Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightAISA LK FULL YEAR 2024 Kok Bisa Laba Meroket?

AISA LK FULL YEAR 2024 Kok Bisa Laba Meroket?

Revenue AISA naik 12,7% ke Rp1,92 triliun, didorong oleh segmen industri makanan yang makin agresif. Entah itu karena produk mereka makin laris atau sekadar ekspansi distribusi, yang jelas angka ini jauh lebih baik daripada 2023. Sementara itu, beban pokok penjualan (COGS) naik 6,5% ke Rp1,21 triliun, tapi kenaikannya lebih pelan dibanding revenue. Artinya, AISA berhasil memperbaiki margin laba kotor dari 33,2% ke 36,8%. Bagus? Ya, setidaknya mereka gak kebobolan di biaya produksi.

Tapi ada satu yang naik lebih tinggi dari revenue: beban penjualan dan distribusi. Lonjakannya 37% ke Rp382 miliar. Mungkin tim marketing AISA sekarang hidup lebih mewah? Atau mereka benar-benar ngotot ekspansi sampai jor-joran? Yang jelas, pertumbuhan beban ini jauh lebih agresif dibanding pertumbuhan revenue, dan ini perlu dipantau. Di sisi lain, beban umum dan administrasi naik santai 4,6% ke Rp190 miliar, jadi sepertinya departemen administrasi masih bisa duduk santai tanpa kenaikan biaya berlebihan.

Laba bersih dari Rp18,8 miliar di 2023, AISA mendadak mencetak Rp69,5 miliar di 2024. Itu naik 270%. Rasanya seperti nemu saham yang tiba-tiba auto reject atas tanpa alasan. Tapi kali ini alasannya cukup jelas: gross margin naik, revenue tumbuh, dan yang paling penting, arus kas operasi (CFO) juga melonjak dari Rp78 miliar ke Rp272 miliar. Ini yang bikin laba mereka terlihat lebih nyata, bukan sekadar angka akrual di kertas. Dengan CFO 4x lebih besar dari laba bersih, ini bukan perusahaan yang “laba tinggi tapi kas kosong.


Dari sisi kesehatan finansial, AISA cukup solid. Debt-to-equity ratio 0,88x masih dalam batas wajar. Kas mereka Rp223 miliar, cukup untuk membayar utang bank jangka pendek Rp32 miliar dan liabilitas sewa jangka pendek Rp12 miliar. Bahkan kalau semua utang berbunga Rp257 miliar mau dilunasi, mereka cuma butuh satu tahun penuh arus kas operasi, alias perusahaan ini nggak perlu drama roll-over utang seperti emiten properti yang suka nyicil buat bayar bunga.

Tapi ada satu masalah. ROIC AISA di 2024 sekitar 7,9%, sedangkan WACC-nya diperkirakan di 12,8%. Ini kayak naruh duit di deposito 3% buat bayar cicilan kartu kredit yang bunganya 6%—rugi bandar. Artinya, secara fundamental, bisnis ini belum cukup menghasilkan return yang lebih tinggi dari biaya modalnya. Dengan kata lain, “buat apa capek-capek kalau hasilnya masih di bawah biaya hutang sendiri?”

Valuasi gimana? Market cap AISA Rp959 miliar, dengan ekuitas Rp1,046 triliun. Secara P/BV, mereka dihargai 0,92x alias di bawah nilai bukunya. Murah? Relatif. P/E di 13,8x juga nggak terlalu mahal untuk industri consumer staples, meskipun masih lebih rendah dibanding emiten FMCG besar yang biasanya di 15-25x. Jadi kalau AISA bisa mempertahankan momentum pertumbuhan ini, valuasinya bisa kelihatan semakin menarik. Tapi kalau laba mereka turun lagi, ya jangan heran kalau market cap ikut longsor.

Terus, aman nggak? Dari sisi cash conversion cycle (CCC), AISA makin efisien. Mereka berhasil menurunkan CCC dari 38 hari ke 30 hari. Piutang lebih cepat tertagih (DSO turun dari 64 ke 54 hari), persediaan lebih efisien (DIO turun dari 30 ke 28 hari), meskipun mereka membayar pemasok sedikit lebih cepat (DPO turun dari 56 ke 52 hari). Ini berarti manajemen modal kerja semakin rapih, gak ada indikasi mereka harus memperpanjang utang ke supplier buat nutup arus kas.

AISA makin sehat, laba makin nyata, cashflow kuat, tapi tantangan utamanya ada di return on capital yang masih di bawah WACC. Valuasi cukup murah, tapi hanya masuk akal kalau pertumbuhan ini bisa bertahan. Kalau laba tiba-tiba turun lagi, ya siap-siap harga sahamnya ikut nyungsep. Buat sekarang, perusahaan ini bukan berlian, tapi juga bukan jebakan batman. Kalau mereka bisa naikkan ROIC, bisa jadi hidden gem. Kalau nggak, ya sekadar bisnis jalan tapi nggak bikin kaya.

Meskipun AISA cetak laba dan cashflow gede, dividen 100% tidak mungkin karena saldo laba masih minus sekitar Rp2 triliun. Regulasi melarang pembagian dividen jika saldo laba negatif. Dengan laba bersih Rp69,5 miliar, butuh puluhan tahun untuk menutup defisit. Kas Rp223 miliar dan CFO Rp272 miliar cukup untuk operasional, tapi bukan untuk bayar dividen. Fokus utama AISA seharusnya menutup defisit, ekspansi, atau bayar utang. Jadi, jangan berharap dividen dalam waktu dekat.

Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments