Dari permukaan, ASSA kelihatan cakep: pendapatan naik, margin membaik, laba melonjak, dan yang paling penting, arus kas operasionalnya bukan kaleng-kaleng. Tapi begitu masuk ke struktur keuangannya, utangnya lumayan bikin alis naik. Jadi, mari kita kulik satu-satu, biar bisa ngerti apakah ASSA ini masih menarik untuk dilirik, atau justru lagi banyak PR yang harus diberesin.
Tahun 2024, revenue ASSA tembus Rp4,96 triliun, naik sekitar 11,6% dibanding 2023 yang di angka Rp4,44 triliun. Kenaikan ini nggak cuma karena satu lini usaha, tapi hampir semua segmen ikut tumbuh. Jasa logistik jadi penyumbang terbesar dengan kontribusi Rp1,91 triliun, naik 15% dari tahun lalu. Rental kendaraan juga stabil di Rp1,59 triliun, dan penjualan kendaraan bekas naik cukup tajam ke Rp863 miliar.
Bahkan jasa lelang yang dulunya kecil, kini tumbuh 35% ke Rp265 miliar. Pendapatan ini nggak cuma tumbuh, tapi juga makin efisien. Beban pokok penjualan (COGS) naik cuma 3,7% jadi Rp3,45 triliun, artinya margin kotor melebar dari 25% ke 30,4%. Ini sinyal bagus karena perusahaan bisa menjaga biaya sambil tetap tumbuh.
Bagian yang bikin makin adem adalah arus kas operasi (CFO) yang menyentuh Rp748 miliar, jauh lebih tinggi dari laba bersih yang ‘cuma’ Rp330 miliar. Ini artinya ASSA nggak cuma untung di atas kertas, tapi benar-benar menghasilkan uang masuk. Laba bersih untuk pemilik entitas induk sendiri mencapai Rp243,7 miliar, naik 135% dari 2023.
Uniknya, tahun lalu ASSA sempat kelihatan seperti nyaris rugi secara konsolidasi karena ada anak usaha yang sebagian dimiliki pihak luar mengalami kerugian besar. Itulah kenapa laba total 2023 hanya Rp19 miliar, meskipun pemilik entitas induk tetap untung Rp103 miliar. Di 2024, semuanya membaik: anak usaha yang kemarin rugi sekarang untung, jadi kontribusi dari non-pengendali pun positif Rp86 miliar.
Dari sisi struktur neraca, total aset ASSA naik 5,3% ke Rp7,72 triliun. Aset tidak lancar yang naik paling tajam, terutama dari tambahan investasi di entitas asosiasi dan kendaraan baru. Di sisi lain, kas dan setara kas justru turun dari Rp760 miliar ke Rp593 miliar. Artinya, sebagian kas habis buat belanja kendaraan dan ekspansi. Liabilitas juga naik 4,4% jadi Rp4,94 triliun.
Di dalamnya, utang berbunga mendominasi, sekitar Rp4,02 triliun—angka yang cukup besar untuk ukuran bisnis sewa kendaraan. Beban bunga yang dibayar pun tinggi, hampir Rp294 miliar setahun. Kalau dihitung-hitung, dengan arus kas operasi sekarang, perlu waktu sekitar 5,4 tahun untuk melunasi seluruh utang berbunga, itu pun kalau semua duit operasional dipakai buat bayar utang, tanpa belanja apa-apa lagi.
Lalu gimana dengan efisiensi operasional? DSO (days sales outstanding) naik ke 32 hari dari sebelumnya 25 hari, yang artinya piutang agak lebih lama ditagih. DI (days inventory) tetap stabil di 7 hari, sedangkan DPO (days payable outstanding) justru turun dari 6,6 hari ke 4,2 hari. Akibatnya, cash conversion cycle naik jadi 35 hari—nggak bahaya, tapi perlu dicermati supaya likuiditas tetap aman. Sementara itu, jumlah karyawan bertambah dari 1.390 jadi 1.552 orang, naik sekitar 11,7%.
Sayangnya, nggak ada data eksplisit soal jumlah gerai atau pool kendaraan, jadi kita belum bisa hitung produktivitas per cabang. Tapi dengan asumsi revenue per karyawan sekitar Rp3,2 miliar dan laba per karyawan Rp156 juta, itu masih tergolong efisien untuk bisnis logistik-rental.
Dari sisi biaya, beban penjualan naik 45% jadi Rp27,9 miliar, meskipun porsinya kecil. Yang berat itu beban umum dan administrasi yang mencapai Rp801 miliar, tapi hanya naik tipis dari tahun lalu. COGS sendiri dirinci jadi banyak komponen: gaji dan tunjangan Rp904 miliar, penyusutan Rp849 miliar, beban pokok penjualan kendaraan Rp655 miliar, dan lain-lain seperti bensin, pajak kendaraan, maintenance. Artinya, memang model bisnisnya padat biaya tetap dan modal. Untungnya, semua beban ini masih sejalan dengan revenue, bahkan makin efisien karena margin naik.
Soal valuasi, dengan harga saham Rp560 dan market cap sekitar Rp2,067 triliun, ASSA saat ini punya PBV sekitar 1,06x dan PER sekitar 8,5x. Kalau kita pakai pendekatan FCF (free cash flow), yang tahun ini sekitar Rp316 miliar, berarti rasio P/FCF-nya di kisaran 6,5x—cukup murah. Namun saat kita pakai pendekatan enterprise value (EV), EV/EBIT jadi sekitar 7,8x dan EV/Net Income tembus 22x.
Ini karena utang yang besar bikin nilai enterprise naik tajam. ROE 2024 mencapai 12,8%, sementara ROIC sekitar 8,7%. Sayangnya, ROIC ini masih di bawah WACC yang diperkirakan di kisaran 10–10,4%, artinya secara teori ASSA belum menghasilkan “return” yang melebihi biaya modal yang harus ditanggung.
Satu hal yang menarik, nggak ada ‘laba gaib’ di laporan ini. Nggak ada revaluasi aset yang diakui sebagai laba, nggak ada laba luar biasa dari jual aset, dan pendapatan lain-lain pun cuma Rp29 miliar—alias kecil banget dibanding laba usaha Rp705 miliar. Jadi, kita bisa bilang dengan yakin: laba ASSA murni dari operasional, bukan dari akuntansi kreatif atau jual aset sekali waktu.
ASSA ini seperti pemain rental-logistik yang tahu cara cari duit, tapi masih harus hati-hati dalam ngatur utang. Kelebihannya ada di pertumbuhan yang konsisten, margin yang makin efisien, dan arus kas operasi yang kuat.
Tapi di sisi lain, beban bunga masih berat dan struktur pendanaan berbasis utang masih mendominasi. Selama manajemen bisa jaga arus kas tetap lancar dan refinancing tetap mudah, ASSA masih cukup atraktif—apalagi dengan valuasi sekarang yang nggak kemahalan. Singkatnya: duitnya jalan, tapi beban di pundaknya juga masih berat.
Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships


