Di saat bank-bank lain sedang ngebut ekspansi lewat digitalisasi dan kredit jumbo, Bank BTPN Syariah (BTPS) justru memilih jalur yang lebih kalem dan fokus: rapikan dapur, perkuat pondasi. Dan strategi ini terbukti menghasilkan.
Secara total aset, BTPS naik sedikit dari Rp21,23 triliun ke Rp21,52 triliun (1,37%). Tapi bukan nominal yang menarik, melainkan isi di dalamnya:
- Piutang: turun 10,3% (dari Rp10,74 T ke Rp9,64 T)
- Surat berharga: naik 13,2% (dari Rp8,25 T ke Rp9,35 T)
Penurunan piutang ini bukan karena malas ekspansi, tapi bagian dari manajemen risiko yang lebih ketat. BTPS tahu: lebih baik tumbuh lambat tapi sehat.
Salah satu sinyal transformasi besar ada di pembiayaan musyarakah (berbasis bagi hasil syariah). Angkanya melonjak 6.442%, dari nyaris nol jadi Rp567 miliar. Ini artinya, BTPS sedang serius beralih dari dominasi piutang ke model kolaboratif syariah yang lebih berkelanjutan.
Dari sisi liabilitas:
- Deposito investasi turun 11,1%
- Tabungan investasi justru naik 23,1%
- Liabilitas lainnya naik tajam 68,8%
BTPS sedang menggeser sumber dana dari mahal (deposito) ke murah (tabungan). Strategi ini akan berdampak positif pada efisiensi biaya dana (cost of fund).
Meskipun pendapatan dari penyaluran dana turun 5,05%, BTPS mampu menekan beban impairment hingga 41,3%, yang membuat:
- Laba operasional naik 17,8%
- Laba tahun berjalan naik 17,2%
- Ekuitas naik 10,3%
Menariknya, dividen justru dipotong setengah — dari Rp540 miliar ke Rp265 miliar. Ini sinyal kuat bahwa manajemen BTPS lebih fokus memperkuat modal ketimbang bagi-bagi cuan.
Dua akun baru muncul:
- Uncommitted financing: Rp132,6 miliar (potensi pembiayaan baru)
- Pendapatan murabahah belum tertagih: Rp46,1 miliar (perlu diawasi)
Yang satu adalah peluang, yang lainnya alarm kecil soal potensi piutang macet jika tidak dikendalikan dengan baik.
Bayangkan Pak Toto, juragan bakso dari Waru yang dulunya keliling dorong gerobak, kini punya 12 cabang. Dia investor dan nasabah bank daerah seperti BJBR dan BJTM. Tapi kini, BTPS menarik perhatiannya:
- Sebagai debitur: BTPS tak agresif dalam pinjaman piutang, tapi terbuka bagi hasil musyarakah.
- Sebagai investor: Laba naik, ROA tinggi, dan efisien. Tapi valuasi sudah tak semurah dulu dan dividen mengecil.
BTPS adalah pilihan buat yang sabar, percaya proses, dan cinta stabilitas. Bukan untuk yang kejar pertumbuhan 30% per tahun atau dividen rutin tinggi.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


