di lemari.

Harapan investor jelas yaitu harga CPO jangan jeblok, JV tetap setor dividen, ekspansi tetap disiplin. Kalau semua jalan sesuai harapan, saham ini bisa naik ke kisaran 1.300–1.500 karena EPS bisa tembus Rp 160–170 dan dividend yield bisa 7–8 %. Tapi kalau JV gagal setor, atau kontrak gagal dikirim, dan CPO anjlok? Maka bisa re-rating ke bawah Rp 700.

Lagi cari saham yang prospeknya oke dan gak cuma “katanya”? Coba cek ini deh.

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments