Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightBOAT LK Q2 2025: BOAT Laba Naik 957% tapi Kas Bocor, Piutang ke...

BOAT LK Q2 2025: BOAT Laba Naik 957% tapi Kas Bocor, Piutang ke Bos Tanpa Bunga, Revenue Melonjak 66% CFO Jeblok 55%, PBV 1,18x PER 45x Overvalued atau Multibagger, Mesin Laba atau Bom Waktu?


PT Newport Marine Services Tbk adalah sebuah perusahaan jasa perkapalan yang lahir pada tahun 2008 dan resmi beroperasi sejak 2009. Perjalanan mereka bermula dari Surabaya sebelum akhirnya berkantor pusat di Jakarta. Pada 2024, perusahaan ini mengambil langkah penting dengan mengubah status dari tertutup menjadi terbuka dan resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 12 November 2024.

Transformasi ini menandai babak baru, membuka akses pendanaan publik, sekaligus menuntut transparansi yang lebih tinggi. Pemegang kendali perusahaan adalah keluarga Soekarno Putra bersama Dharmawati Djuhana, yang juga duduk di jajaran manajemen dan dewan komisaris. Dengan struktur kepemilikan yang masih dikuasai keluarga, arah strategi bisnis sangat bergantung pada keputusan internal mereka.

Secara struktur organisasi, posisi kunci dipegang langsung oleh keluarga. Surya Soekarno Putra menjadi Direktur Utama, Sujaya Soekarno Putra duduk sebagai Komisaris, sementara Dharmawati Djuhana menjabat Komisaris Utama. Kehadiran Ahmad Wisya Pratama sebagai Direktur di bidang akuntansi dan keuangan menambah lapisan profesional, meskipun dominasi keluarga tetap kuat.

Jumlah karyawan hanya sekitar 100 orang per Juni 2025, yang menunjukkan ukuran operasional masih ramping, cukup kecil untuk emiten terbuka, namun bisa memberi fleksibilitas dalam pengelolaan.Kinerja keuangan paruh pertama 2025 sangat menarik perhatian. Pendapatan tumbuh 66% menjadi USD 7,57 juta dari USD 4,55 juta tahun sebelumnya.

Laba kotor naik 32% ke USD 1,23 juta, laba usaha meningkat 34% ke USD 692 ribu, dan laba bersih melonjak hampir 957% dari hanya USD 30 ribu menjadi USD 319 ribu. Angka ini memperlihatkan lonjakan luar biasa dalam profitabilitas. Lonjakan laba yang jauh lebih tinggi dari revenue growth menandakan efisiensi dan optimalisasi utilisasi kapal, meskipun margin kotor agak tergerus karena biaya sewa kapal naik lebih cepat.

Bisnis utama NMS adalah penyediaan kapal untuk kegiatan offshore sektor migas. Model bisnis mereka berfokus pada penyewaan kapal, baik milik sendiri maupun kapal charter dari pihak ketiga. Segmen kapal charter tumbuh paling cepat, dari USD 1,67 juta pada H1 2024 menjadi USD 4,76 juta pada H1 2025.

Sebaliknya, kontribusi kapal milik sendiri justru menurun. Hal ini menunjukkan ketergantungan perusahaan pada ketersediaan kapal charter, yang walau memberi fleksibilitas kapasitas, bisa menimbulkan risiko biaya sewa yang lebih tinggi. Pelanggan utama perusahaan meliputi PT Suasa Benua Sukses dan PT Bangun Sarana Samudra Laut, sementara vendor besar seperti Vallianz Offshore Maritim dan Win Maritime menjadi pemasok penting.

Salah satu kekuatan NMS adalah kontrak jangka panjang dengan perusahaan besar migas. Kapal NMS Achieve terikat kontrak dengan Husky CNOOC hingga September 2025, sementara kapal NMS Accelerate dan NMS Accomplish disewa Pertamina Hulu Energi hingga Juli 2026. Kontrak semacam ini memberi kepastian pendapatan yang stabil. Namun ada sisi lain yang mengganggu, yaitu transaksi pihak berelasi. Piutang kepada Sujaya dan Surya Soekarno Putra diberikan tanpa bunga, tanpa jaminan, dan tanpa jadwal pengembalian. Praktik ini adalah red flag serius karena berpotensi menggerus likuiditas dan menimbulkan konflik kepentingan. Selain itu, beban sewa kantor dan kapal kepada perusahaan berelasi juga cukup signifikan.

Dari sisi aset, per Juni 2025 total aset tercatat USD 35,6 juta, sedikit turun dari USD 36,2 juta akhir 2024. Aset tetap berupa kapal mendominasi dengan nilai neto USD 27,4 juta. Aset lancar mencapai USD 6,4 juta, naik dari USD 5,57 juta, yang memperbaiki posisi likuiditas. Namun saldo kas turun drastis dari USD 634 ribu menjadi USD 331 ribu. Penurunan kas ini terjadi meski arus kas operasi positif, karena tekanan dari pembayaran utang bank dan bunga yang besar. Penurunan kas inilah yang membuat manajemen likuiditas menjadi isu penting.

Liabilitas perusahaan juga mengalami penurunan, dari USD 12,3 juta menjadi USD 11,3 juta. Liabilitas jangka panjang mencapai USD 8,2 juta, sedangkan jangka pendek USD 3,1 juta. Rasio net debt to equity turun menjadi 38%, relatif aman di bawah ambang 100%. Current ratio sebesar 2,05x menunjukkan perusahaan mampu menutup kewajiban jangka pendek dengan baik. Meski demikian, hampir seluruh kapal dijadikan jaminan utang, ditambah piutang usaha, persediaan, apartemen, dan jaminan pribadi dari direksi. Struktur jaminan yang berat ini menandakan ketergantungan tinggi pada kreditur utama seperti LPEI.

Dari sisi cashflow, perusahaan menghasilkan kas operasi sebesar USD 758 ribu, namun menurun 26% dibandingkan tahun lalu. Free cash flow masih positif USD 742 ribu, lebih tinggi dari laba bersih, menandakan laba yang dicetak didukung oleh kas riil. Akan tetapi, arus kas pendanaan negatif hingga USD 996 ribu karena pembayaran pokok utang dan bunga, yang menyebabkan kas akhir periode turun. Tidak ada penerimaan utang baru pada semester pertama 2025, berbeda dengan tahun sebelumnya saat ada tambahan pinjaman USD 5,39 juta. Hal ini menunjukkan strategi perusahaan yang lebih fokus membayar utang daripada ekspansi melalui leverage.

Jika dilihat lebih dalam, ada anomali dalam laporan keuangan. Laba bersih melonjak, tetapi arus kas operasi justru menurun. Salah satu penyebabnya adalah lonjakan uang muka operasional dan pembelian aset tetap yang naik hampir tiga kali lipat. Selain itu, pembayaran kepada pemasok melonjak lebih dari dua kali lipat, menguras kas meski penerimaan dari pelanggan naik. Red flag terbesar ada di piutang jatuh tempo lebih dari 90 hari yang naik tajam dari USD 8 ribu menjadi USD 1,03 juta. Ini sinyal adanya masalah serius dalam penagihan yang bisa mengganggu likuiditas ke depan.

Di sisi biaya, COGS tumbuh 75%, lebih cepat dari revenue 66%. Margin laba kotor pun menurun. Beban usaha relatif terkendali dengan pertumbuhan hanya 30%, lebih rendah dari revenue. Beban keuangan justru turun 36%, kemungkinan karena pembayaran utang atau restrukturisasi. Secara geografis, meski berpusat di Jakarta, perusahaan melayani klien internasional seperti Husky CNOOC yang berbasis di British Virgin Island dan Ruhm Marine dari Malaysia. Diversifikasi pelanggan lintas negara memberi peluang pasar lebih luas, meski tetap ada risiko eksposur internasional.

Manajemen modal kerja menunjukkan hasil campuran. Persediaan bahan bakar kapal menurun sedikit, yang bisa dianggap efisien. Namun piutang bermasalah yang membengkak jelas mengkhawatirkan. SGA yang terkendali adalah hal positif, tetapi beban charter yang menekan margin perlu diantisipasi. Arus kas operasi lebih kecil dari tahun lalu menambah catatan bahwa pengelolaan kas belum optimal, meskipun secara teknis laba masih ditopang oleh kas riil. Dalam jangka pendek, likuiditas masih aman berkat current ratio tinggi, tetapi jika piutang macet makin membesar, situasinya bisa berubah.

Regulasi yang berlaku memberikan dukungan tertentu. Pajak final 1,2% untuk pendapatan operasional kapal memberi kepastian dan menyederhanakan kewajiban pajak. Namun kovenan pinjaman dengan LPEI cukup mengikat, membatasi ruang gerak perusahaan untuk merger, perubahan anggaran dasar, atau distribusi dividen jika kondisi keuangan tertentu tidak terpenuhi. Bahkan ada syarat bahwa Sujaya dan Surya Soekarno Putra harus tetap menjabat, yang berarti tata kelola perusahaan terikat erat pada individu, bukan institusi. Ini bisa menjadi risiko jangka panjang jika pergantian manajemen dibutuhkan.

Proyek dan kontrak yang sedang berjalan mendukung keberlanjutan usaha. Kontrak dengan Husky CNOOC dan Pertamina Hulu Energi memberi stabilitas revenue hingga 2025 dan 2026. Tidak ada catatan kasus hukum besar, tetapi transaksi pihak berelasi dan piutang macet bisa menjadi hambatan tidak langsung. Dengan basis pendapatan recurring yang kuat, perusahaan punya fondasi untuk bertahan. Tantangannya adalah bagaimana memperbaiki tata kelola, mengendalikan biaya charter, serta memperketat penagihan piutang agar tidak menekan likuiditas.

PT Newport Marine Services Tbk adalah contoh perusahaan baru yang berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba luar biasa dalam waktu singkat. Mereka punya recurring income yang solid dari kontrak jangka panjang, likuiditas jangka pendek aman, serta laba yang ditopang kas riil. Namun sisi lain menunjukkan risiko, terutama piutang macet, transaksi dengan pihak berelasi yang tidak profesional, dan tekanan kas akibat pembayaran utang. Jika kelemahan ini bisa diperbaiki, NMS berpotensi menjadi pemain stabil di industri offshore support vessel. Jika tidak, pertumbuhan laba besar di atas kertas bisa saja berubah menjadi masalah likuiditas di lapangan.

Kalau kita bedah lebih dalam laporan Newport, kelihatan sekali bahwa perusahaan ini punya hubungan erat dengan pihak berelasi, baik individu maupun entitas yang masih satu lingkaran. Tiga nama besar yang jadi pengendali adalah Dharmawati Djuhana, Sujaya Soekarno Putra, dan Surya Soekarno Putra. Mereka bukan cuma duduk di kursi komisaris dan direksi, tapi juga jadi pemegang saham utama. Lalu ada PT Newport Offshore Services (NOS) dan PT Newport Gemilang Jaya (NGJ) yang juga masuk dalam lingkaran, di mana aliran transaksi operasional dan non-operasional banyak melewati entitas tersebut.

Kalau bicara angka, piutang usaha ke pihak berelasi sebenarnya kecil banget, dari NGJ cuma 629 dolar per Juni 2025 dan 67 dolar per Desember 2024. Angka ini nol koma nol sekian persen dari total aset, jadi praktis tidak punya dampak apa-apa. Namun situasinya berubah kalau kita lihat piutang lain-lain. Ke NOS tercatat 835 ribu dolar per Juni 2025, sedikit turun dari 966 ribu dolar di akhir 2024.

Piutang ini muncul karena uang muka untuk pengoperasian kapal NMS Sapphire. Lalu ada piutang ke Sujaya sekitar 400 ribu dolar dan ke Surya sekitar 347 ribu dolar per Juni 2025. Total piutang lain-lain ke pihak berelasi jadi 1,58 juta dolar, setara 4% lebih dari ekuitas. Masalahnya, pinjaman ke dua pengendali ini tanpa bunga, tanpa jaminan, dan tanpa jadwal pengembalian. Dari sisi tata kelola, jelas ini red flag, karena aset perusahaan dipakai untuk memberi pinjaman personal tanpa syarat komersial yang jelas.

Di sisi utang usaha, ceritanya lebih wajar. Ke NGJ ada 49 ribu dolar per Juni 2025, jauh turun dari 285 ribu dolar akhir 2024. Ke NOS malah cuma 4.898 dolar per Juni 2025. Angka-angka ini normalnya muncul dari transaksi operasional seperti jasa sewa kapal atau layanan maritim. Menurunnya utang usaha ke NGJ bisa diartikan perusahaan sudah melunasi lebih banyak tagihan atau memang berkurang menggunakan jasanya di periode berjalan.

Beban sewa kapal ke NGJ juga turun tajam, dari 539 ribu dolar di semester pertama 2024 jadi 245 ribu dolar di semester pertama 2025. Kalau dibandingkan revenue, porsinya menyusut dari hampir 12% jadi 3%. Ini positif karena artinya perusahaan berhasil menekan biaya charter kapal berelasi atau lebih banyak menggunakan armada non-berelasi. Penurunan ini ikut membantu margin, meskipun tetap harus dipastikan bahwa harga sewanya benar-benar sesuai harga pasar.

Ada juga beban sewa lain seperti kendaraan dan ruang kantor. Kepada NOS, beban ini naik dari 24 ribu dolar di semester pertama 2024 jadi 98 ribu dolar di semester pertama 2025. Sementara kepada komisaris sekitar 16 ribu dolar, ke direktur utama juga 16 ribu dolar, dan ke direktur lain sekitar 18 ribu dolar di periode yang sama. Angka ini menunjukkan perusahaan menyewa aset milik manajemen sendiri. Praktiknya tidak dilarang, tapi kalau tarifnya lebih mahal dari pasar, itu bisa jadi cara mengalihkan keuntungan ke pihak berelasi. Jadi kewajaran harga di sini penting banget.

Kompensasi manajemen kunci sendiri masih tergolong normal. Untuk semester pertama 2025, total gaji dan tunjangan dewan serta direksi mencapai 105 ribu dolar, naik dari 86 ribu dolar tahun sebelumnya. Kenaikan ini masih bisa dimaklumi mengingat status perusahaan sudah jadi Tbk dan kinerja laba bersih melonjak hampir 10 kali lipat. Selama angka ini disetujui pemegang saham dan transparan, tidak ada masalah berarti.

Ada juga restrukturisasi internal yang dilakukan tahun 2023 ketika Newport melepas saham NGJ ke NOS. Selisih transaksi sebesar minus 92 ribu dolar dicatat di ekuitas sebagai selisih restrukturisasi sepengendali. Dampaknya ke operasi sehari-hari tidak besar, hanya merapikan struktur entitas dalam grup. Efek jangka panjangnya, aliran transaksi sewa kapal makin terkonsentrasi ke NOS sebagai pemilik NGJ.

Satu hal yang agak beda justru datang dari jaminan pribadi. Sujaya dan Surya sebagai pengendali tercatat menjadi penjamin pribadi atas utang bank jangka panjang Newport dari LPEI. Ini bukan red flag, malah bisa dibilang komitmen, karena bank biasanya minta hal seperti ini ketika perusahaan belum cukup besar atau asetnya tidak cukup kuat. Dengan adanya jaminan pribadi, bank merasa lebih aman memberikan kredit.

Kalau dilihat dari sisi pendapatan, justru kabar baiknya Newport tidak mencatat revenue dari pihak berelasi di semester pertama 2024 maupun 2025. Artinya, semua pendapatan datang murni dari pihak ketiga. Jadi tidak ada risiko permainan harga transfer di sisi penjualan. Yang perlu diawasi justru ada di sisi beban, karena ada beberapa pos biaya yang mengalir ke entitas berelasi.

Kalau kita geser ke kepemilikan saham, strukturnya praktis tidak berubah. Sujaya masih memegang 1 miliar lembar atau 28,6%, Dharmawati dan Surya masing-masing 750 juta lembar atau 21,4%. Sugiman Halim naik tipis 2 juta lembar menjadi 369,9 juta lembar atau 10,56%. Sisanya dipegang publik sekitar 18%. Jadi kontrol tetap terkonsentrasi di keluarga, sementara masyarakat hanya punya porsi minoritas. Struktur semacam ini bikin keputusan perusahaan sangat bergantung pada keluarga pengendali.

Kalau semua potongan cerita ini digabung, kelihatan jelas bahwa operasional inti Newport sehat karena revenue datang dari pihak ketiga dengan kontrak jangka panjang. Beban berelasi juga cenderung menurun, yang artinya ketergantungan bisa dikurangi. Tapi di sisi lain, praktik pinjaman tanpa bunga dan tanpa jaminan ke pengendali jelas jadi sorotan. Itu ibarat perusahaan ngasih uang ke bos tanpa kepastian kapan kembali, padahal perusahaan masih butuh kas buat bayar utang dan bunga.

Dari kacamata investor publik, red flag paling besar ada pada piutang ke pengendali. Sementara transaksi berelasi lain seperti sewa kendaraan, sewa kantor, atau charter kapal masih bisa ditoleransi selama tarifnya sesuai harga pasar. Untuk jaminan pribadi malah jadi poin positif. Dengan kondisi seperti ini, tantangan manajemen Newport adalah memperbaiki tata kelola agar lebih profesional. Kalau pinjaman ke pengendali bisa diatur ulang dengan syarat komersial atau dilunasi, investor bakal lebih percaya. Jadi ceritanya bukan lagi tentang pertumbuhan revenue atau laba yang tinggi, tapi soal bagaimana perusahaan bisa disiplin menjaga integritas dan transparansi di mata pasar.

Kalau kita bongkar valuasi BOAT di harga IDR 134 dengan kurs USD 1 setara IDR 16.300, terlihat bahwa ceritanya tidak sesederhana angka PER atau PBV semata. Market cap BOAT di level ini mencapai sekitar USD 28,8 juta. Laba bersih tahunan proforma hanya USD 0,64 juta, sehingga PER melonjak sampai 45,1x. Rasio setinggi ini jarang ditemui di industri pelayaran yang padat modal dengan margin operasional tipis.

Sebagai perbandingan, perusahaan shipping global biasanya dihargai 5x–15x PER tergantung kondisi siklus. Fakta ini sendiri sudah menjadi bukti bahwa valuasi berbasis PER tidak bisa disebut wajar, kecuali ada ekspektasi pertumbuhan laba yang konsisten dan berlipat ganda di tahun-tahun berikutnya.Kalau berpindah ke PBV, gambarnya sedikit berbeda. Nilai buku per saham USD 0,006935 membuat PBV BOAT 1,18x.

Angka ini masih dalam batas wajar karena emiten pelayaran di Indonesia sering dihargai 1x–1,5x nilai buku. Namun saat kita bersihkan ekuitas dari surplus revaluasi aset tetap sebesar USD 9,24 juta, tangible book turun ke USD 15,04 juta atau USD 0,004295 per saham. Hasilnya PTBV naik ke 1,91x, yang menunjukkan bahwa pasar memberikan valuasi premium terhadap nilai buku riil di luar revaluasi kapal. Ini berarti sebagian besar kekuatan PBV datang dari angka kertas revaluasi, bukan laba ditahan. Kalau suatu saat nilai revaluasi disesuaikan turun, nilai buku bisa terkikis dan otomatis PBV melonjak lebih tinggi, sehingga risiko valuasi menjadi lebih besar.

Rasio berbasis arus kas memberikan perspektif yang lebih bersahabat. CFO tahunan proforma USD 1,52 juta setara CFOPS USD 0,000433. FCF tahunan USD 1,39 juta setara FCFPS USD 0,000396. Dari sini, P/CFO berada di 19x dan P/FCF di 20,8x. Kedua rasio ini memang tidak murah, tetapi lebih masuk akal dibanding PER 45x. Rasio EV/EBITDA juga relevan untuk industri padat modal seperti BOAT.

Dengan EV sekitar USD 38,1 juta, EBITDA tahunan proforma USD 3,97 juta menghasilkan EV/EBITDA 9,6x, level yang masih moderat. Bandingkan dengan EV/EBIT yang tembus 27,5x karena depresiasi kapal tahunan USD 2,59 juta sangat menekan EBIT. Bukti ini menegaskan bahwa untuk perusahaan dengan aset berat dan depresiasi tinggi, EV/EBITDA lebih pantas dipakai ketimbang PER atau EV/EBIT.

Masalah muncul ketika kita bedah margin. Revenue memang naik 66% ke USD 15,1 juta tahunan, tetapi GPM turun dari 20,6% ke 16,3%, OPM turun dari 11,4% ke 9,1%. CFO margin yang tahun lalu 22,6% jeblok ke 10%. Artinya, meskipun laba bersih melonjak dari basis rendah ke USD 0,64 juta, konversi laba ke kas jauh lebih lemah. Ini bukti bahwa pertumbuhan bottom line lebih banyak dipengaruhi oleh penurunan beban bunga, bukan efisiensi operasional inti. NPM memang naik ke 4,2%, tetapi kualitasnya masih dipertanyakan karena tidak sejalan dengan kinerja kas. Bagi investor jangka panjang, hal ini bisa menjadi red flag karena kas operasional adalah sumber pembayaran utang dan potensi dividen, sementara laba akuntansi hanya di atas kertas.

Jika kita tarik target konservatif PBV 1 dan PER 10, harga ideal BOAT jauh lebih rendah dari harga pasar. PBV 1 setara IDR 113, sedangkan PER 10 hanya IDR 29. Dengan kata lain, harga IDR 134 sekarang berada di atas nilai konservatif tersebut. Supaya harga IDR 134 terlihat wajar dengan PBV 1, ekuitas harus naik dari USD 24,3 juta ke USD 28,8 juta. Jalan satu-satunya adalah mencetak laba konsisten dan menahan laba ditahan. Supaya PER turun ke 10 di harga yang sama, laba bersih tahunan harus naik 4,5 kali lipat ke USD 2,88 juta. Itu berarti perusahaan harus meningkatkan revenue, memperbaiki marjin operasional, dan menekan beban bunga lebih jauh. Tanpa itu, harga saham akan tetap premium dibanding fundamental.

Perbandingan neraca per saham juga menunjukkan risiko. Harga per saham USD 0,00822, kas per saham hanya USD 0,000094, sementara utang per saham USD 0,002746. Artinya, utang per saham 29 kali lipat lebih besar daripada kas per saham. Fakta ini bukti bahwa BOAT sangat bergantung pada kas operasi dari kontrak charter untuk menjaga likuiditas. Kalau terjadi keterlambatan pembayaran dari pelanggan atau turunnya tarif sewa kapal, kas bisa seret sementara utang tetap harus dibayar. Struktur seperti ini meningkatkan risiko keuangan, terutama jika pasar charter memasuki fase lesu.

Untuk investor yang ingin BEP dalam 10 tahun tanpa kenaikan harga saham, hitungannya sederhana. Dengan harga sekarang USD 0,00822 per saham, butuh arus nilai per tahun USD 0,000822 per saham. Saat ini EPS hanya USD 0,000182, CFOPS USD 0,000433, FCFPS USD 0,000396. Jadi EPS perlu naik 4,5x, CFO per saham 1,9x, FCF per saham 2,1x. Tanpa kenaikan ini, investor tidak akan impas hanya dari kinerja internal perusahaan. Bukti hitungan ini jelas menunjukkan gap antara kinerja sekarang dengan kebutuhan investor untuk sekadar balik modal.

Di luar angka rasio dan valuasi, ada isu governance yang tidak bisa diabaikan. BOAT tercatat memberikan pinjaman ke pemegang saham tanpa bunga, tanpa jaminan, dan tanpa jadwal pengembalian. Praktik seperti ini adalah red flag besar dalam tata kelola karena bisa menggerus kas perusahaan dan merusak kepercayaan investor. Bagi banyak analis, risiko governance sering lebih berat daripada sekadar rasio keuangan karena langsung memengaruhi kualitas laba dan arus kas. Jadi meskipun EV/EBITDA masih terlihat moderat, faktor governance ini membuat valuasi layak diberi diskon.

Rasio valuasi BOAT tidak sepenuhnya wajar. PER 45x terlalu tinggi, PBV 1,18x masih lumayan wajar tapi tergantung revaluasi aset, EV/EBITDA 9,6x moderat, P/CFO dan P/FCF 19x–21x masih bisa ditoleransi. Bukti penurunan margin dan konversi kas yang melemah menunjukkan kualitas pertumbuhan laba belum solid. Untuk menjustifikasi harga IDR 134, BOAT harus mampu memperkuat ekuitas, menambah laba bersih sampai empat kali lipat, menjaga CFO margin kembali ke level 20% atau lebih, dan beresin tata kelola. Tanpa itu semua, valuasi yang sekarang lebih mencerminkan ekspektasi optimistis pasar, bukan fundamental yang benar-benar seimbang.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments