Saturday, April 18, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightApakah Benar TPIA Jual Saham CDIA?

Apakah Benar TPIA Jual Saham CDIA?

Kasus ini makin menarik setelah dicek langsung ke data broker summary. Dari tanggal 8 sampai 22 Juli 2025, tidak ada satu pun transaksi jual atau beli saham CDIA yang dilakukan melalui broker JB alias BJB Sekuritas. Baik itu di pasar reguler maupun pasar negosiasi, data bersih dan kosong melompong.

Padahal, catatan di sistem insider trading dan KSEI menunjukkan bahwa pada tanggal 21 Juli, ada aksi penjualan sebanyak 29.546.400 lembar saham CDIA oleh TPIA melalui rekening efek yang dititipkan di PDNI HPAM – CAP Fund di bawah naungan BJB Sekuritas. Yang jadi pertanyaan besar, kalau tidak ada aktivitas jual beli lewat pasar, lalu bagaimana ceritanya saham itu bisa terjual?

Kalau kita lihat lagi kronologinya, sejak 8 Juli 2025, TPIA sudah tercatat punya 11.234.643.100 saham CDIA atau setara 9,00 persen. Lalu tiba-tiba di sistem tercatat bahwa kepemilikannya naik menjadi 11.264.189.500 saham atau 9,02 persen. Tapi selang beberapa hari, tepatnya 21 Juli, muncul pencatatan penjualan sebesar 29,5 juta saham dan jumlahnya kembali ke titik awal, yaitu 11.234.643.100 atau 9,00 persen.

Jadi simpelnya, tanggal 8 kepemilikan 9 persen, lalu sempat kelebihan jadi 9,02 persen, lalu dikurangi lagi jadi 9 persen. Kalau dari kacamata logika data, ini kelihatan seperti salah catat di awal. Harusnya 9 persen dari awal, tapi sempat dicatat 9,02 persen, lalu baru kemudian disesuaikan. Bukan jual beneran, tapi semacam pembetulan angka. Lucunya, koreksi angka ini malah muncul ke publik sebagai insider sell di fitur-fitur pelaporan seperti Stockbit dan RTI, padahal tidak ada jejak transaksi di bursa.

Dan ini makin masuk akal karena BJBR Sekuritas, yang dipakai oleh PDNI HPAM – CAP Fund sebagai broker, tidak mencatat transaksi apa pun di pasar selama periode tersebut. Kalau benar ada jual beli, minimal harus muncul di data broker summary. Tapi ini tidak ada sama sekali.

Artinya, pengurangan jumlah saham itu bukan berasal dari perdagangan pasar, tapi kemungkinan besar berasal dari mutasi non-pasar seperti koreksi pencatatan awal, switching antar rekening efek, atau adjustment administratif di sistem KSEI. Hal semacam ini memang kadang terjadi saat proses penjatahan atau alokasi efek menjelang IPO, apalagi kalau efeknya ditempatkan di lebih dari satu akun efek seperti kasus TPIA yang pakai dua jalur, yaitu BCA Sekuritas dan BJBR Sekuritas.

Masalahnya bukan pada teknis koreksinya, tapi pada cara pencatatan dan komunikasi publiknya. Karena label insider sell itu muncul di sistem yang dibaca investor, publik bisa menyimpulkan bahwa TPIA menjual saham di masa lock-up. Padahal, kalau memang ini cuma koreksi salah input, tinggal direvisi saja dan dijelaskan secara terbuka. Tidak usah menunggu gaduh. Bisa lewat keterbukaan informasi atau pernyataan dari CDIA atau TPIA bahwa tidak ada penjualan saham keluar dari grup dan bahwa data 9,02 persen yang sempat muncul adalah kesalahan input teknis, bukan perubahan kepemilikan riil.

Jadi singkatnya, BJBR Sekuritas tidak menjual apa-apa. CDIA tidak ada pergerakan saham di pasar dari akun HPAM. Jumlah saham TPIA sempat naik 0,02 persen lalu turun lagi ke posisi awal. Tidak ada transaksi pasar, tidak ada dana masuk, tidak ada pihak luar yang terlibat. Tapi yang muncul ke publik malah kesan jual di masa lock-up. Di sinilah pentingnya penjelasan resmi. Karena kalau ini dibiarkan, bisa bikin asumsi liar dan memunculkan persepsi seolah-olah aturan lock-up itu cuma formalitas di atas kertas. Padahal bisa jadi cuma kesalahan input biasa yang solusinya simpel, yaitu revisi catatan dan beri klarifikasi. Selesai.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments