Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeAnalisis SahamBEST: Merketing Sales 0 Hektar, Sinyal Apa Ini?

BEST: Merketing Sales 0 Hektar, Sinyal Apa Ini?

Sepanjang 2025 ini, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) belum mencatatkan marketing sales satu hektar pun. Angka ini bukan cuma catatan keuangan biasa, tapi bisa jadi cermin kondisi ekonomi yang sedang tidak kondusif, baik dari sisi domestik maupun global. Ketika tidak ada yang membeli lahan industri, mungkin memang belum ada yang benar-benar yakin untuk ekspansi atau investasi.

Dari sisi makro, ini bisa dibaca sebagai tanda bahwa pelaku bisnis di Indonesia sedang menahan diri. Ketidakpastian ekonomi, bunga tinggi, dan transisi pemerintahan membuat investor lokal lebih memilih bertahan. Di sisi lain, investor asing juga tidak gegabah. Indeks ketidakpastian global masih tinggi, ditambah kondisi geopolitik dan ekonomi dunia yang belum stabil.

Tentu kita juga tidak bisa serta-merta menyimpulkan kondisi BEST adalah cerminan seluruh kawasan industri. Bisa jadi ada faktor internal di kawasan MM2100 milik BEST yang membuatnya kalah saing. Salah satu faktor yang sering disebut adalah upah tenaga kerja di kawasan Cikarang yang relatif tinggi dibanding daerah lain, sehingga investor lebih tertarik ke lokasi alternatif seperti Subang, wilayah Jawa Tengah, atau bahkan luar Jawa.

Tapi apapun penyebabnya, ketika tidak ada penjualan lahan industri, artinya tidak ada pembangunan pabrik baru. Tidak ada pabrik baru berarti tidak ada lapangan kerja baru. Dalam konteks ini, pembaca yang masih bekerja saat ini patut bersyukur. Bahkan kalau bisa, jadi bagian dari solusi dengan menciptakan lapangan kerja sendiri.

Kalau kita lihat historinya, penjualan lahan BEST memang terus menurun. Di masa jayanya, BEST bisa menjual lebih dari 100 hektar lahan per tahun (tahun 2011). Namun sejak 2019, penjualannya tidak pernah lagi menyentuh angka 20 hektar. Jika tren ini berlanjut, sangat mungkin kinerja keuangan BEST di 2025 akan kembali mengecewakan.

Situasi ini juga menjadi pengingat pentingnya memiliki sumber pendapatan berulang (recurring income), terutama untuk bisnis properti yang model pendapatannya bergantung pada penjualan lahan atau unit. Emiten seperti PWON dengan mal dan apartemennya, RDTX dengan sewa perkantoran, hingga PLIN dengan hotel dan fasilitas wisata, relatif lebih stabil karena pendapatan mereka tidak bergantung pada penjualan sekali jadi.

BEST sebenarnya juga punya sumber recurring income, seperti hotel dan pendapatan dari pengelolaan kawasan industri. Namun sayangnya, kontribusi tersebut belum cukup untuk menutup beban operasional. Hasilnya, hingga Semester I 2025 ini, perusahaan masih mencatatkan rugi bersih.

Dengan kondisi marketing sales 0 hektar, ditambah recurring income yang belum mampu menopang kinerja, investor perlu lebih hati-hati melihat prospek BEST ke depan. Sampai ada katalis kuat yang mendorong investasi industri kembali bergairah, tampaknya kawasan industri seperti MM2100 masih harus bersabar.

Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi kontributor dan tidak mencerminkan pandangan resmi PintarSaham.id. Bukan merupakan rekomendasi investasi. Konten ini bersifat edukatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Data dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan laporan terbaru.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments