Pada kuartal ketiga tahun 2025, PT Intraco Penta Tbk (INTA) mencatatkan kinerja yang memberikan gambaran menyeluruh tentang posisi fundamental dan arah strategi operasional perusahaan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Analisis berikut mengulas perkembangan neraca, profitabilitas, rasio keuangan, hingga valuasi pasar saham perusahaan.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Aset
- Total Aset: Per 30 September 2025, total aset tercatat sebesar Rp 2.401.507 juta, mengalami kenaikan 1,32% dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2024 sebesar Rp 2.370.220 juta.
- Aset Lancar: Aset lancar menurun 4,38% menjadi Rp 720.224 juta, terutama dipengaruhi oleh penurunan pada kas dan setara kas.
- Aset Tidak Lancar: Aset tidak lancar tercatat sebesar Rp 1.681.283 juta, naik 3,98%, didorong oleh kenaikan aset tetap disewakan dan aset tidak lancar lainnya.
Liabilitas
- Total Liabilitas: Hingga akhir September 2025, liabilitas mencapai Rp 4.507.209 juta, naik 2,09% dibandingkan akhir tahun lalu.
- Liabilitas Jangka Pendek: Tercatat sebesar Rp 950.554 juta, meningkat 12,34%, terutama disebabkan oleh kenaikan utang usaha dan beban akrual.
- Liabilitas Jangka Panjang: Berada di posisi Rp 3.556.655 juta, dengan penurunan 0,34%, mencerminkan perubahan struktur pendanaan jangka panjang seperti penurunan utang bank jangka panjang.
Ekuitas
- Total Ekuitas (Defisiensi Modal): Ekuitas perusahaan tercatat negatif (defisiensi modal) sebesar Rp (2.105.702) juta, defisiensi modal ini meningkat 2,97% dibandingkan 31 Desember 2024, didorong oleh akumulasi rugi periode berjalan.
Laporan Laba Rugi
Pendapatan
Selama sembilan bulan pertama 2025, pendapatan usaha perusahaan mencapai Rp 739.163 juta, naik 11,87% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 660.754 juta. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan dari segmen jasa persewaan.
Laba Bersih (Rugi Bersih)
Rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp (49.674) juta, menunjukkan perbaikan (penurunan rugi) sebesar 31,48% YoY dari periode yang sama tahun lalu yang mencatat rugi Rp (72.494) juta. Perbaikan ini terutama disebabkan oleh kenaikan laba kotor, penurunan beban penjualan, serta peningkatan bagian laba entitas asosiasi.
Earnings per Share (EPS) – Rugi per Saham
Rugi per saham dasar tercatat sebesar Rp (15), mencerminkan perbaikan (penurunan rugi per saham) 31,82% YoY, sejalan dengan penurunan rugi bersih.
Rasio Keuangan
Likuiditas
- Current Ratio: 0,76x, menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan aset lancar masih di bawah 1x.
- Quick Ratio: 0,49x, mengindikasikan likuiditas yang lebih ketat dengan mengecualikan persediaan dari aset lancar.
Profitabilitas
- Margin Laba Kotor: 20,29%, menunjukkan efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba dari pendapatan usaha.
- Margin Laba Bersih: -6,72%, mencerminkan perusahaan masih mencatat kerugian setelah dikurangi seluruh beban operasional dan pajak.
Efisiensi & Pengembalian
- Return on Assets (ROA): -2,78% (disetahunkan), menilai efektivitas pemanfaatan aset dalam menghasilkan laba bersih masih negatif.
- Return on Equity (ROE): Tidak bermakna (negatif), karena ekuitas perusahaan negatif (defisiensi modal).
Solvabilitas
- Debt to Equity Ratio (DER): -2,41x, menunjukkan struktur pendanaan perusahaan dengan liabilitas yang jauh melebihi aset (ekuitas negatif), mencerminkan tingkat risiko solvabilitas yang sangat tinggi.
Valuasi Pasar
- Price to Earnings Ratio (PER): Berdasarkan harga penutupan saham Rp 43 per 24 Oktober 2025, PER tidak bermakna (NM) karena perusahaan mencatat rugi bersih (EPS negatif).
- Price to Book Value (PBV): Dengan nilai buku per saham negatif sebesar Rp -558,63, PBV perusahaan berada di level -0,08x, mencerminkan kondisi ekuitas negatif perusahaan.
Kesimpulan
Kinerja keuangan INTA selama kuartal III 2025 menunjukkan adanya pertumbuhan pendapatan usaha dan perbaikan pada tingkat rugi bersih dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh segmen jasa persewaan.
Meskipun demikian, investor perlu sangat memperhatikan kondisi fundamental perusahaan yang masih menantang:
- Likuiditas Ketat: Current Ratio dan Quick Ratio di bawah 1x menunjukkan tekanan pada kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek.
- Profitabilitas Negatif: Perusahaan masih mencatatkan rugi bersih.
- Ekuitas Negatif (Defisiensi Modal): Total liabilitas melebihi total aset, membuat rasio solvabilitas seperti DER dan ROE menjadi negatif atau tidak bermakna, serta mengindikasikan risiko finansial yang sangat tinggi.
- Valuasi Negatif: PER dan PBV tidak bermakna atau negatif karena rugi bersih dan ekuitas negatif.
Perbaikan rugi bersih menjadi sinyal positif awal, namun pemulihan fundamental yang berkelanjutan, terutama mengatasi defisiensi modal dan mencapai profitabilitas, akan menjadi kunci bagi prospek perusahaan ke depan. Investor perlu memantau efektivitas strategi manajemen dalam restrukturisasi utang, peningkatan efisiensi operasional, dan penguatan struktur modal.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


